Awal babak baru

18 0 1
                                        

Aku membuka mataku perlahan. Udara dingin menusuk kulitku, tapi anehnya aku sama sekali tidak merasa sakit. Sekelilingku terbentang hamparan kristal berkilauan, bercahaya seperti jutaan bintang kecil yang tertanam di tanah. Ini... tempat apa ini?

“Apa aku masih bermimpi?” gumamku dalam hati, mencoba duduk. Tapi aku tidak merasa lelah, bahkan tubuhku terasa ringan, hampir seperti tidak punya beban.

"Hei, kau siapa?" suara seorang pria muda dengan rambut pirang muncul dari balik semak. Dia memandangku dengan heran.

"Aku? Hmm... sepertinya aku baru saja terbangun di tempat ini," jawabku santai, mencoba mengenali diriku sendiri. "Tapi siapa aku sebenarnya?"

Suara dalam kepalaku bergema, memecah keheningan.
‘Kenapa kau tidak tahu siapa dirimu?’
Aku tertawa kecil.
“Ya, siapa aku? Tentu saja aku sendiri, bukan?”

Aku bangkit berdiri dan mulai berjalan tanpa tujuan pasti. Di dunia yang tampak asing ini, aku merasa bebas. Bebas dari ikatan, bebas dari aturan.

"Apa yang harus kulakukan sekarang?" tanyaku pada diriku sendiri.
Mungkin mulai dengan mencari sesuatu yang bisa dimakan.’
Aku menatap sekeliling dan melihat buah-buahan berkilau di pohon kristal itu. Aku meraihnya dan menggigit. Rasanya manis, segar. Aneh, tapi enak.

Aku tersenyum. “Kalau begitu, aku petualang bebas, ya. Tidak ada yang mengikat, tidak ada yang mengatur. Hanya aku dan dunia ini.”

Saat aku berjalan, aku mencoba bergerak lebih cepat, berlari, melompat. Rasanya tubuh ini entah bagaimana... berbeda.
‘Kenapa aku merasa begitu kuat?’ pikirku. Tapi aku menggeleng, berusaha mengabaikan rasa itu.

"Kalau aku benar-benar petualang bebas, harusnya aku punya tujuan, bukan?" kataku pada diriku sendiri.
“Hmm, tujuan? Mungkin mencari teman, atau mungkin mencari sesuatu yang menantang.”

Aku tersenyum sendiri sambil menatap langit yang berwarna ungu keemasan.
“Ini awal yang baru. Tidak buruk untuk memulai petualangan.”

Lalu aku berhenti, memandang kedua tanganku.
“Kalau begini, mungkin aku bisa melakukan apa saja, ya? Tapi siapa aku? Dan kenapa aku di sini?”

Suara dalam kepala semakin keras.
Jangan terlalu banyak bertanya. Nikmati saja.’
Aku mengangguk pelan.

Langit mulai memerah seperti terbakar oleh matahari senja ketika aku berjalan melewati sebuah lembah penuh bunga berkilauan. Udara terasa harum, dan tiba-tiba suasana menjadi sangat hening, hampir seperti dunia menahan napas.

Aku berhenti dan menatap ke depan. Sosok itu muncul dari balik kabut, berjalan dengan anggun, bersinar seperti cahaya yang memancar dari dalam dirinya sendiri. Wajahnya lembut dan memancarkan kedamaian yang sulit diungkapkan.

“Siapa kau?” aku bertanya, suaraku sedikit bergetar, tapi aku berusaha terdengar tenang.

Dia tersenyum, seolah sudah tahu pertanyaanku. “Aku adalah Seraphina, penjaga langit dan pembawa harapan di dunia ini.”

Aku mengerutkan dahi, bicara pada diriku sendiri,
‘Dewi surga? Jangan-jangan aku sudah masuk ke cerita dongeng.’

Seraphina menatapku dengan mata bercahaya. “Kau adalah sesuatu yang berbeda. Aku bisa merasakannya.”

Aku mengangkat bahu. “Entah apa aku ini, tapi aku tidak merasa lelah atau terluka. Bahkan saat jatuh tadi, aku bangun seperti tidak terjadi apa-apa.”

“Unik,” katanya sambil tersenyum lembut. “Banyak yang mencari kekuatan seperti itu, tapi tidak tahu bagaimana mengendalikannya.”

Aku tertawa kecil. “Jujur saja, aku juga bingung. Kadang merasa seperti... terlalu kuat untuk dunia ini, tapi tidak tahu harus ke mana.”

Seraphina melangkah mendekat, suaranya seperti angin yang menyejukkan. “Kekuatan bukanlah tujuan, tapi alat. Jangan sampai kau kehilangan dirimu dalam pencarian itu.”

Aku merenung, lalu bertanya, “Kalau begitu, apa yang harus kulakukan sekarang?”

Dia tersenyum penuh arti. “Jalanmu akan terbuka sendiri. Tapi ingat, walau kau merasa tak terkalahkan, hati dan pikiran adalah kunci. Jangan biarkan hawa nafsu menguasai.”

Aku mengangguk pelan, berbicara dalam hati,
‘Hawa nafsu? Seperti membunuh dan menghidupkan? Apa maksudnya? Aku harus hati-hati.’

Seraphina menatapku sekali lagi, lalu perlahan menghilang ke dalam cahaya yang memancar di sekelilingnya, meninggalkanku dalam keheningan yang hangat.

Aku berdiri sendiri, tapi tidak lagi merasa kosong.
“Dewi surga... atau siapa pun dia, mungkin aku tidak sendiri dalam dunia ini,” pikirku.

Aku menatap langit malam yang mulai bertabur bintang dan tersenyum.
“Petualangan ini semakin menarik.”

After ReincarnationWhere stories live. Discover now