SEANDAINYA diminta menyebutkan satu hal terbaik yang pernah dialaminya, Rayan tidak akan ragu menjawab bahwa dibuang oleh Tante dan omnya adalah berkah yang tidak akan pernah berhenti disyukurinya. Pada hari tersebut, Rayan dipertemukan dengan kakak dan ibu sambungnya yang menyayanginya tanpa syarat. Dari mereka, Rayan akhirnya tahu bagaimana rasanya memiliki keluarga yang terhubung secara emosi.
Tante dan Om yang dikenal Rayan seumur hidup hanya menganggapnya sebagai sumber penghasilan karena mendapatkan uang dari hasil membesarkannya. Dan ketika ayah Rayan yang menjadi penyokong utama perekonomian mereka meninggal dunia, pilihan pertama tante Rayan adalah menyerahkan keponakannya kepada keluarga ayahnya yang tidak pernah dikenal Rayan sebelumnya.
Jangan bertanya tentang ibu kandungnya, karena Rayan hanya mengenal perempuan yang melahirkannya itu dari foto saja. Tidak ada interaksi langsung yang tersimpan dalam memori Rayan. Yang Rayan tahu pasti adalah bahwa ibunya tidak ingin merawatnya dan melimpahkan tanggung jawab itu pada tante Rayan yang bersedia menggantikan peran itu demi uang.
Rayan tidak tahu apakah ibunya masih hidup atau sudah meninggal dunia karena sampai dipaksa keluar dari rumah tantenya saat dia berumur lima belas tahun, Rayan hanya dijejali kalimat, "Ibumu pergi meninggalkanmu karena dia nggak mau dibebani oleh seorang anak. Kamu lahir di luar rencananya. Saat ini, dia mungkin sudah menikah dan bahagia dengan keluarga barunya sehingga nggak mau terhubung dengan keluarganya lagi, termasuk kamu."
Ketika tantenya mengucapkan kalimat itu, Rayan menyadari jika kehadirannya di dunia selalu ditolak. Dia ditolak oleh ibu yang melahirkannya. Dia juga kemudian ditolak oleh Tante dan Om yang membesarkannya. Ayahnya tidak menolaknya, tapi dia bekerja di kapal tanker yang berpusat di Timur Tengah sehingga mereka hanya bisa bertemu sesekali ketika ayahnya pulang ke tanah air.
Sewaktu kecil, Rayan pernah menganggap bahwa Tante dan omnya adalah orangtua kandung yang memilih pola asuh keras dan kasar karena mereka tidak segan menghukum secara verbal dan fisik. Setelah cukup besar, Rayan kemudian tahu bahwa tantenya memang serius saat mengatakan bahwa dia bukan anaknya. Tantenya terpaksa harus mengasuhnya, bukan karena ingin. Keyakinan Rayan tentang orangtua kandungnya akhirnya terkonfirmasi setelah dia bertemu dan mengenal ayahnya.
Stempel sebagai anak yang tidak diinginkan oleh siapa pun melekat erat di benak Rayan, sehingga ketika dia dibawa ke rumah ibu sambungnya yang sama sekali asing, dia sudah menyiapkan diri untuk kembali menerima penolakan.
Tapi ternyata apa yang dibayangkan Rayan sama sekali tidak terjadi. Ibu sambung dan kakaknya sangat peduli padanya. Mereka memastikan bahwa semua kebutuhan Rayan terpenuhi. Ibu sambungnya tidak terlalu sehat. Penyakit ginjal yang diidapnya membuatnya harus berlangganan dengan rumah sakit. Namun, kondisi kesehatannya bukan penghalang untuk menyiapkan makanan, kecuali ketika dia memang benar-benar drop. Tapi ketika hal itu terjadi, kakaknya akan mengambil alih tugas itu. Mereka tidak pernah membiarkan meja makan kosong saat Rayan belum makan.
Ketika Rayan masuk SMA, kakaknya memasukkannya di SMA swasta favorit yang bayarannya mahal, padahal Rayan tahu pasti keadaan ekonomi mereka tidak berlebihan, apalagi dengan kondisi kesehatan ibu sambungnya yang buruk. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Rayan merasakan dirinya menjadi prioritas dalam keluarga. Dia tidak lagi kekurangan uang saku dan mengandalkan bantuan Michael, sahabatnya, untuk membeli makanan atau kebutuhan sekolahnya seperti ketika masih tinggal bersamanya tantenya. Waktu itu, uang jajan jatah dari ayahnya nyaris tidak pernah sampai ke tangannya. Rayan tidak pernah mengadu karena tubuhnya bisa memar dan lebam kalau ayahnya sampai mengonfrontir tantenya. Pengalaman mengajarkan Rayan untuk selalu diam untuk mencegah hukuman dari Om dan tantenya.
Setiap kali teringat ibu sambungnya yang telah berpulang ke pangkuan Tuhan beberapa tahun lalu, hati Rayan masih selalu dihinggapi kesedihan. Beliau adalah satu-satunya orang yang Rayan kenali dan panggil sebagai Mama. Dari beliau, Rayan belajar bahwa keluarga tidak melulu berhubungan dengan ikatan darah. Seseorang layak mendapatkan panggilan "Mama" tidak semata-mata karena telah melahirkan anak. Mencintai itu berasal dari niat dan ketulusan hati, bukan karena memiliki DNA yang sama.
YOU ARE READING
Rayan
RomanceSetelah melalui banyak cobaan di masa kecil dan masa remaja, Rayan akhirnya merasa mapan dengan kehidupan dewasanya. Dia memiliki pekerjaan yang sesuai cita-citanya dengan penghasilan bagus. Semua terasa tenang dan damai. Sayangnya dunia sempurna R...
