BAB 1
"
Dia Datang dengan Jaket Denim dan Gaya Nyeleneh"
Namaku Nara. Hari itu tanggal 13 Januari 1997. Aku masih ingat, karena itu hari pertama aku pindah ke SMA Merah Putih. Katanya sekolah ini biasa-biasa aja, tapi ternyata ada satu hal—orang, lebih tepatnya—yang bikin semuanya jadi luar biasa.
Namanya Raka. Rambutnya agak gondrong, jaketnya selalu denim, dan dia suka naik sepeda motor tua yang berisik. Kalau bicara, nadanya kayak lagi baca puisi yang belum selesai ditulis.
"Namamu Nara, kan?" katanya waktu pertama kali duduk di sebelahku.
Aku cuma mengangguk. Bingung, dari mana dia tahu.
"Aku Raka. Tapi orang-orang lebih suka manggil aku... ya, Raka juga sih. Nggak ada panggilan keren."
Aku ketawa. Dia nyengir, lalu ngeluarin buku catatan kecil dari saku jaketnya.
"Kau tahu? Aku udah bikin puisi tentang kamu. Tadi malam. Judulnya: Gadis dengan Nama yang Lembut, Tapi Tatapan yang Tajam."
Aku pikir dia bercanda. Tapi dia benar-benar baca puisinya. Di depan kelas. Dan itu... agak memalukan, tapi juga manis.
Sejak saat itu, aku tahu, hari-hariku nggak akan biasa lagi.
BAB 2
"Surat-surat yang Tak Pernah Dikirim"
Sejak hari pertama itu, Raka seperti punya jam khusus buat muncul di hidupku. Kadang pagi-pagi dia udah nongkrong di gerbang sekolah, nyodorin roti cokelat sambil bilang, “Sarapan itu penting, tapi lebih penting kamu sarapan dulu sebelum lihat aku.”
Kadang dia ngasih surat. Kertas binder yang dilipet empat, isinya puisi atau catatan aneh—kadang cuma nanya, “Hari ini kamu senyum buat siapa?”
Aku nggak pernah bales suratnya. Tapi aku simpan semuanya di kotak sepatu di bawah tempat tidur. Sekarang sudah ada tujuh surat. Dan semua masih utuh, belum aku sobek meski kadang aku pengin marah karena dia suka gangguin aku pas upacara.
Raka bukan anak paling pintar di kelas. Tapi dia tahu banyak hal aneh. Seperti tanggal ulang tahun Pak Kusno, guru PPKn, dan juga hafal lagu favoritku dari kaset Sheila on 7 yang waktu itu baru keluar.
“Aku bukan orang baik,” katanya suatu sore pas kita duduk di depan kantin, “Tapi kalau kamu pengin nyoba suka sama orang aneh, aku daftar duluan.”
Aku pura-pura cuek. Tapi jantungku kayak habis lari keliling lapangan tiga kali.
BAB 3
"Geng Sebelah Kantin"
Pagi itu aku ke sekolah lebih awal karena Ibu lupa nulis surat izin buat kemarin. Aku bolos karena sakit, tapi entah kenapa Raka malah lebih heboh daripada wali kelasku sendiri.
“Besok kamu nggak masuk, bilang ya. Biar aku juga nggak masuk. Kita kompak gitu,” katanya kemarin sore lewat surat.
Pas sampai sekolah, aku lihat Raka duduk di meja beton sebelah kantin, tempat biasa anak-anak nongkrong sebelum bel masuk. Kali ini dia nggak sendiri.
Ada tiga orang yang belum aku kenal. Yang satu cerewet banget, ngomong tanpa jeda sambil ngunyah gorengan. Yang satu diam, sibuk benerin kabel di motor Raka. Dan satu lagi... cewek. Rambut pendek, jaket jeans, dan ekspresi muka yang kayak selalu siap ngejek siapa aja.
“Naraaa!” Raka nyamperin aku kayak anak kecil baru nemu mainan. “Ayo, kenalin, ini gengku. Mereka ini... ya gitu deh.”
Yang cerewet langsung berdiri dan nyodorin tangan. “Bimo. Kalau kamu butuh seseorang buat ngomentarin gaya cowok yang nembak kamu, aku ahlinya.”
“Ucup,” kata yang diam, tanpa ngangkat kepala.
“Aku Imas. Cewek satu-satunya di antara mereka yang belum gila. Tapi kadang juga ikutan gila sih,” katanya sambil senyum nakal.
Aku cuma bisa senyum. Rasanya seperti tiba-tiba dilempar ke film komedi.
“Jadi, kamu suka Raka juga?” tanya Imas tiba-tiba.
Aku melotot. “Hah?”
Dia ketawa, Bimo ikut ngakak. Raka malah nyengir dan duduk di sampingku. “Tuh kan, belum juga jawab udah grogi. Ini tanda-tanda awal.”
Sejak hari itu, aku makin sering duduk bareng mereka di meja beton sebelah kantin. Meskipun sering jadi sasaran ledekan, aku juga nggak bisa bohong... aku mulai suka suasana ini.
Dan... mungkin, mulai suka salah satunya juga.
BAB 4
"Kenapa Harus Ada Rega?"
Namanya Rega. Tingginya hampir sama kayak Raka, tapi rambutnya lebih rapi dan bajunya selalu dimasukkan ke dalam celana. Anak OSIS, wakil ketua kelas, jago basket, dan... sayangnya, duduk tepat di belakangku di kelas.
Aku baru pindah seminggu, dan dia sudah dua kali bantuin aku nyari buku perpustakaan. Katanya, “Kalau butuh apa-apa, bilang aja. Aku udah hafal seluk-beluk sekolah ini.”
Sikapnya sopan. Manis. Dan dia selalu panggil aku dengan “Nara” seperti orang dewasa menyebut nama. Beda sama Raka yang kadang nyebut aku “Nar” atau “Kamu yang matanya kayak hujan sore.”
Suatu hari Rega ngajak aku ke perpustakaan sepulang sekolah. Bukan buat baca buku, ternyata. Dia ngasih aku kertas kecil berisi tulisan tangan:
“Boleh aku temani hari-harimu di sini? Sekolah ini jadi lebih hangat sejak kamu datang.”
Aku terdiam. Kertas itu aku lipat rapi, belum sempat aku jawab apa-apa.
Besoknya, Raka nggak muncul di kantin. Biasanya dia yang paling dulu duduk sambil nyemil gorengan, tapi sekarang bahkan Imas dan Bimo bilang dia lagi “ngambek misterius”.
Pas aku tanya ke Ucup, dia cuma bilang pendek, “Raka tahu soal Rega.”
Aku nggak ngerti kenapa itu masalah. Tapi malamnya, aku dapat surat dari Raka. Kali ini nggak lucu. Nggak ada puisi. Isinya cuma satu kalimat:
"Kalau kamu bahagia sama dia, aku akan belajar berhenti berharap."
BAB 5
"Satu Kalimat yang Beratnya Kayak Langit Runtuh"
Aku baca surat itu tiga kali. Di kamar, di kamar mandi, dan... diam-diam di bawah meja waktu pelajaran Biologi. Tapi tetap, rasanya nggak masuk akal.
"Kalau kamu bahagia sama dia, aku akan belajar berhenti berharap."
Bukan Raka kalau tiba-tiba nyerah begitu aja. Biasanya dia yang paling cerewet, paling keras kepala, dan paling... nyebelin, tapi bikin kangen. Tapi kali ini, dia benar-benar nggak muncul. Nggak ada surat, nggak ada suara motornya yang berisik dari gerbang sekolah. Nggak ada ledekan tentang rambutku yang katanya “ngembang kayak kapas habis dijemur”.
Dan anehnya... aku kangen.
Padahal Rega masih ada. Masih duduk di belakangku. Masih suka nyapa sopan, ngajak ngobrol, bahkan sesekali nyodorin permen mint pas aku ngantuk.
Tapi rasa di dadaku beda.
Rega bikin aku nyaman. Tapi Raka... bikin aku hidup.
Dan sekarang, dia hilang. Kayak surat yang belum dikirim dan malah keburu basah kehujanan.
Aku duduk sendirian di kantin. Meja beton kami sepi. Gorengan yang biasanya rebutan sekarang dingin sendiri.
Imas duduk di sebelahku tanpa suara. Lalu setelah beberapa saat, dia cuma bilang, “Kamu boleh deket sama siapa aja, Nar. Tapi jangan pura-pura nggak tahu siapa yang paling dulu peduli.”
Aku nggak jawab. Karena aku tahu, aku lagi dihukum oleh kalimat satu itu. Kalimat yang beratnya kayak langit runtuh....
YOU ARE READING
LANGIT 1997
RomanceLangit 1997 adalah kisah cinta remaja yang tumbuh di antara dinding-dinding sekolah, surat-surat yang ditulis tangan, dan harapan-harapan kecil yang sederhana. Berlatar akhir tahun 90-an di Bandung, novel ini mengikuti perjalanan Nara dan Raka-dua s...
