Sepulang kerja, aku melangkah menyusuri jalanan kota yang ramai. Diselimuti senja yang perlahan turun, sementara deru kendaraan menjadi iringan perjalanan pulang.
"Kamu masih ingat, kan? Kalau aku suka senja?"
Namaku Senjani, panggilan untuk mereka yang dekat denganku. Aku suka senja. Warna dan tenangnya selalu membuatku merasa pulang.
"Kalau nanti kamu rindu, lihat senja, ya? Aku ada di sana."
Tubuhku terasa letih harus membereskan kekacauan di kamar satu per satu. Tanganku hendak menyelipkan setumpuk dokumen ke dalam laci, namun mataku terhenti pada sebuah kotak kecil yang lama tak kusentuh, bahkan nyaris lupa keberadaannya.
Perlahan aku membuka kotak itu dengan rasa penasaran. Sorot mataku berubah menjadi manis dengan senyum yang merekah, melihat potongan cerita dari masa remaja yang telah lama terkubur. Foto polaroid saat di kantin, taman sekolah, lomba, dan kemah. Semua kenangan itu tiba-tiba menyeruak begitu nyata.
YOU ARE READING
In the Quiet of Her Goodbye
Teen FictionDua jiwa yang pernah bersinggungan, dua kali terikat, dua kali terlepas begitu saja. Namun anehnya, kepergian itu tak pernah benar-benar terjadi. Ia datang dan pergi sesuka hati, menghadirkan rindu tanpa janji, menanyakan kabar tanpa arah, seolah ad...
