Pernahkah kau memimpikan atau membayangkan kehidupan yang sesuai dengan keinginan mu?
Hidup dengan bergelimang harta, misalnya.
Dalam mimpiku, aku sering melihat versi diriku yang tak pernah hidup di dunia ini, berjalan anggun dengan gaun mahal, tersenyum kepada kerumunan yang memujanya, tinggal di tempat yang terasa terlalu megah untuk gadis biasa sepertiku.
Dan selalu, selalu ada satu sosok yang berdiri tak jauh dariku.
Pria dengan mata senja, tak pernah bicara, tapi selalu memandangku seolah mengenalku lebih dalam dari siapa pun.
Aku tak pernah tahu namanya. Tapi hatiku seolah dia merupakan bagian terpenting bagi diriku versi mimpi.
ミ🌷♡📄.°୭̥
Namaku Elira Navarro. Mahasiswi teknik sipil dari kota Toledo, Spanyol.
Tidak ada yang luar biasa dari hidupku. Aku tinggal bersama ibuku di sebuah apartemen sempit dengan jendela kecil yang menghadap ke jalanan sempit berbatu. Kami tidak miskin, tapi jauh dari kata berkecukupan. Aku menabung setiap sen dari beasiswa, bekerja paruh waktu di sebuah kedai kopi, dan menghabiskan malamku di sana, mencoba memahami masa lalu dunia... mungkin karena aku sendiri tidak tahu ke mana arah masa depanku.
Aku bukan orang yang suka tidur di tempat umum. Tapi malam itu, tubuhku menyerah.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam ketika aku akhirnya menutup buku novel yang berjudul "Don Juan Tenori". Hujan turun pelan di luar jendela cafee, kulihat kursi pelanggan telah kosong tidak menyisakan orang hanya ada pegawai cafee termasuk aku, yang tengah menunggu berharap ada pelanggan hingga jam duabelas malam. Entah rasa penat yang menumpuk tiba-tiba menghampiri diriku.
Aku menunduk, lalu memejamkan mata sejenak.
Dan kemudian, semuanya gelap.
Saat aku membuka mata, dunia tidak lagi sama.
Pertama yang kusadari adalah wangi ruangan ini. Bukan aroma kopi dan bukan suara gurauan para barista dan waiters cafee, tapi aroma lavender dan kayu manis yang lembut. Lalu cahaya terang, hangat, dan berkilauan dari lampu gantung kristal yang menggantung di atas kepalaku.
Aku duduk perlahan.
Tempat tidur empuk, seprai sutra, dan kamar yang terlalu luas untuk ukuran manusia biasa. Langit-langitnya tinggi, dindingnya dihiasi lukisan besar bergaya klasik. Aku mengenakan gaun satin krem dengan detail emas di lengan bukan sweater abu-abu dan jeans usang yang kupakai tadi malam.
Aku menoleh ke cermin besar di sisi kamar.
Itu aku... tapi bukan aku. Wajah yang sama, mata yang sama. Tapi semuanya terasa lebih tajam. Lebih terawat. Lebih... kaya.
Sebelum aku bisa mencerna semuanya, pintu kamar terbuka. Seorang wanita paruh baya berpakaian serba hitam masuk, tersenyum sopan.
"Señorita Elira, Tuan besar sudah menunggu di ruang kerjanya. Ia ingin membahas jadwal pertemuan hari ini."
Tuan besar? Pertemuan?
Apa ini... mimpi?
Bukankah tadi aku masih berada di cafee?
Aku ingin bertanya, ingin berteriak bahkan, tapi tubuhku membeku. Ada bagian dari diriku yang tahu bahwa ini nyata, seaneh apapun rasanya.
ミ🌷♡📄.°୭̥
Beberapa jam berikutnya seperti hidup di film yang diputar terlalu cepat.
Aku mengenal tempat ini Miragranada. Sebuah kota indah dan modern, menyerupai Granada tapi lebih bersih, lebih simetris, lebih... tidak nyata.
Di dunia ini, aku adalah Elira Navarro, anak dari CEO grup bisnis internasional terbesar di negara ini. Aku punya supir pribadi, asisten pribadi, bahkan pengawal. Orang-orang memanggilku dengan hormat, menunduk saat aku lewat.
Tapi ini bukan hidup Elira.
Ini bukan diriku.
Aku mencoba mencari pantulan logika di tengah absurditas ini. Tidak ada penjelasan. Tidak ada jejak kopi, tidak ada penjelasan ilmiah tentang "dimensi lain" yang bisa kumengerti.
Lalu aku bertemu dengannya.
Namanya Adrián Alvarez.
Kami bertemu dalam sebuah acara makan malam perusahaan, ketika aku atau versi dunia ini dari diriku, diminta untuk hadir dan mewakili ayahku, iya sekarang aku mempunyai seorang ayah yang kaya. Aku mencoba tetap diam, tersenyum, bermain peran sebaik mungkin.
Dan saat aku menoleh, dia ada di sana.
Adrián berdiri di sisi ruangan, mengenakan jas gelap, berbicara dengan salah satu investor. Tapi ketika mata kami bertemu, dunia serasa berhenti.
Aku mengenalnya.
Bukan karena pernah bertemu di dunia nyata. Tapi karena dia... pria dalam mimpiku.
Ingin sekali aku berteriak 'Apakah ini mimpi?', bahkan aku masih mengingatnya dengan jelas, ia benar pria tampan yang kutemui di alam mimpiku.
Tatapannya tidak seperti orang yang baru mengenal. Tatapan itu mengunci, dalam, seolah-olah ia telah mencariku seumur hidupnya.
Dan kemudian, ia berjalan menghampiriku.
"Elira?" suaranya rendah, pelan, seperti gumaman doa.
Aku hanya bisa menatap, membeku.
Tapi di balik kejutan dan tatapan itu, ada sesuatu yang lain.
Rasa curiga.
Rasa kehilangan.
"Aku tahu kamu... tapi kamu bukan dia, ya?" tanyanya pelan.
Seketika seluruh tubuhku merinding.
Aku ingin berbohong. Tapi untuk apa?
ミ🌷♡📄.°୭̥
Di dunia ini, aku punya segalanya, yang tak pernah kumiliki di dunia sebelumnya. Kekuatan. Kekayaan. Nama besar.
Tapi yang paling berbahaya bukan apa yang kupunya.
Melainkan apa yang tidak kuketahui.
Siapa Elira di dunia ini?
Di mana dia sekarang?
Dan mengapa Adrián mengenal versiku yang asli, lebih baik dari aku sendiri?
Apakah semua ini hanya mimpi panjang yang tak kunjung usai?
Atau... apakah aku telah mengambil tempat seseorang?
Satu hal yang pasti adalah, dunia ini tidak akan membiarkanku pergi tanpa jawaban.
Dan Adrián Alvarez bukan sekadar pria dalam mimpiku. Dia adalah kunci dari semuanya.
Aku hanya belum tahu... apakah kunci itu akan menyelamatkanku.
Atau menghancurkanku.
ミ🌷♡📄.°୭̥
Hola readers👋🏻
Aku kembali lagi nih dengan cerita baru, nuansa baru, genre baru!
Please jangan kecewa kalau aku kembali hadir dengan genre yang tak sama dengan yang dulu 😔
Ini cerita normal ygy!
Semoga kalian suka dengan karanganku😁
Vote please!
- Spanish, 7 Mei 2025 -
YOU ARE READING
SWAP DESTINY
General FictionElira Navarro, tak pernah merasa benar-benar "cukup". Hidup sederhana di Toledo, Spanyol, sebagai mahasiswi jurusan teknik sipil membuatnya terbiasa menunduk pada kenyataan. Namun, segalanya berubah saat ia menemukan sebuah cermin tua di loteng kamp...
