"Gimana meetingnya harı ini?" tanya Luna, senyumnya yang cerah menerangi ruangan saat dia meletakkan dua cangkir kopi dengan aroma pekat di meja. Aromanya yang khas memenuhi udara.
"Good, semuanya lancar," balas Alea santai, suaranya terdengar tidak bersemangat. Tanpa menunggu lama, dia meraih secangkir kopi dan menghidunya. Aroma kopi membuatnya sedikit lebih rileks.
"More than good pastinya, kan?" Luna menyenggol pelan tangan Alea, matanya berbinar-binar. Sikap Luna yang mendadak ceria mengejutkan Alea, hampir saja dia tersedak kopi.
"Luna, ini panas!" protes Alea.
"So, ketemu dong sama doi?" Łuną turun dari sofa dan duduk di dekat Alea, matanya menatap Alea tak berkedip.
"Iya," balas Alea, suaranya terdengar lirih seperti berbisik. Meeting hari ini masih menghantuinya, bayang-bayang yang membekas bercampur antara kecemasan dan rasa jengkel.
"Lea sayang cerita dong, gue tuh beneran penasaran sejak tadi siang. Jangan cuma jawab iya atau nggak. Sebagai sahabat dan fans BaLe(Bara dan Alea) garis keras, gue butuh jawaban yang jelas!" seru Luna, matanya terbuka lebar dengan rasa haus yang belum terpuaskan. Dia bahkan menopang dagunya dengan kepalan tangannya menunggu jawaban Alea.
"Lun, please," Alea menghela napas, suaranya terdengar begitu frustasi. " Gue beneran kesel udah nerima projek kali ini tanpa ngecek lebih dulu siapa kliennya. Gue kira yang bernama Bara Dirgantara nggak hanya dia seorang didunia ini," keluh Alea, suaranya terdengar begitu putus asa. Dia menatap cairan pekat di dalam cangkir yang sejak tadi digenggamnya, seolah-olah cairan gelap itu bisa memberikan jawaban atas frustasi yang kian menumpuk.
"Jadi, lo datang tanpa tahu siapa kliennya?" Luna menggelengkan kepala beberapa kali.
"Ya, biasanya atasan gue nggak pernah salah milih klien, jadi gue percaya aja," sahut Alea Sambil menutup laptopnya.
"Rezeki nggak ke mana, cuma nyangkut di mantar pacar aja, hahaha!" ledek Luna.
"Gue mau bikin perhitungan sama Mike! Bisa-bisanya dia senyum pas gue ketemu Bara tadi," gerutu Alea.
"Lah, pacar saya salah apa, Mbak?"
"Diem! Gue kesel sama kalian!" seru Alea. Ia menyambar ponsel di meja lalu melesat masuk ke kamar. Suara bantingan pintu yang keras menandakan si empunya ruangan tidak ingin diganggu.
Luna menatap pintu kamar Alea sejenak, kemudian kembali fokus ke ponselnya. Sebuah pesan muncul, satu nama terlihat dilayar.
CEO Pret : " Tadi gue ketemu Alea. Lo berdua tahu, kan, kalau selama ini dia di Indonesia? Minta dipecat nih berdua."
Luna : "Emang lo berani mecat sahabat Alea? Yakin?"
CEO Pret : "Njirr, bawa-bawa nama Alea, ngancem lo. Pokoknya setelah gue balik dari Singapur, kalian bakal gue sidang."
Luna : "Nyenyenye."
Luna menatap room chat yang kembali sepi. Dua centang biru terlihat, tapi Bara enggan membalas pesan Luna.
" Setelah dua tahun, akhirnya drama dimulai lagi," gumamnya.
***
Pukul 10.00 pagi, Star Entertainment.
Alea terpaku di depan pintu jati yang kokoh itu. Jari-jarinya yang mendingin mengetuk pelan__dua kali. Ia menarik napas dalam, mencoba meredam gemuruh di dadanya. Ini adalah panggung pertamanya di luar zona nyamannya. Biasanya , dia hanya menghadapi wajah-wajah familier, bukan para petinggi industri yang auranya terasa mengintimidasi.
ESTÁS LEYENDO
Dear Alea
Romance''Ini semua belum terlambat, Lea. I still care about you," ucap Bara, berusaha menahan kerinduannya. "Just like you cared when you abandoned me? semuanya ini sia-sia, Bara!"Alea berusaha membela diri, bersusah payah melawan perasaannya sendiri.
