The Thorned Lily

4 0 0
                                        


Hujan menguyur kota malam ini, semua orang sibuk mengamankan diri mereka masing-masing, bersembunyi di balik tembok-tembok tebal rumah mereka atau sekadar berteduh di bawah teras sebuah toko. Dunia seolah berhenti sejenak. Atau mungkin tidak, untuk sebagian orang.

Kali ini, seorang wanita cantik dengan payung hitam di tangannya berjalan melewati gang yang gelap. Tempat ini hidup saat siang, ramai dengan pengunjung dan gelak tawa para pedagang. Namun, saat malam hujan seperti ini, siapa yang akan datang? Hawa di sekitar wanita itu mulai dingin, baju merah yang tampak elegan di tubuhnya tidak cukup untuk menghangatkan tubuh, bahkan celana panjangnya pun tidak membantu. Percikan tanah mulai terlihat di bagian bawah celananya, menandakan langkah tergesa-gesa, atau mungkin tanda ketakutan yang mulai merasuk.

Namun tekadnya tetap kuat, ia ingin mencari satu nama: Azar, di Verba Fera. Ini seperti sebuah urban legend, sebuah studio tato yang konon bisa membalas dendam dengan bayaran yang setimpal. Tapi tidak semua orang bisa menemukannya. Mungkin hari ini adalah hari keberuntungannya, atau mungkin ia berharap ini bisa menjadi harapan terakhirnya.

Langkahnya terhenti di depan sebuah toko kecil yang terjepit di antara dua bangunan tua. Hujan menari-nari di atas kanopi logamnya, menciptakan irama sunyi yang terasa asing. Plang tua berwarna hitam tergantung di atas pintu kaca—tertulis dalam huruf tipis berwarna perak:

"Verba Fera"

"Tinta yang berbicara".

Wanita itu menggenggam pegangan payungnya lebih erat. Tangannya dingin, dan detak jantungnya berdebar terlalu keras hingga membuat suara hujan terdengar seperti bisikan samar.

Dia tidak yakin apa ini tempat yang benar, dia bahkan tidak yakin apa yang sedang dia lakukan. Atau dia hanya mengikuti petunjuk samar dari internet gelap dan bisik-bisik di lorong belakang sebuah klub tua?

Ia menarik napas panjang. Pintu kaca terbuka dengan denting lonceng kecil yang nyaring—menggema lebih lama dari seharusnya. Aroma tinta, kayu, dan sesuatu yang hangat menyambutnya seperti pelukan dari dunia lain.

Lampu gantung kuningan menggantung rendah, memantulkan cahaya keemasan yang lembut pada dinding bata ekspos dan rak kayu berisi katalog tato. Musik jazz lawas mengalun pelan dari radio tua di pojok ruangan.

Di balik meja resepsionis, seorang pemuda dengan topi cokelat kusam dan sweater rajut warna krim mendongak dan tersenyum ramah. Matanya sipit, cerah, penuh rasa ingin tahu yang tidak menghakimi.

"Selamat datang di Verba Fera," ucapnya. "Bisa saya bantu?"

Wanita itu terdiam sejenak. Kata itu menggantung di lidahnya, tapi tidak juga terucap. Ia tidak tahu bagaimana cara mengatakannya... atau apakah seharusnya ia mengatakannya.

"Aku... hanya ingin melihat-lihat," jawabnya, mencoba terdengar santai.

Mark—begitu namanya tertera di papan nama kecil—mengangguk dan menyodorkan katalog dengan senyum tenang.

"Boleh. Tapi kalau kamu butuh tato... kami punya seniman terbaik. Kamu ingin mencoba ?"

Wanita itu hanya mengaguk, dan setelahnya si resepsionis mempersilahkannya untuk masuk dalam ruangkan di sampinggnya.

****

Ruang tato berada di balik tirai beludru hitam. Begitu wanita itu melangkah masuk, dunia di sekitarnya berubah—lebih sunyi, lebih dalam, seolah waktu melambat.

Di tengah ruangan berdiri kursi tato besar dari kulit hitam, menghadap rak kaca penuh botol tinta dan alat-alat aneh berkilauan. Di sana, duduk seorang pria bertubuh jangkung dengan sarung tangan hitam dan rambut cokelat acak—Chanyeol. Tatapannya hangat tapi jauh, seakan hanya setengah hadir di dunia ini.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Apr 26, 2025 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Verba FeraWhere stories live. Discover now