L
---
Lorong sepi menelan langkah,
Senyummu hadir di celah mata,
Hati yang tak pernah tahu,
Kini tergelincir dalam sapaan pertama.
---
Hujan pagi itu masih tersisa di ujung atap sekolah, meninggalkan aroma tanah basah yang menenangkan. Ayya menekan tasnya lebih erat ke dada, mencoba menahan rasa gugup yang tiba-tiba muncul. Hari ini, dia harus melewati lorong panjang menuju kelasnya, tapi ada satu hal yang membuat langkahnya terasa berat sekaligus ringan: Arka.
Dia tidak tahu mengapa, tapi setiap kali memikirkan Arka, jantungnya selalu berdetak sedikit lebih cepat. Bukan hanya karena wajahnya yang tampan atau senyum yang menenangkan, tapi karena ada sesuatu yang sulit dijelaskan—sebuah getaran halus yang membuatnya ingin tahu lebih banyak.
Langkah kaki mereka hampir bersamaan di lorong sempit. Ayya menunduk, mencoba menenangkan diri, tapi pandangannya tak sengaja tersentuh oleh sosok itu. Arka, dengan tas selempang kulitnya, berjalan dengan tenang, seakan lorong itu miliknya. Dan saat mata mereka bertemu—sebentar saja—Ayya merasa dunia seolah berhenti.
“Hei…”
Sebuah suara yang lembut tapi jelas memanggil namanya.
Ayya tersentak. Itu bukan Arka yang berbicara, tapi teman sekelasnya yang sedang mencoba menarik perhatiannya. Ia tersenyum canggung, menunduk sebentar sebelum menatap ke arah Arka lagi. Tapi Arka sudah berlalu, meninggalkan lorong yang kini terasa lebih panjang dan hampa.
Di bangku dekat jendela kelas, Ayya duduk sambil membuka diary kecilnya. Tulisannya masih kosong, tapi jari-jarinya sudah gatal ingin menulis. Ia menulis dengan terbata:
"Hari ini aku melihatnya lagi. Matanya… entah kenapa, rasanya menembus jantungku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Haruskah aku menyapanya, atau cukup diam saja?"
Dia menutup diarynya, menahan napas. Bagian aneh dari dirinya ingin menyapa Arka, tapi ada bagian lain yang takut ditolak atau dianggap aneh.
Saat bel berbunyi, langkah kaki mereka terdengar di lorong, dan Arka masuk ke kelas. Ayya menoleh sekilas. Dia tampak tenang, seperti biasa, tapi ada aura yang membuat seluruh kelas seakan ikut tenang saat dia melangkah. Ayya merasakan debar di dadanya, sesuatu yang berbeda dari biasanya.
Guru belum masuk, dan beberapa teman mulai bersuara riuh. Ayya menunduk lagi, mencoba mengalihkan perhatian dari rasa yang tak bisa dijelaskan itu. Tapi matanya tak lepas dari Arka. Dia memperhatikan gerakan halus Arka saat menaruh tas, membetulkan jaket, dan menatap papan tulis. Setiap gerakan terasa seakan disengaja untuknya—padahal tentu saja, itu hanya pikirannya sendiri.
“Kenapa aku selalu memperhatikannya begitu?” gumam Ayya dalam hati. “Padahal aku bahkan belum pernah bicara dengannya.”
Di akhir pelajaran pertama, ada momen kecil yang membuat Ayya tersipu. Saat ia menunduk untuk mengambil pulpen yang jatuh, tangan Arka tanpa sengaja menyentuh tangannya saat mengembalikan buku yang ia pinjam. Sentuhan itu singkat, tapi cukup untuk membuat hati Ayya melonjak, dan wajahnya berubah merah padam.
Selama istirahat, Ayya duduk di bangku luar, mengamati Arka dari jauh. Dia tidak berani mendekat, tapi diam-diam menulis lagi di diarynya:
"Senyumnya… membuatku lupa bernapas. Aku tidak tahu apakah ini hanya rasa kagum, atau sesuatu yang lebih dalam. Tapi aku ingin tahu, siapa dia sebenarnya."
Tiba-tiba, seorang teman menghampirinya. “Ayya, kamu kenapa? Mukamu merah begitu?”
Ayya tersenyum gugup. “Ah… nggak apa-apa, cuma kepanasan, mungkin.”
Tapi hatinya tetap berdebar. Ia tahu, pertemuan pertama itu—meski singkat—telah menanam benih rasa yang tidak akan mudah hilang. Dan entah kenapa, ia berharap ada momen lain di mana ia bisa melihat Arka lagi, bisa berbicara, atau setidaknya tersenyum padanya.
Hari-hari berikutnya, Ayya mulai lebih memperhatikan kehadiran Arka. Ia memperhatikan cara dia tersenyum pada teman-teman, cara dia menulis di papan tulis, dan bahkan cara rambutnya sedikit berantakan di depan telinga. Semua hal kecil itu menimbulkan rasa ingin tahu yang semakin dalam, tapi juga rasa takut akan penolakan.
Dalam diarynya, ia menulis:
"Aku tidak tahu apakah dia akan pernah tahu bahwa aku ada. Tapi melihatnya cukup membuat hari-hariku terasa berbeda. Seolah ada cahaya kecil yang menuntunku dari lorong sekolah yang biasa saja."
Suatu sore, ketika Ayya hendak pulang, ia melihat Arka berdiri di pintu gerbang. Mereka bertemu pandang lagi. Kali ini, Arka mengangguk sebentar, senyumnya ringan tapi penuh makna. Ayya tersenyum malu, menunduk, tapi hatinya melonjak. Itu adalah sapaan pertama yang benar-benar terasa milik mereka sendiri.
Dan sejak saat itu, setiap langkah di lorong sekolah tidak lagi sama. Setiap detik yang lewat, setiap tatapan singkat, dan setiap senyum kecil—semua terasa bermakna. Ayya mulai sadar, pertemuan pertama itu bukan sekadar kebetulan. Itu adalah awal dari sesuatu yang akan mengubah dirinya selamanya.
YOU ARE READING
untuk yang tak pernah berbalik
RomanceAyya tidak pernah menyangka, sketsa yang ia gambar diam-diam tentang seorang pria pendiam di ruang musik akan menjadi awal dari cerita yang mengubah hidupnya. Arka, pria itu, hadir bukan sebagai pahlawan, tapi sebagai seseorang yang diam-diam membua...
