Bab 1: Suara yang Tak Pernah Benar-Benar Hilang

23 4 0
                                        

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

.
.
.

Aku diam. Tenggelam dalam pikiran yang tak bisa kuhalau. Saat malam datang dan kesunyian menggulung pelan-pelan, bayangan itu selalu muncul. Tak pernah benar-benar pergi. Hanya menepi sementara, lalu kembali menuntut tempat di sudut benakku yang gelap.

Malam ini, seperti malam-malam lainnya, aku duduk di tepi ranjang. Cahaya lampu meja menyapu sebagian wajahku, selebihnya tenggelam dalam bayangan. Suara di luar kamar samar, dan angin mendesak masuk dari celah jendela yang terbuka sedikit. Hatiku kosong. Tapi kosong yang tak damai. Kosong yang penuh luka yang tak bisa dijelaskan dengan logika.

Dan seperti biasa, aku mulai tenggelam dalam kenangan. Bukan karena aku mau, tapi karena tubuhku menolak melupakan. Otakku menolak memaafkan.

...

Bunyi pintu dibanting. Keras. Menggetarkan dinding rumah kecil itu.

"Kemana sih orang di rumah ini, ha?!!" suara berat dan mabuk ayahku menggema di seluruh ruang tamu. Bau alkohol menyergap bahkan sebelum ia benar-benar masuk ke dalam.

Ibu berlari dari dapur, napasnya tak teratur. "Maaf... aku... aku nggak tahu jam segini kamu pulang, aku lagi masak, aku lupa taruh kunci di dekat pintu."

Ayah memelototinya. Matanya merah, tangannya mengepal. "Lupa? Lupa?!! Kerjaannya cuma ngelamun aja lu tiap hari! Gimana caranya gue bisa masuk kalau kuncinya gak ada, ha? Harusnya lu siapin, dasar perempuan nggak guna!"

Aku hanya duduk di pojok ruangan. Diam. Tangan kecilku memeluk lutut. Lantai dingin menembus celana tipis yang kupakai.

"mas, jangan teriak, nanti tetangga..." suara Ibu melemah.

Tangan Ayah terangkat, keras menghantam pipi Ibu. Suaranya nyaring. Aku bahkan bisa mendengar napas Ibu terhenti sesaat.

"Biarin! Biar sekalian mereka tahu lu istri bego! Nggak bisa ngelakuin hal kecil kayak jaga rumah!"

Aku tidak bergerak. Tidak menangis. Bahkan tidak berkedip.

Ibu jatuh terduduk, tangannya menahan perut. Aku melihat darah menetes dari ujung bibirnya.

"Kamu... kamu selalu gini tiap mabuk. Aku capek. Aku cuma pengen hidup tenang, tapi kamu... kamu malah terus-terusan kayak begini!"

"Tenang? Hidup sama lu nggak akan pernah tenang!" Ayah menendang kursi di dekatnya. Bunyinya menggelegar, menabrak meja kecil dan menjatuhkan gelas.

Ibu bangkit tertatih. Aku ingin lari ke arahnya. Tapi kakiku seperti membeku. Tubuhku menolak bergerak. Seolah aku tak punya hak untuk mengganggu pertengkaran mereka.

"Liat tuh anak diem aja di sana!" Ayah menunjuk ke arahku, "Dia juga nggak berguna! Sama aja kayak emaknya!"

Aku menunduk. Tenggorokanku tercekat. Bukan karena kata-katanya, tapi karena... aku mulai terbiasa.

Ibu memandangku. Wajahnya hancur, matanya buram oleh luka dan lelah.
"Kalau kamu mau benci, bencilah kami semua."

Ayah menarik rambut Ibu dari belakang.
"Jangan sok jadi ibu yang baik! Semua ini salah lu!!"

"Lepasin! Lepasin aku!" Ibu berteriak.

Aku bangkit, berusaha mendekat. Tapi begitu aku ambil langkah pertama, Ayah menoleh.

"Balik! Duduk sana! Jangan ikut campur kalau nggak mau kena juga!"

Langkahku terhenti. Jantungku berdegup keras. Aku kembali duduk. Meringkuk. Menutup telinga. Tapi tetap mendengar segalanya.

Di lantai bawah, kudengar suara pintu kamar nenek terbuka.

"Sudah! Sudah cukup! Jangan dipukul lagi, sayang! Tolong...!" suara nenek lemah, tapi penuh harap.

Ayah menoleh sebentar, lalu membanting sesuatu di meja. "Jangan ikut campur juga, Bu! Ini urusan gue sama bini gue!"

Ibu terisak, tubuhnya gemetar. Nenek naik perlahan ke lantai atas, langkahnya terseok.

Aku masih di sana. Diam. Tubuhku panas, pipiku dingin, mataku terbakar. Tapi tak ada air mata. Bukan karena kuat. Tapi karena aku tidak tahu caranya menangis.

...

Malam terus berjalan. Pertengkaran usai hanya karena Ayah kelelahan dan tertidur di sofa. Ibu diam di sudut ruangan, menggenggam baju robeknya. Darah di pelipisnya mulai mengering. Nenek membawakan air dan kain basah. Aku diam, duduk di sisi kamar. Menatap langit-langit yang penuh retakan.

Besok pagi, Ayah bangun seolah tidak terjadi apa-apa. Menyapa dengan suara beratnya, duduk sarapan seperti biasa. Ibu tersenyum tipis, menyembunyikan semua luka dengan bedak murah dan diam yang pahit.

Dan aku? Aku tetap anak kecil di pojok ruangan, dengan jiwa yang terasa tua dan berat.

...

Bab ini adalah bagian dari awal yang terlupakan. Tapi untukku, semua ini adalah nadi dari siapa aku sekarang. Luka yang tak berdarah tapi membekas lebih dalam dari pisau mana pun. Aku tidak tahu apakah esok lebih baik. Tapi malam-malam seperti ini, akan selalu hidup di dalam kepalaku.

Dan kau, pembaca, kalau kau membaca ini, mungkin kau juga punya malam-malam seperti milikku. Mungkin tidak sama, tapi rasa hancurnya... mungkin sejenis. Dan aku ingin kau tahu, kau tidak sendiri.

Sampai bertemu di bab berikutnya.

- Selene Lunaria Isabelle

Sunyi Bernama AkuWhere stories live. Discover now