Di nirvana ada dua jenis sihir saling bertentangan, sihir putih dan sihir hitam, keduanya tidak pernah akur dan selalu saja terlibat dalam pertengkaran, karena hal itu pemimpin negeri nirvana, peri alam meminta bantuan para penghuni nirvana untuk selalu mendamaikan para penyihir, tapi walapun sudah ditengahi kedua aliran penyihir itu selalu saja berselisih, bahkan pagi ini seorang gadis yang diketahui adalah penyihir hitam sudah berdebat hebat dengan pemuda dari penyihir putih, membuat suasana toko yang mereka datangi menjadi tegang.
"Maaf ananda aryu, den bahtara sudah lebih dulu memesan goblin kuping lebar ini, jadi aku tidak bisa memberikannya padamu, aku mohon kau mengerti...."
"Dia memang lebih dulu memesan tapi aku yang lebih dulu datang melihatnya, apa kau tidak mau memberinya begitu saja? Apa aku harus memakai kekerasan padamu?!"
Aryu gadis dengan mata bulat itu menarik kerah penjaga toko sihir dihadapannya, membuat penjaga toko itu beringsut takut tapi kemudian dia melepaskan genggamannya, aryu menyadari goblin kecil disamping penjaga toko itu menatapnya dengan horor, goblin itu ternyata takut dengan perbuatannya.
"Oohhh tidak tidak, aku tidak akan menyakitimu, asalkan kau mau ikut denganku, aku akan memberimu kodok paling enak goblin kecil, kemari...aku ingin menyentuhmu..."
"Lepaskan tanganmu itu dari barang milikku gadis suram!! Jika kau melakukan hal lebih lagi, aku akan memenggal tanganmu!"
"Oh jadi kau yang bernama bah itu ya? Kau ingin goblin mungil ini? Kau ingin milikku?"
"Hahahah penyihir hitam memang sangat tidak tau malu ya? Hei...sebelum kau mengatakan dia milikmu, kau harus tau kalau dia sudah disumpah atau belum..."
"Hah dia sudah disumpah?"
Aryu membolakan matanya, dirinya menatap penjaga toko itu yang hanya dibalas dengan anggukan yakin, gadis itu memperhatikan telinga lebar goblin kecil didepannya, terlihat tatto bergambar burung phoenix, gambar kepemilikan sah dari penyihir putih.
"Maafkan aku ananda aryu kau harus merelakan goblin ini, aku akan menyiapkannya untuk dibawa..."
Aryu menatap kesal sementara penjaga toko tetap melakukan tugasnya, kali ini gadis itu tidak bisa melakukan apapun, tapi dia tidak bergeming dari tempatnya berdiri, bahtara yang melihat itu merasa janggal, pemuda itu memasang sebuah sihir untuk mengetahui apa yang ada dibalik gadis itu, tapi dia tidak bisa menembusnya, bahtara tidak bisa membaca aryu.
"Apa semua penyihir putih seperti ini?"
"Apa maksudmu?"
"Memiliki apapun dengan mudah bahkan tidak pernah mendapatkan masalah."
"Tidak perlu meributkan sesuatu yang sudah jelas, apa kau lupa kau itu siapa?"
"Menyebalkan, aku akan mengingat hari ini, kau....aku akan mengutukmu!"
"Ananda aryu anda tidak boleh mengutuk seseorang, kau bisa terkena masalah..."
Penjaga toko berusaha menengahi kedua penyihir itu, terlihat dari wajahnya dia sudah lelah dengan apa yang terjadi, bahtara yang mendengar perkataan aryu, tersenyum miring mendekat pada gadis itu, membuat aryu semakin meradang tapi disaat bersamaan bahtara baru menyadari sesuatu, aryu tidak memiliki wajah khas penyihir hitam, aryu sama sekali tidak menyeramkan, gadis itu bahkan sangat cantik dengan bola mata perak yang indah.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Jadi kau igin mengutukku? Apa kau yakin mampu melakukannya?"
"Kau...sebentar lagi kau akan menarik perkataanmu, aku megutukmu bahtara...."
Bahtara hanya menatap aryu, dirinya tidak melakukan apapun yang membuat semua orang bertambah panik, kini toko sihir itu sudah dipenuhi penghuni nirvana, pertengkaran ini tampaknya mengundang mereka untuk menyaksikannya.
"Den bahtara aku tidak ingin terjadi apapun padamu, peri alam akan sangat marah padaku."
"Kau tidak perlu khawatir, aku bisa menanganinya, ku harap kau berlindung..."
Penjaga toko bersembunyi dibawah meja ketika melihat aryu mulai menggerakkan tongkat sihirnya, bahtara ternyata juga tidak tinggal diam, pemuda itu mengayunkan jemarinya tanpa diketahui oleh ryu, kabut hitam menyelimuti seluruh ruangan, sihir hitam menguasai seluruh toko itu tapi sebuah sinar tiba-tiba saja menerangi, disana aryu merasakan tubuhnya mengecil, bulu-bulu mulai tumbuh dikulit putihnya, membuatnya menatap bahtara dengan membulat.
"Penyihir hitam aryu, aku mengutukmu menjadi seekor kucing, kutukan ini akan menyiksamu disetiap pagi hingga matahari terbenam, tapi aku mempunyai belas kasihan, aku akan melindungimu dari siapapun yang mengganggumu."
"Bahtara kau tidak punya waktu untuk meladeni penyihir itu, kita sangat sibuk."
Seorang pemuda lain muncul membuat bahtara mengalihkan pandangannya, disana berdiri seorang pemuda manis, alexa sahabat dari bahtara, dia berjalan mengambil kotak goblin, seraya menarik tangan bahtara, menjauh dari ryu yang menggeram marah.
"Den bahtara, apa kita membiarkannya begitu saja? Kau tau bukan kalau penyihir yang dikutuk tidak bisa menggunakan sihirnya? Lihat ananda ryu kesulitan berjalan dengan empat kaki!"
Bahtara melihat ryu yang kini tersungkur tidak elit, pemuda itu merasa bersalah karena membuat gadis itu seperti itu tapi apa boleh buat, bahtara hanya ingin melindungi dirinya saja, dengan sigap bahtara melepas genggaman alexa, berjalan mendekati ryu membuat pemuda manis itu membola.
"Hei apa yang kau lakukan bahtara?!"
"Santai saja alexa, aku harus bertanggung jawab, aku akan membawanya pulang."
Bahtara menggendong ryu yang terlihat lelah, ryu yang merasakan sentuhan lembut, mendekur dengan nyamannya layaknya seekor kucing sungguhan, hal itu membuat bahtara tersenyum kecil, senyum yang membuat seisi toko sihir itu menjadi canggung.