"Di antara debu masa lalu, jejak kecil menuntun pada rahasia yang terlupa."
Malam di Yabarasu selalu berbau laut, amis dan asin, seperti napas pulau yang tak pernah tidur. Di panti asuhan, jendela kamar kami retak, membiarkan angin malam menyelinap, membawa suara klakson kapal dan jeritan camar. Aku duduk di lantai, punggungku menempel di dinding kayu yang sudah lapuk, liontin blue diamond di leherku terasa dingin, seperti es yang tak pernah mencair. Di depanku, Rara mencengkeram buku catatannya, jari-jarinya gemetar, pena di tangannya mencoret lingkaran-lingkaran liar, seperti mengejar sesuatu yang tak bisa dia pegang.
"Arga, aku lihat lagi," bisiknya, suaranya nyaris pecah, matanya liar seperti orang yang baru bangun dari mimpi buruk. "Pasar malam... ada bayangan. Simbol aneh, seperti lingkaran dengan garis melengkung." Dia menunjuk sketsa di bukunya, garis-garisnya kasar, seperti digambar dalam kepanikan. Aku memandangnya, jantungku berdetak lebih cepat, tapi aku hanya mengangguk, tak ingin menambah beban di pundaknya yang sudah rapuh.
Rara selalu begini sejak kecil-melihat hal-hal yang dia sebut "visi". Aku dulu menertawakannya, bilang itu cuma mimpi, tapi malam ini berbeda. Petunjuk yang kami temukan sore tadi, tersembunyi di gudang tua panti, mengubah segalanya. Amplop lusuh dengan tulisan "Danme" di sudutnya, berisi kartu ATM tua dengan nama yang tak kami kenal. Di tanganku, liontin ini-satu-satunya peninggalan dari orang tua yang tak pernah kukenal-terasa lebih berat, seperti menyimpan rahasia yang tak ingin dibuka.
"Kau pikir ini nyata?" tanyaku, suaraku rendah, tak ingin Liza, kepala panti, mendengar dari ruang sebelah. Liza selalu waspada, matanya seperti elang, seolah tahu lebih dari yang dia katakan. Rara menggeleng, tapi tangannya tak berhenti mencoret, kertas di bukunya penuh lingkaran, seperti mantra yang tak selesai.
Pintu kamar berderit, dan Liza masuk, wajahnya lelah tapi matanya tajam, seperti menyimpan rahasia yang terlalu besar untuk satu orang. Rambutnya yang mulai memutih diikat rapi, tapi ada kerutan di dahinya yang tak pernah kulihat sebelumnya. Dia memegang dua tiket bus, kertasnya kusut seperti amplop di tanganku. "Kalian harus pergi," katanya, suaranya tegas tapi ada getar kecil, seperti orang yang tak ingin mengucapkan kata-kata itu. "Bus ALT ke Danme, besok pagi. Ini satu-satunya cara."
"Ke Danme?" Aku berdiri, liontin bergoyang di leherku, dinginnya menembus kulit. "Kenapa sekarang? Apa yang kau tahu, Liza?" Nada ku keras, lebih keras dari yang kuinginkan, tapi aku muak dengan rahasia. Liza hanya menatapku, matanya penuh sesuatu-penyesalan, mungkin, atau rasa bersalah-tapi dia tak menjawab. Dia menyerahkan tiket, jari-jarinya sedikit gemetar, dan berbalik, pintu berderit saat dia pergi.
Rara memandang tiket di tanganku, matanya melebar. "Danme," gumamnya, seperti mantra. "Itu dari visiku. Pasar malam... simbol itu." Penanya bergerak lagi, mencoret lingkaran yang lebih besar, garis melengkung di tengahnya seperti pintu yang terkunci. Aku ingin bilang itu cuma kebetulan, tapi amplop di tanganku terasa hidup, seperti jantung yang berdetak pelan.
Aku teringat gudang tua sore tadi, saat kami menemukan amplop itu di antara kotak-kotak berdebu. Bau minyak dan kayu lapuk memenuhi udara, sinar matahari menyelinap melalui celah-celah dinding, menyoroti amplop yang terselip di bawah papan lantai. Di dalamnya, selain kartu ATM, ada secarik kertas dengan tulisan tangan: "Ordo Tramasu, Danme." Aku tak tahu apa itu Ordo Tramasu, tapi kata-kata itu terasa seperti duri, menusuk pikiranku setiap kali kuingat.
"Kau takut?" tanya Rara tiba-tiba, suaranya kecil, matanya memandangku seperti mencari pegangan. Aku ingin bilang tidak, tapi tenggorokanku kering. Aku dilatih untuk bertarung-tinju, kaki, apa saja-di gudang panti, saat malam-malam dingin ketika anak-anak lain tidur. Liza bilang aku harus kuat, untuk diriku dan Rara. Tapi sekarang, dengan tiket di tangan dan liontin yang terasa seperti beban, aku tak yakin apa yang harus kulawan.
"Tak ada yang perlu ditakuti," kataku akhirnya, suaraku tegas, lebih untuk meyakinkan diriku sendiri. "Kita ke Danme, cari tahu apa ini semua. Bersama." Aku meremas liontin, dinginnya menembus telapak tangan, seperti janji dari orang tua yang tak pernah kukenal.
Rara mengangguk, senyum kecil muncul di bibirnya, tapi matanya masih gelisah, seperti laut Yabarasu di luar jendela-tenang di permukaan, tapi penuh arus di bawahnya. Dia kembali mencoret di bukunya, lingkaran demi lingkaran, seperti mencoba membuka kunci rahasia. Di luar, klakson kapal meraung lagi, camar menjerit, dan angin malam membawa bau laut yang semakin kuat.
Aku memandang tiket di tanganku, huruf "Danme" terbaca samar di bawah lampu redup. Bus ALT, perjalanan, dan rahasia yang menunggu-semuanya terasa seperti langkah pertama menuju sesuatu yang tak bisa kuhindari. Liontin di leherku terasa lebih dingin, seperti bisikan dari abu masa lalu, dan di suatu tempat di Danme, aku tahu, jejak kami akan bertemu dengan bayang yang Rara lihat.
VOCÊ ESTÁ LENDO
HARUSNYA AKU TAK MENCARI TAHU
Mistério / SuspenseDi pulau Tramasu yang penuh rahasia, Arga dan Rara, dua remaja yatim piatu, memulai perjalanan epik dengan bus tua ALT, melintasi 26 kota untuk mengungkap misteri orang tua mereka. Berbekal liontin blue diamond dan kartu ATM bertuliskan "Danme," mer...
