CHAPTER 1 - "Refleksi Pertama"

5 0 0
                                        

"Beberapa rasa lahir bukan dari pertemuan, tapi dari percaya."

Maresa Elvano Adhyastra gak nyangka, satu tap di Instagram bisa jadi awal dari hubungan paling rumit dalam hidupnya.

Awalnya cuma iseng like foto sunset di explore.
Caption-nya sederhana:
"Sendiri bukan berarti sepi."
Namanya @d. Feed-nya bersih, estetik, dan penuh dengan puisi pendek yang entah kenapa terasa akrab di hati Maresa.

Gak lama, dia DM.

"Sunset-nya bagus. Tapi yang bikin gue berhenti scroll itu caption lo."

Dan dari situ, semuanya mulai berjalan sendiri.
Balasan datang. Obrolan ngalir.
Mereka mulai saling sapa tiap pagi.
Lama-lama, jadi terbiasa.
Lama-lama, jadi candu.

Sudah delapan bulan sejak pertama kali mereka saling follow.
Caelina Aurelline Valeska — gadis ramping, wajah lembut, suara tenang yang hanya dia dengar dari voice note dan VC malam hari.

Gak pernah ketemu.
Tapi Maresa merasa, Caelina adalah satu-satunya orang yang benar-benar paham caranya berpikir.

"Kita mungkin gak tinggal di kota yang sama," tulis Caelina suatu malam,
"Tapi hati lo gak pernah terasa jauh."

Dan Maresa percaya.

📍 Siang itu, ruang organisasi kreatif kampus — Kreasi Ruang & Rasa — masih riuh.

Orang-orang sibuk dengan laptop, poster, diskusi deadline.
Ada yang ngopi sambil edit, ada yang tiduran di lantai sambil ngerjain coretan visual.

Maresa duduk di pojok ruangan, sendirian.
Baru gabung, dan seperti biasa — gak tahu harus mulai dari mana.

Dia buka laptop, tapi layarnya cuma penuh jendela kosong.
Sesekali lirak-lirik ke sekeliling, berharap ada yang ngajak ngobrol. Tapi nyatanya, semua udah punya dunia masing-masing.

Sampai akhirnya, langkah pelan berhenti di dekat mejanya.

"Lo maresa, ya?"

Dia nengok.
Perempuan tinggi, rambut diikat setengah, clipboard di tangan. Wajahnya tegas, tapi gak galak.

"Gue Vireya. Koordinator tim kreatif."
"Lo yang handle visual utama, ya."

Maresa cuma bisa ngangguk.
Tapi detik berikutnya, dunia terasa goyang sedikit.

Wajah itu.
Tatapan itu.
Senyum setengah miring yang familiar.

Mirip Caelina. Banget.

Tapi beda.
Lebih nyata.
Lebih dekat.

Vireya sempat ngelirik jam tangan, lalu tersenyum sebentar.

"Kalau bingung, cari gue aja."
"Tenang, gue cukup ramah buat anak baru kok."

Dan sebelum Maresa bisa bilang apa-apa,
Vireya udah balik badan —
meninggalkan wangi sabun lembut dan rasa asing di dada.

📱 10:14 PM — Chat Masuk dari Caelina (🌐)

Caelina:
lagi apa?
suara kamu kok ilang hari ini?

Maresa:
tadi abis rapat organisasi.
ketemu orang baru.
dan...

Caelina:
dan?

Maresa:
wajahnya mirip kamu.
banget.

[END OF CHAPTER 1]

Virtual MirrorStories to obsess over. Discover now