Semester dua kelas sebelas.
"Gimana Shinyu? Kamu mau kan? Gak susah kok, bapak cuma ingin kamu bantu Jihoon biar setidaknya nilai dia semester ini cukup untuk kenaikan kelas." Ujar wali kelasnya.
Shinyu hanya memandang kedepan dengan datar. Menurut dirinya, mengajar sosok seperti Jihoon hanya akan membuang buang waktu. Sejauh yang Shinyu tau tentang Jihoon adalah semua keburukan laki laki itu. Jihoon yang nakal lah, Jihoon yang berisik lah, bahkan Jihoon yang pemalas juga tidak pintar dalam pelajaran pun dirinya tau tentang hal itu.
Intinya, mengajar Jihoon hanya akan membuat semester yang seharusnya bisa Shinyu nikmati dengan tenang akan berantakan, dan Shinyu tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.
"Maaf Pak, saya pikir bapak lebih baik cari siswa yang lebih pintar dan lebih memumpuni untuk mengajar pak." Tolak Shinyu tanpa pikir panjang.
"Justru menurut bapak, dan menurut semua guru disini, kamu lah sosok yang pintar dan memumpuni itu Shinyu, kalau bukan kamu memang siapa lagi?" Tanya wali kelasnya.
"Mungkin Youngjae? Saya yakin Youngjae lebih bisa dan lebih pas untuk mengajar Jihoon pak." Usul Shinyu.
"Bapak mohon Shinyu, memang kamu tidak akan dapat apa apa jika mengajar Jihoon tapi apa kamu tidak mau melihat teman sekelasmu itu naik kelas?"
Teman? Shinyu pikir mereka tidak seakrab itu sampai Shinyu harus peduli sebegitunya.
"Atau begini saja, kalau kamu setuju bantu Jihoon untuk menaikkan nilai nya, bapak juga akan setuju menjadi pembina ekskul kamu. Ekskul kamu butuh pembina yang baru kan?" Akhirnya Wonwoo- wali kelas Shinyu membuat kesepakatan.
"Gimana Shinyu? Kamu setuju tidak?" Tanya Wonwoo sekali lagi.
***
Katakan Shinyu gila karena memang begitu adanya. Hanya demi ekskul nya yang membutuhkan pembina baru-dikarenakan posisi itu sudah lama tidak ada yang mengisi. Dirinya malah menyetujui hal tersebut.
Menghela napas. Shinyu hanya berharap Jihoon bisa berkoordinasi dengan baik dengan dirinya. Sehingga Shinyu tidak perlu repot repot meladeninya.
Shinyu masuk ke ruang kelas yang disambut dengan kebisingan teman temannya. Dia melangkah menuju kursi pojok belakang dekat dengan jendela dengan langkah mantap.
Shinyu mengetuk meja didepan dia tiga kali. Menunggu seseorang yang kini sedang tertidur itu untuk bangun dan mulai mengerjakan kewajibannya.
Jihoon melenguh, mata nya yang tertutup poni mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya. Melihat kesamping, dirinya malah dibuat terkejut atas kehadiran teman sekelasnya yang sama sekali tidak pernah berinteraksi dengan nya.
Jihoon mengernyit. "Shinyu..? Ada apa? Gue gak punya pulpen lebih kalau lo mau pinjam." Ujarnya.
Wajar saja Jihoon berbicara seperti itu, karena selain untuk meminjam barang tidak ada lagi alasan lain bagi Shinyu untuk menghampiri nya. Mengobrol? Tidak mungkin, mereka bukan teman.
"Sepulang sekolah jangan langsung pulang dulu. Lo ada les sama gue atas perintah Pak Wonwoo." Setelah mengucapkan itu Shinyu langsung beranjak pergi menuju bangkunya meninggalkan Jihoon yang melongo berusaha mencerna ucapannya barusan.
Setelah melihat Shinyu yang kini sudah duduk manis di bangku nya. Jihoon hanya bisa mengacak ngacak rambutnya pasrah sembari meringis. Ingin rasanya dia menangis meraung dihadapan Pak Wonwoo karena dengan teganya menyatukan dia dengan Shinyu yang terkenal galak dalam mengajar.
Liat saja nanti Pak Wonwoo, Jihoon akan lebih memberontak dari sebelumnya.
***
Halo semua.... Aku tuh naksir banget sama Jihoon karena senyum nya Jihoon yang menurut aku manis banget! Aku juga suka interaksi Jihoon sama member yang lucu, jadi aku mutusin buat bikin cerita ini gitu.... Ini cerita pertama aku jadi maaf kalau masih banyak kesalahan, semoga Sai bisa suka ya!
YOU ARE READING
Classmate
Teen FictionJihoon dan Shinyu itu gak bisa disatuin. Jihoon yang berisik juga pemalas dan Shinyu yang kalem juga rajin. Mereka kayak suatu kesatuan yang gak bisa nyatu. Tapi, gimana jadinya kalau justru mereka berdua harus menghabiskan separuh tahun bersama ata...
