Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

Kita?

63 4 0
                                        

Dua tahun lalu. Gue inget banget, malam itu langit Jakarta kayak nyimpen rahasia. Hujan gerimis semakin kencang, lampu jalan buram dan playlist di mobil dia yang lagi muter lagu Mangu. Suara Ari Lesmana kayak ngerti isi kepala gue atau bahkan hati kita berdua.

"Lo yakin, kita gak bisa nyoba sekali lagi?" suara dia nyaris kalah sama wiper yang gesek kaca mobil kesayangannya ity.

Gue diem. Ngelihat ke luar jendela mobilnya yang sedikit ngembun. Di luar, lampu-lampu kota kayak blur. Dia masih nyetir pelan di jalanan SCBD yang sepi. Padahal biasanya macet kayak pikiran gue pas mikirin kita.

"Buat apa? Ending nya gak akan berubah"

Dia noleh. "Tapi kita saling cinta, perasaan kita sama"

Dan disitu, hati gue kayak ditonjok. Karena itu bener. Perasaan kita sama. Kita cinta.

Tapi cinta, ternyata gak cukup buat nyatuin dua orang yang doanya aja gak bisa bareng.

"Kita bisa bohongin dunia, Matt. Tapi gak bisa bohongin Allah" suara gue lirih. Serak. Hampir gak kedengeran. Hati gue sakit banget.

Dia diem. Tangannya masih di setir lalu putar balik mobilnya masuk ke area parkir ÉLYSÉE.

Mobil berhenti tapi mesin tetap menyala. Di luar, langit gelap. Dalam mobil, lebih gelap lagi.

"Gue gak minta lo ninggalin Tuhan lo, Fat" Suaranya pecah. "Gue cuma pengen kita gak usah mikirin semua ini, sebentar lagi aja..."

Gue ketawa pelan. Datar. Sakit.

"Justru karena gue inget Tuhan gue, makanya gue harus berhenti mikirin lo"

Dia noleh. Mata kami ketemu. Dan Ya Allah... tatapan itu bikin gue pengen nyerah. Pengen tinggal. Pengen lupain semuanya.

Tapi gue gak bisa.

Gue tahu dia sayang. Banget. Gue juga. Tapi gimana lo mau bareng kalau tiap hari lo doa ke arah yang beda?

Gimana kalau tiap Ramadhan gue puasa dan dia gak ada buat nemenin sahur?

Gimana kalau nanti punya anak...
Gue mau jawab apa waktu mereka nanya "Kita sholat atau ke gereja, Bun?"

Dia gigit bibir. Gue tahu dia lagi nahan.

"Apa kalau gue mualaf, semua jadi lebih gampang?" tanya dia tiba-tiba.

Jantung gue nyesek.

"Gak sesederhana itu, Matt. Iman bukan jalan pintas. Apalagi buat nyelamatin hubungan yang bahkan dari awal... gak diizinin"

Dia nunduk. Tangannya nutup muka.

"Gue gak pernah sesayang ini sama siapa pun" gumamnya.

Dan gue percaya. Karena gue juga sama.

Tapi cinta doang gak cukup. Bukan buat kita.

"Lo inget gak waktu kita ngopi di Kemang dan gue bilang pengen punya rumah kecil tapi taman belakang yang luas dan juga pelihara dua kucing?"

Dia angguk.

"Gue masih pengen itu. Tapi... bukan sama lo"

Gue sadar kalimat itu kayak tusukan pelan yang lama-lama perih. Tapi gue berharap dia ngerti. Bukan karena gue nyerah. Tapi karena kita harus sama-sama sadar kalau hubungan ini gak punya jalan.

Gue lepas sabuk pengaman, buka pintu. Hujan langsung nyentuh wajah gue, dingin kayak kenyataan yang udah lama kita hindarin. Dia turun juga. Lari kecil nyamperin gue, berhenti di depan gue.

"Ayah lo benci gue, ya?"

"Dia gak benci lo, Matt. Dia cuma takut... anak perempuannya pulang gak utuh"

Dia nutup mata. Satu tetes air turun dari pipinya. Gue gak tahu itu hujan atau air mata. Atau mungkin dua-duanya.

"Kalau suatu hari kita ketemu lagi..." Dia ngebiarin kalimat itu menggantung.

"Gue bakal senyum" potong gue. "Tapi gue gak akan balik"

Dia mengangguk kaku.

"Kalau suatu hari lo nikah..." dia diem lama kaya gak bisa lanjutin omongannya sendiri, dia kaya nahan sesuatu yang mungkin lebih besar lagi keluar dari dirinya.

"Matt.. Lo akan nemu seseorang yang bisa duduk bareng lo di satu altar. Gue cuma... pengen jadi orang yang lo inget aja" Gue ngomong gitu sambil senyum. Pahit. Tapi tulus.

"I'll remember you. Every time it rains in this city"

"I'll remember you too, Gue berdoa biar lo bahagia. Meskipun doanya beda arah"

Dan itu malam terakhir kita. Bukan karena kita gak cinta. Tapi karena kita sadar, sometimes... love is not about staying. It's about letting go with grace.

Gue jalan menjauh. Tanpa pelukan. Tanpa janji. Tanpa kepastian.

Cuma satu hal yang gue tau. Gue pulang.
Bukan ke rumah, bukan ke dia yapi ke diri gue sendiri.

Yang utuh. Meski hampa.

Gue berhentiin taksi pertama yang gue lihat.

"BSD, Pak" suara gue nyaris patah.

Begitu taxi melaju dan kursi belakang jadi ruang sunyi buat gue sendiri, air mata yang dari tadi gue tahan... akhirnya jatuh.

Bukan satu-satu, tapi deras kayak hujan di luar yang gak ada niat reda.

Tangisan gue pecah. Pilu. Sakit. Sendirian.

Gue peluk tas kecil di pangkuan, seolah itu bisa gantiin kehangatan tangan Matthew yang gak akan lagi gue genggam.

Di luar, Jakarta lewat begitu aja. Tapi di dalam hati gue, semuanya berhenti.

Yang tersisa cuma satu suara kecil di kepala gue sendiri:

"Lo udah pilih pulang, Fatma. Tapi kenapa rasanya kayak ninggalin rumah?"

∞∞∞∞

Ada yang relate? Semoga gak. Tapi kalo iya... sini peluk dulu..

Gara-gara lagu Mangu viral, jadi inget mantan niih 😂

Tapi kayaknya emang bener, kadang cinta gak butuh alasan buat datang tapi butuh seribu logika buat ngelepas.

Dan.. jujur aja, nulis ini rasanya kek nyari perkara haha

Kalau kamu nangis pas bagian "aku pulang, tapi kenapa rasanya ninggalin rumah?" yaudah... selamat, kamu juga pernah cinta sebegitunya sama orang yang gak bisa kamu genggam. Welcome to the club 🤗

Karena kadang yang lo pikir rumah sebenernya cuma tempat numpang teduh bentar. Dan setelah semua itu, kita belajar satu hal penting yaituuu

- U can love someone deeply, and still choose yourself completely - ❤️

Pulang Stories to obsess over. Discover now