2022 Bagian 1 : Seusai Nestapa 2002

24 1 0
                                        

- Nestapa 2002 tak membuat kami menyerah hanya karena luka dan kehilangan namun, kami tak tahu bahwa setelahnya nestapa ada neraka. - Angkasa Putra Damarra

***

Pontianak, 24 Desember 2021

Di hari Jumat pagi suasana rumah berlantai tiga ini masih lengang para penghuninya masih berselimut di kamar masing-masing kecuali wanita lanjut usia itu, ia bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan anak-cucu serta menantunya yang tinggal di rumah ini.

Rumah yang dulu tak bertingkat kini menjadi bertingkat karena jumlah anggota keluarga yang terus bertambah seiring berjalannya waktu.

Kamar-kamar di lantai bawah tetap seperti biasa dibiarkan kosong sampai penghuninya kembali suatu waktu nanti.

Wanita yang kini lanjut usia adalah Embun Pagi meskipun ia sudah dilarang para anak-anak nya untuk tidak melakukan hal berat namun, tetap saja Embun melakukan nya selagi ia bisa.

Kamar anak pertamanya Angkasa beserta istrinya Mentari masih sama seperti yang dulu tak ada beda, meskipun kini rumahnya sudah berlantai tiga namun, Angkasa masih nyaman menempati di lantai bawah.

"Bunda," geram Angkasa baru saja keluar dari kamar matanya membelalak saat melihat sang Bunda yang sudah tua masih menyiapkan sarapan untuk mereka semua. "Berapa kali aku bilang Bunda jangan lakuin hal berat? Bunda santai aja, gak usah repot-repot lagi."

"Gak papa, Bunda masih kuat." Sahut Embun.

"Mereka udah ada jadwal piket masaknya, Bun. Bunda gak perlu repot-repot lagi, Bunda udah tua, banyakin istirahat." Omel Angkasa menuntun sang Bunda duduk di sofa ruang keluarga.

"Kalau Bunda diem aja badan Bunda ini lho suka sakit-sakit makanya Bunda mau gerak terus," kilah Embun. Padahal memang dasarnya ia tak bisa berdiam diri.

"Udah Bunda, biarin sekarang giliran kami yang mengurus Bunda." Sahut Angkasa tak ingin dibantah persis seperti Bumi hanya saja si sulung Damarra ini lebih dominan.

Mentari baru saja keluar dari kamarnya, wanita itu semakin hari semakin cantik saja. Wajahnya seperti tak menua meski usia tak dapat dipungkiri sudah memasuki kepala empat. "Lho Mas, kok kamu marahin Bunda gitu?"

"Aku gak marah sama Bunda hanya kesal aja, Tari. Kamu juga seharusnya kamu sama yang lain siapin sarapan bukan Bunda, Bunda kan udah tua, masa iya masih melayani kita?" Omel Angkasa.

"Ini aku juga baru bangun, Mas. Emang biasa kok aku bangun jam segini." Sahut Mentari tak mau kalah.

"Udah kalian jangan ribut pagi-pagi. Gak papa Bunda masih kuat kok." Embun menengahi.

"Kamu bangunin anak-anak, Tari. Aku mau mandi dulu," ucap Angkasa kemudian melangkah ke kamar mandi.

Mentari melewati beberapa kamar yang kosong tak berpenghuni itu seperti kamar Bintang dan Bulan yang kosong karena Bulan kini berada di lantai dua, kamar para mata angin pun kosong tak berpenghuni sengaja menunggu sang pemilik kamar suatu hari akan pulang kembali dan kamarnya masih ada disini.

Mentari berselisihan dengan Bulan yang menuruni tangga. "Mau bangunin anak-anak kak?"

"Iya nih, Abangmu udah ngomel." Sahut Mentari malas.

"Anak-anak udah aku bangunin barusan kak, kita siapin sarapan aja." Ajak Bulan.

"Syukurlah, aku jadi gak repot." Mentari lega kini mengikuti Bulan yang menuju ke lantai bawah.

"Bunda nyiapin sarapan lagi?" Keluh Bulan melihat meja makan sudah tersaji hidangan.

"Bunda tadi bangun terlalu awal, Lan jadinya Bunda siapin duluan." Sahut Embun tersenyum.

NERAKA 2022 - SEQUEL OF NESTAPA 2002Stories to obsess over. Discover now