CEO Aneh & Gadis Jembatan Sunrise

33 1 1
                                        

"Ayah ... Kakak capek. Kakak mau peluk Ayah," lirih gadis yang tengah duduk di bangku pinggir sungai. Untuk ke sekian kalinya dia menangisi semua permasalahan hidupnya. Senyum indahnya memudar, tidak ada lagi senyuman hangat di bibirnya. Mata teduh tempat bagi siapa saja singgah itu berubah menjadi kosong.

"A-ayah c-capek. Kakak capek. Kakak enggak mau di sini. Ayah ...." Buliran air mata perlahan jatuh membasahi pipinya. Tangannya memeluk tubuh yang terbalut kemeja kebesaran berwarna cokelat. Udara dini hari sangat dingin.

"Kenapa semua ada padaku? Tuhan, Kau pikir aku sanggup menanggung semuanya? Aku ingin mengakhiri ini sekarang," lirih gadis berkerudung cokelat, sembari mendongakkan kepalanya menghadap langit yang bertaburan bintang. Air mata mengalir membasahi pipinya. Tangannya tidak henti memukul dada berharap rasa sesak ini berakhir.

Di ujung sana terlihat jembatan panjang penghubung desa yang satu dan yang lainnya. Seorang pengendara motor menangkap perempuan tengah duduk menghadap sungai. Dirinya hanya ingin memastikan penglihatannya benar atau tidak.

Motor matic Scorpuh berhenti dua puluh meter dari objeknya. Pengendara itu menghela napas lega. Ternyata bukan hantu. Dia memarkirkan motornya, lalu berjalan menuju perempuan yang sepertinya sedang menangis.

"Hei," panggil pengendara motor matic tadi.

Perempuan itu membalikkan badan. Dia menutup wajahnya dengan jilbab cokelat yang dikenakannya.

"Are you oke?" tanya si pengendara motor.

Angguknya cepat sebagai jawaban. Namun, sorot mata perempuan di hadapannya tidak dapat berbohong.

"Boleh saya duduk?" Pengendara motor tidak tega meninggalkan gadis di hadapannya dengan keadaan seperti ini. Jalan belum terlalu ramai, langit masih gelap. Apa yang membuat gadis ini memilih duduk dan menangis di pinggir sungai? Pengendara motor bergidik ngeri, jangan sampai dia mendengar kabar gadis bunuh diri dengan melompat dari jembatan.

"Ngapain? Kakak siapa?" Gadis itu menghapus jejak air matanya. Tatapannya menelisik sang pengendara motor.

"Saya Amira. Saya enggak sengaja tadi lihat kamu dari jembatan," ujar Amira menunjuk jembatan di seberang sana. Pandangan gadis itu mengikuti jari telunjuk Amira mengarah. Sepersekian detik gadis tadi kembali menatap Amira datar. Apa ada yang salah dengan penampilan Amira? Amira baru pulang dari rumah temannya, Eby. Dia masih mengenakan celana training hitam, kaos besar hijau stabilo serta sendal jepit tidak lupa kaos kaki kuning minions. Amira tidak terlalu peduli dengan penampilannya. Asal nyaman, langsung gas.

"Ah, eum ... saya mau join, barangkali kamu butuh teman ngobrol. Enggak baik anak gadis di luar sendirian jam segini." Amira mendudukkan tubuhnya di samping gadis yang belum dia ketahui namanya, setelah gadis itu bergeser ke kiri. Seperti memberi ruang agar Amira duduk.

"Dari jam berapa kamu duduk di sini?" tanya Amira membuka percakapan.

"Jam tiga tadi," jawabnya tanpa melihat ke arah Amira.

Tatapan terkejut tercetak jelas di wajah Amira. "Ham tiga! Ngapain di sini?" tanya Amira lagi, "eh, sebelumnya nama kamu siapa? Kalau boleh tahu?" Amira melihat gelagat tubuh gadis yang duduk di sampingnya terlihat gelisah,

"Qyara," gumam gadis itu hampir tidak dapat di dengar Amira, "lagi pengen hirup udara pagi. Sekalian liat sunrise," Jelas Qyara tanpa memandang lawan bicaranya. Matanya kel menatap langit hitam bertabur bintang dan bulan.

Semilir angin menghempas rambut hitam sebahu Amira. "Sunrise bagus dari gunung atau puncak bukit. Gak ada lawan sih. Udah pernah lihat dari atas gunung belum?"

Qyara menggeleng, "Belum," balasnya.

"Budget or parents?" Mengapa Amira menanyakan kedua hal itu. Menurutnya masuk akal, bisa jadi orang tidak mengeksploitasikan keinginannya karena tersendat uang, lain orang tua itu penting ke mana pun melangkah, pendapat Amira seperti itu.

"Hmm," gumam Qyara.

Amira mengangguk hikmat. Tidak salah tebakan Amira.

"Lagian ini udah hampir mirip. Depan hutan, jembatan itu anggap aja bukit. Matahari akan muncul dari sana," tunjuk Qyara ke arah barat mereka duduk.

Amira terkekeh geli. "Beda, heh. Vibes alamnya beda Mentang-mentang di depan ladang, hahaha." Tawa Amira pecah. Memang benar di depan mereka duduk banyak tumbuhan. Tidak sepenuhnya liar, ada pohon pisang, pohon jambu, dan sepetak lahan yang sepertinya di rawat pemiliknya. "Humormu sangat di bawah, Kia." Tawa Amira belum mereda. Perutnya sakit.

"Bilangin diri sendiri?" sindir Qyara. Tangan Amira yang lepas memukul lengan Qyara pelan.

"Aduh! Sorry, saya kurang asupan. Ekhem!" Dehaman dari tenggorokan Amira. "Mau nanya boleh?" Setelah tawanya mereda, Amira mencoba mencari topik agar tidak sunyi.

"Silakan," balas Qyara.

"Kamu enggak kabur dari rumah "kan?"

Qyara menatap aneh pada perempuan di sebelahnya. Waktu bersantainya hilang setelah kedatangan perempuan aneh berkaos kaki minions tersebut. Rencananya dia ingin menangis hingga matahari muncul, lalu kembali ke rumah berjalan kaki seperti tadi dirinya sampai di sini. Sekarang perempuan itu mengajukan pertanyaan yang .... Qyara ingin berkata kasar.

"Aku enggak kabur. Hampir mikir untuk kabur. Tapi, aku harus mikirin kedua adik aku di rumah, Gak mungkin aku ajak mereka untuk kabur dari rumah, sementara aku belum ada pekerjaan." Netra Qyara dan Amira bertemu. Sesaat Amira kembali menyelami mata bulat coklat gelap milik gadis yang sedang memasang tembok tinggi agar tidak ada seorang pun bisa menembus pertahanannya.

Amira tersenyum lembut. "Kalau mau kabur, enggak apa, kok. Saya ada tempat penampungan," celetuk Amira yang langsung mendapat tatapan tajam dari Qyara. "M-maksud saya, rumah singgah gitu. Orang tua kamu masih lengkap tanya Amira dibalas anggukan.

"Nah, rumah singgah ini bisa untuk anak yatim platu, anak broken home, anak yang kabur dari rumah kayak kamu." Lagi, Amira mendapat tatapan tajam, "Sorry, sorry, hahaha Kalau kamu mau, biar saya anterin ke sana. Soal kerjaan, di dalam sana kamu bisa kerja, kok, tetap di gaji per bulannya," lanjut Amira dengan niat baik. Tidak dengan pemikiran gadis yang sedang menahan kesal pada Amira.

"Aku tidak kabur! Aku juga enggak butuh rumah singgah atau apa pun itu. Aku masih punya rumah untuk pulang, keluarga aku masih utuh. Lebih baik Anda diam!" sentak Qyara menggebu. Perempuan di hadapannya sudah kelewat batas.

Amira tersenyum, "Adik kecil," panggil Amira, "tidak semua rumah bisa dijadikan tempat berteduh. Ada beberapa rumah yang tidak bisa kamu pijak bagian dalamnya. Jangankan masuk, sekadar berteduh saja kamu tidak sudi."

"Saya tidak bilang keluarga kamu hancur atau tidak utuh," lanjut Amira, "saya mau kamu berpikir untuk ke depannya. Kalau kamu merasa itu rumah kamu, pulanglah Istirahatkan tubuh dan pikiran kamu. Rumah lebih tenang daripada di luar yang penuh kebisingan omongan orang." Senyum Amira memudar. Dia merogoh kantong celananya.

"Ambil," pinta Amira tidak di tanggapi. Amira menarik tangan Qyara. "Selain pemarah kamu juga keras kepala," ucap Amira tertawa, "hubungi saya kalau kamu butuh pekerjaan. Enggak usah pikirkan rumah singgahnya. Pikirkan saja gajinya yang besar. Saya pulang dulu," pamit Amira berjalan menuju motornya.

Qyara menatap kartu nama berwarna ungu pekat, tulisan namanya bertintakan emas.

Amira Syah Azraine – CEO of Azraine Co

Qyara menutup mulutnya. Matanya menatap kepergian Amira yang mulai menghilang.

"A-apa aku terlalu kasar tadi?" Qyara masih tidak percaya yang barusan saja terjadi.

Azraine Co. Qyara sangat tahu tentang perusahaan itu. Pernah dia mencoba melempar lamaran ke sana. Namun, belum ada panggilan lebih lanjut. Azraine Co, selain tes masuk kerja di sana sangatlah susah, perusahaan yang baru berdiri dua tahun lalu itu mampu menyaingi perusahaan raksasa lainnya di bidang seni.

Qyara ingat, pemilik Azraine Co pelukis amatir dengan segala kehokiannya mampu menembus pasar internasional dengan penjualan miliaran rupiah dalam waktu setengah tahun. Satu yang tidak pernah Qyara lupa, pemilik Azraine Co, perempuan segudang keanehan, baik dalam bicara, penampilan serta selera humornya yang rendah dan sudah Qyara buktikan sepuluh menit yang lalu.

***


You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 13, 2025 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Imperfect LifeStories to obsess over. Discover now