𖦤Serenade Playlist
▶︎ •၊၊||၊|။||||။၊|•
Bertaut - Nadin Amizah
Pagi baru saja menemukan bentuknya yang paling sempurna. Ketika mentari menggantung rendah di ufuk timur, menumpahkan cahaya keemasan di sela-sela flamboyan yang berjajar sepanjang pagar Nietzsche High School.
Di balik gerbang besi yang kini terkunci rapat, para siswa telah kembali larut dalam aktivitas yang nyaris tak pernah berubah setiap harinya. Suara guru mulai memenuhi ruang kelas, langkah kaki yang berlomba di koridor perlahan menghilang, dan sekolah kembali tenggelam dalam ritmenya yang teratur.
Namun, setiap keteraturan selalu menyimpan satu pengecualian. Pagi ini, pengecualian itu datang bersama deru sebuah motor yang memecah keheningan. Ia melambat, sebelum berhenti tepat di depan gerbang yang tertutup rapat.
Pengendaranya yang membawa tas gitar hitam telah tergantung di punggungnya mematikan mesin dengan tenang lalu melepas helm full facenya.
Namanya Kaelan Putra Pradipta.
Di sekolah ini, Kael seakan hidup dalam irama yang berbeda dari orang lain. Seakan keterlambatan hanyalah jeda kecil dalam rutinitas, bukan kesalahan yang perlu disesali.
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. "Pagi, Pak Baron yang selalu ganteng."
Satpam yang berdiri di balik gerbang menoleh. Tatapannya bergantian antara wajah Kael dan arloji di pergelangan tangannya sebelum kembali menatap lurus.
"Nggak usah merayu saya," katanya datar. "Saya laki-laki tulen. Sudah punya istri pula."
"Ayolah, Pak. Buka gerbangnya. Saya cuma telat dikit. Dunia juga belum kiamat."
"Kalau semua siswa berpikir begitu, sekolah ini tidak akan pernah mulai tepat waktu," sahut Pak Baron, tetap pada pendiriannya.
"Tapi saya cuma seorang diri."
"Itu sebabnya saya cuma sedang berbicara denganmu."
Kekehan pendek lolos dari bibir Kael. Setelah menurunkan standar motornya, ia tetap duduk santai di atas jok, kedua tangannya bertumpu pada setang.
"Ayolah, Pak. Cuma telat lima belas menit doang."
Pak Baron mengembuskan napas panjang, seperti seseorang yang telah terlalu sering mengulang percakapan yang sama kepada orang yang sama.
"Kael."
"Iya, Pak?"
"Tahu kenapa lima belas menit tetap dianggap terlambat?"
Kael menggeleng pelan.
"Karena dalam lima belas menit seseorang bisa kehilangan pelajaran." lanjut Pak Baron.
Kael mengangguk mantap. "Saya setuju."
"Dan dalam lima belas menit, seseorang juga bisa menjadi pribadi yang lebih baik." Pak Baron berhenti sejenak. "Sayangnya, dari lima belas menit itu, kamu cuma kebagian buruknya."
Kael berkedip pelan. "...Pak, itu personal."
Untuk pertama kalinya, sudut bibir Pak Baron terangkat tipis. Sudah menjadi semacam kebiasaan; setiap kali Kael terlambat, selalu ada kepuasan tersendiri ketika ia bisa memberi bocah itu sedikit pelajaran.
"Kalau kenyataan terasa menyakitkan, berarti kamu memang perlu mendengarnya."
Kael mengembuskan napas dramatis. "Baiklah, negosiasi terakhir, Pak."
YOU ARE READING
Serenade With You
RomanceKonon, serenade adalah lagu yang dimainkan untuk seseorang yang paling berarti. Namun, bagaimana jika lagu itu justru menjadi lagu perpisahan? Kael meninggalkan rumah dengan satu keyakinan: selama ia masih bisa memainkan gitarnya, tak ada mimpi yang...
