Prolog

301 37 4
                                        

Langit senja menumpahkan cahaya keemasan di aula megah yang dipenuhi hiasan bergelimang kemewahan. Langit-langit tinggi dihiasi taburan kelopak mawar putih dan gantungan kristal yang memantulkan cahaya lilin, menciptakan ilusi kehangatan. Musik lembut mengalun, menyamarkan keheningan yang menggantung di udara.

Langkah kaki terdengar lembut di atas lantai marmer. Sang mempelai wanita berjalan perlahan di samping ayahnya. Gaun putih gading membalut tubuhnya dengan potongan elegan, menyapu lantai dalam gerakan yang tenang dan terukur. Rambut merah mudanya tampak berkilau di bawah pantulan kristal, tergerai anggun di punggungnya seperti helaian sutra. Wajahnya cantik, riasannya halus, senyum kecil menghiasi bibirnya—cukup untuk memberi kesan bahagia. Di balik veil tipis yang menutupi wajahnya, sepasang mata hijau terang menatap lurus ke depan.

Di depan altar, sang mempelai pria berdiri menantinya. Pakaian resmi kebangsawanannya berwarna hitam kebiruan pekat, dihiasi bordir emas di bagian kerah tinggi dan mansetnya. Jubah panjang membingkai posturnya yang tegap, jatuh menjuntai hingga menyentuh lantai marmer. Ikat pinggang kulit berornamen perak membelah pinggangnya rapi, dan sarung tangan putih bersih yang dikenakan menambah kesan anggun sekaligus berwibawa. Rambut hitamnya tersisir rapi ke belakang, dan mata hitamnya—tajam, jernih seperti obsidian—menatap lurus ke depan, tanpa satu pun emosi mengapung di permukaannya.

Sang ayah menyerahkan tangan putrinya ke pria itu dengan satu gerakan tenang. Tak ada pelukan, tak ada bisik haru—hanya tugas yang dituntaskan dengan martabat seorang bangsawan.

Pastor membuka suara, suaranya hangat dan dalam, seperti doa yang mengudara. Ia berbicara tentang cinta, komitmen, dan janji suci yang tak akan pudar meski waktu terus berjalan.

Pastor berdiri di antara mereka, suara tenangnya menggema di dalam aula megah itu.
"Duke Uchiha Sasuke, apakah Anda bersedia menerima Lady Haruno Sakura sebagai istri sah Anda, untuk mendampinginya dari hari ini hingga ajal memisahkan, dalam segala suka dan duka, dalam keberlimpahan maupun kekurangan, dalam sakit dan sehat, untuk mencintai dan menghormatinya seumur hidup Anda?"

Pria itu menatap perempuan di hadapannya, kemudian menjawab mantap, "Saya bersedia."

Pastor kemudian beralih kepada sang pengantin wanita. "Lady Haruno Sakura, apakah Anda bersedia menerima Duke Uchiha Sasuke sebagai suami sah Anda, untuk mendampinginya dari hari ini hingga ajal memisahkan, dalam segala suka dan duka, dalam keberlimpahan maupun kekurangan, dalam sakit dan sehat, untuk mencintai dan menghormatinya seumur hidup Anda?"

Sakura menatap mata hitam itu sesaat—menemukan kekosongan yang mencerminkan dirinya sendiri. "Saya bersedia."

Dan ketika bibir mereka bertemu dalam ciuman yang lembut, aula bergemuruh oleh tepuk tangan. Semua mata menyaksikan satu pasangan baru yang tampak serasi di atas altar—tampak sempurna dalam balutan upacara yang diatur dengan cermat.

Pernikahan yang indah, seperti yang seharusnya. Seperti yang diharapkan semua orang.

***

Seperti dongeng Cinderella yang harus berhenti tepat saat lonceng tengah malam berdentang, topeng kepura-puraan akhirnya runtuh. Cahaya dari lilin-lilin di kamar yang megah mulai meredup, menyisakan bayangan yang berpendar lembut di dinding.

Sepasang mata emerald yang jernih—seperti batu permata yang disinari bulan—menatap lurus ke arah lelaki di hadapannya. Lelaki itu membalas tatapannya, tetapi kali ini matanya tampak lebih dingin, bahkan lebih datar daripada saat mereka berdiri bersama di altar.

"Aku harap kau menyadari," ucap Sasuke dengan nada tenang, tetapi mengandung hawa dingin yang menusuk, "bahwa pernikahan ini semata-mata bersifat politis. Kau tidak punya hak untuk mencampuri urusanku. Dan yang terpenting..." ia menatap Sakura tanpa berkedip, "jangan pernah berharap aku akan mencintaimu."

Sakura mengerjap sesaat, lalu tersenyum tipis. Bukan senyum yang pahit, melainkan senyum yang terasa terlalu tenang untuk situasi seperti itu. "Anda tidak perlu khawatir, Yang Mulia," balasnya lembut. "Lelaki seperti Anda... bukan tipe saya sama sekali."

Sasuke mengangkat sebelah alis, reaksinya nyaris tak terlihat—tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa kata-kata itu menyentuh sesuatu yang tak ia perkirakan.

Sakura menyambung, masih dengan suara yang sopan, "Ah, mohon maaf. Maksud saya... Anda terlalu sempurna untuk diharapkan oleh perempuan biasa seperti saya."

Senyumnya tampak begitu tulus saat ia mengatakannya—hangat, bahkan lembut. Namun matanya... nyaris kosong, tak menampilkan apa pun selain ketenangan yang telah dilatih bertahun-tahun lamanya.

TBC.

Halooo... aku tahu sekali kalau cerita sebelah baru nyampe chapter 7, tapi aku malah publish cerita baru. Tapi seperti yang aku bilang, nerjemahin dan menarasikan ulang itu jauh lebih susah daripada nulis cerita sendiri hehe. Jadi kalian yang sabar ya kalau mau nunggu cerita itu.

Tapi... sekarang aku bawa cerita baru yang orisinil hasil karyaku. Aku harap kalian bisa menikmatinya ya... jangan lupa vote dan komen biar aku makin semangat :)

Chapter 1 kuusahakan upload sore atau malam nanti ya, see you...

Beneath the MaskWhere stories live. Discover now