Kayla Anastasia, gadis dengan rambut yang panjang berwarna hitam itu sedang fokus membaca novel yang ia pegang. Duduk di dekat jendela kamar dengan kursi sebagai tumpuannya.
Manik hitamnya bergerak membaca setiap huruf yang di rangkai menjadi kata-kata yang tersusun rapi. Jemari lentiknya membalik halaman demi halaman yang telah ia baca.
Novel dengan sampul bewarna putih dominan maroon dengan judul Growing love.
Bercerita tentang gadis bernama Larina Wulansih yang sedang berkuliah di universitas ternama di Indonesia. Ia bisa masuk ke universitas tersebut dengan beasiswa yang ia dapat.
Karena jika tidak, keluarganya akan tidak sanggup membiayai kuliahnya. Larina lahir dari keluarga sederhana, dan ia tiga bersaudara dengan ia yang menjadi anak kedua.
Di universitas itu Larina menemukan sang pujaan hati. Daffa Dewangga, sosok tampan yang menjadi kesukaan kaum hawa. Pemuda itu sangat populer di universitas tersebut. Ia juga lahir dari keluarga berada.
Hingga tak sengaja Daffa berjumpa dengan Larina. Dari awal situlah mereka terus terlihat secara bersamaan. Sampai tumbuh benih-benih cinta yang ada.
Namun, perjalanan mereka untuk memulai hubungan juga bukanlah hal mudah. Berbagai rintangan datang silih berganti. Tetapi mereka tetap bertahan untuk terus bersama.
Membuat sosok pemuda yang sudah lama mendambakan Larina menjadi murka. Elvano Sanggara, berpikir bahwa dirinya lah yang sudah lebih dulu kenal dengan Larina. Karena dirinya dan Larina sudah berteman sejak jaman SMA.
Dan disaat melihat kedua insan itu sedang bermesraan ia merasa miliknya di rebut. Dengan pemikirannya itu, Elvano melakukan segala cara agar Larina menjadi miliknya.
Mulai dari mendekati secara halus, memfitnah Daffa berselingkuh, hingga hal nekat di lakukan Elvano, yaitu menculik Larina dan membawanya ke sebuah bangunan yang jauh dari perkotaan juga pedesaan.
Daffa yang mendengar Larina di culik langsung bergegas mencari dengan bantuan teman-temannya dan orang suruhannya. Sampai akhirnya Larina di temukan dengan keadaan kedua kaki dan tangannya di rantai di atas ranjang.
Larina sempat mengalami ganguan mental karena shock tersebut. Dan Elvano langsung di amankan dengan di bawa ke ruangan bawah tanah yang ada di rumah Daffa.
Elvano di beri siksaan oleh orang suruhan Daffa. Hingga Elvano berada di titik menyerah dengan menghembuskan nafas terakhirnya.
Disaat detik-detik terakhir Elvano terlihat menangis secara diam karena dirinya sangat merasa bersalah atas kelakuannya pada Larina. Dirinya ingin sekali melihat wajah gadis itu dan mengucapkan kata maaf. Namun terlambat, dirinya bahkan sudah tidak sanggup untuk bangkit lagi.
Saat itu Larina sempat sedih karena temannya pergi meninggalkan dirinya. Karena Elvano adalah teman pertamanya yang benar-benar mau berteman dengannya.
Daffa hanya bisa menenangkan sang pujaan hatinya itu. Ia juga paham apa yang di rasakan Larina, tapi perbuatan Elvano sudah kelewat batas.
Disaat itu masalah akhirnya mereda, membuat kedua pasangan itu tenang sejenak hingga kedatangan gadis dengan rambut bewarna merah datang mengacaukan hubungan Daffa dan Larina.
Mereka berdua sempat mengalami hubungan yang renggang karena perempuan berambut merah tersebut. Sampai Daffa yang sudah tidak tahan dengan kelakuan perempuan tersebut karena sudah menyentuh sang pujaan hati untuk di celakakan.
Membuat Daffa mengambil tindakan yang nekat dengan menculik perempuan itu dan di sekap di ruangan yang sama dengan Elvano dulu.
Daffa membuat perempuan itu seolah hilang atau di culik hingga tidak ditemukan dimanapun. Daffa kembali mendekati Larina untuk memperbaiki hubungan yang renggang itu.
Larina yang luluh atas usaha Daffa pun akhirnya menyetujui untuk berbaikan dan hubungan mereka semakin hari terlihat mesra dan romantis.
Sampai hari kelulusan mereka berdua memutuskan untuk menikah dengan Daffa yang melamar tepat hari kelulusan tersebut.
Orang tua Daffa yang awalnya menentang hubungan mereka pun akhirnya menyetujui. Karena melihat cinta sang anak yang sungguh besar kepada gadis itu.
***
Kayla menutup novel yang kini ia sudah tamatkan membacanya. Kayla sebenarnya cukup kasihan dengan kedua antagonis tersebut. Cara mereka memang salah, tapi perasaan mereka itu tidak salah.
Mungkin karena terlalu dibutakan oleh rasa, membuat kedua antagonis itu tidak bisa berpikir kedepan dan hanya mementingkan perasaannya.
"Kalau gue bisa masuk ke dalam novel ini, gue bakalan selamatin antagonis itu biar nggak mati sia-sia." Kayla meletakkan novelnya kembali di lemari khusu buku-buku.
Di lemari itu banyak novel yang ia beli dan sudah ia baca, sebagian juga buku tentang pendidikan.
Drtt...
Drtt...
Getaran ponsel diiringi dengan deringan ponsel yang terdengar membuat atensi Kayla teralihkan. Ia lantas berjalan ke arah ranjangnya dan mengambil ponselnya yang ada di atas ranjang tersebut.
Melihat nama yang tertera di atas layar "illyin". Kayla menggeser icon hijau ke atas dan menempelkan ponselnya ke telinga kanan.
"Halo kay! Lo kemana sih? Udah gue tungguin juga di tempat biasa malah nggak datang-datang Lo!"
Kayla sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga karena suara temannya yang terdengar cempreng dan keras.
"Ini gue otw, siapa aja disana?" Kayla melihat jam yang ada di dinding. Terlihat sekarang sudah pukul empat sore. Itu artinya Kayla menghabiskan 2 jam hanya untuk membaca novel.
"Banyaklah, pokoknya lo cepetan kesini!"
"Iya, gue kesana." Kayla langsung mematikan sambungannya sepihak. Ia meletakkan ponselnya kembali ke atas ranjang dan bersiap-siap untuk pergi.
Ctek!
Bunyi dari kunci pintu yang kini sudah tertutup rapat terdengar setelah Kayla mengunci pintu kostnya.
Kayla langsung saja menaiki motor maticnya dengan ia yang sudah siap memakai Hoodie dan helmnya yang bewarna hitam. Kayla menghidupkan mesin motornya dan pergi meninggalkan kostnya.
Selama dalam perjalanan Kayla bersenandung kecil. Saat ada lampu merah, Kayla menghentikan motornya dan menunggu lampu tersebut berah menjadi hijau.
Namun saat tengah menunggu dengan melihat keadaan sekitar. Tiba-tiba saja dari arah belakang Kayla tertabrak mobil sport bewarna hitam. Hingga dirinya terseret sejauh 60m.
Pengendara yang ada di sekitar tempat langsung berteriak histeris. Sebagian pengendara motor laki-laki langsung turun untuk melihat kondisi Kayla yang sudah berlumuran darah mulai dari kepala, mulut, tangan, bahkan kakinya.
Kayla merasa dunianya berhenti sejenak dengan ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Membuat Kayla berpikir apakah memang ini sudah saatnya? Saatnya ia pergi meninggalkan dunianya.
Kayla beberapa kali mengedipkan matanya secara perlahan seraya mengambil pasokan pernapasan yang mulai menipis. Dengan pandangan yang buram ia melihat orang mengerubungi dirinya.
Kayla sudah tidak terlalu jelas mendengar apa yang terjadi disekitarnya, karena kupingnya berdengung nyaring.
Kayla juga tidak sempat untuk kaget karena dirinya yang di tabrak dari belakang secara tiba-tiba. Kayla sudah tidak kuat lagi, padahal Kayla sangat ingin bertemu dengan sahabat dan teman-temannya.
Tapi takdir berkata lain, Kayla gadis yang baru berusia 19 tahun itu menghembuskan nafas terakhirnya di usianya yang masih muda.
YOU ARE READING
Kayora Transmigrasi [on going]
Teen FictionKayla Anastasia, gadis lulusan SMK jurusan teknik mesin meninggal dunia di usianya yang masih muda. Kayla mengira itu menjadi hari terakhirnya, ternyata ia salah. Jiwanya malah memasuki raga seorang gadis dengan status mahasiswi yang usianya bahkan...
![Kayora Transmigrasi [on going]](https://img.wattpad.com/cover/394487088-64-k696877.jpg)