We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Pena Cia: GELORA DALAM ASA

10 1 0
                                        

Detak jantung terus berlantun, langkah kaki tetap kuterpadu. Dalam lembar warna kehidupan, angan yang terpendam kan terwujud. Cita-cita yang tinggi kan terus kugapai dengan usaha dan ketulusan hati. Itulah arti dari mencintai diri sendiri.

Kala sang fajar menampakkan binarnya. Iringan kicauan merdu nan senada ciptakan harmonisnya semesta. Dayuhan manja samirana buatku terlena seraya berujar Tuhan Maha Asyik dengan segala cipta-NYA.

*********

Kisahku bermula ketika aku masih duduk di bangku perkuliahan.


Aku adalah mahasiswi semester lima, program studi linguistik dan literatur. Usiaku dua puluh tiga tahun, berperawakan kurus, tinggi, berambut panjang, bermata sipit, berkaca mata, suka membaca buku novel, suka menulis, dan cukup supel. Valleri Anastassia dan akrab disapa Cia. Aku aktif mengikuti beberapa UKM di kampus salah satunya musik, teater, dan broadcasting.

Di kampus, aku memiliki sahabat bernama Freya. Ia adalah sahabatku yang sangat baik dan sangat peduli. Meskipun sesekali ia agak menyebalkan, tetapi aku sangat menyayanginya.
Di GP 05, kali pertama aku bertemu dan mengenal sosok laki-laki berperawakan tinggi, besar,
berkacamata, putih, supel, dan ramah. Fernando Gabriel. Ia adalah mahasiswa semester tujuh,
program studi Bahasa Inggris. Ia cukup famous di kalangan kaum hawa. Bagaimana tidak famous, selain ganteng, ramah, pandai bermusik, ia juga cukup piawai di bidang olahraga voli. Beberapa kesempatan, kami berdua selalu bersama untuk mengerjakan proker atau mengurusi ajang lomba maupun event tertentu di kampus.


Tak ayal, apabila kami selalu menjadi trendsetter dan perbincangan seluruh anak kampus. Mau heran, tetapi inilah fenomen kehidupan kampus. Sebenarnya risih, akan tetapi aku harus bersikap cuek dan memilih untuk tidak peduli saja. Toh, aku dan EL memang tidak ada hubungan yang spesial.

Kami hanya teman kuliah dan tidak lebih. Kalau ditanggepin pasti akan menjadi polemik yang tidak berkesudahan. Kami tidak bisa menyalahkan mereka. Yang terpenting dalam hidupku, aku tidak pernah melakukan tidakan melanggar hukum itu saja.


Saat aku di kampus, aku selalu diganggu oleh dua mahasiswi yang sangat usil dan sok berkuasa. Mereka adalah Nindiya dan Sandra. Nindiya dan Sandra. Mereka berdua adalah mahasiswi semester tujuh dari program studi Bahasa Inggris. Nindiya adalah teman satu kelas dengan Gabriel. Ia dikenal manja, selalu berperilaku seenaknya, suka ngatur, dan sangat menyukai Gabriel. Sandra adalah sahabat dekat Nindiya. Orangnya suka ikut-ikutan, kepoan, dan selalu jadi pesuruh Nindiya. Karena ia juga tidak berani untuk melawan sahabatnya itu. Hingga suatu ketika langkahku terpaksa tersendat oleh keisengan beberapa orang.

"Eh, kamu! Aku peringatkan padamu Cia! Kamu tidak boleh mendekati EL! Dia punyaku! Pahamkan!" ujar Nindiya setengah mengancam.
"Apaan sih! Heran. Siapa juga yang ingin mendekati pangeran kodokmu. Sudah sana, minggir!
Aku hendak masuk ke kelas!" sahutku kesal.
"Eeeehhh.... Ngelunjak kamu ya! Kamu tidak tahu Nindiya itu siapa hah?! Cepat kamu minta maaf padanya!" sahut Sandra.
"Laahh....memangnya aku salah apa?! Lagipula aku tidak peduli akan hal itu. Awas minggir!"
tandasku sembari meninggalkan mereka.

Aku melihat ekspresi keduanya sangat jengkel kepadaku. Aku pun mempercepat langkahku menuju kelas agar tidak terlambat. Sesampainya di kelas, aku duduk di deret kursi depan sebelah kanan. Kemudian, datanglah Freya sahabatku sembari menanyaiku dengan gayanya yang khas.

"Heh, Ci. Kamu kenapa kok mukamu ditekuk gitu? Sudah mirip dengan dompet akhir bulan.
Ha...ha...ha... Kenapa? Cerita saja" tanyanya seraya tertawa.
"Bagaimana mukaku tidak seperti dompet akhir bulan, sedangkan tadi ada accident yang sangat menyebalkan" jelasku.
"Lah kok...." Sahutnya.
"Sebelum aku sampai di kelas, aku dihadang oleh duo annoying yakni Nindiya dan Sandra" jelasku.
"Laaahhh.... Kok bisa?! Kenapa sih?!" tanyanya.
"Nindiya memarahiku dan mengancamku. Kalau aku tidak boleh conversation bahkan mendekati pangeran kodoknya" sahutku kesal.
"Ha...ha...ha... Astaga.... Ha... ha.... Aku pikir kenapa eeehhhh....ternyata masalah pangeran
kodok" sahutnya setengah menggoda dan agak mengejekku.
"Tahu tuh. Nggak jelas banget!" tandasku.
"Ya sudah, tidak perlu dipikir! Tidak penting sekali" sahutnya.
"Huuuuuhhhh..... Okay. Eh iya, Frey nanti anterin aku ke perpustakaan ya. Aku ingin healing. Siapa tahu aku menemukan satu buku yang ciamik" ajakku.
"Bereeeeesssss. Kebetulan aku juga sedang mencari seri bacaan novel Tere Liye yang baru"
sahutnya.
"Siiippppp" tandasku.

Pena Cia: Gelora dalam AsaStories to obsess over. Discover now