Jangan lupa tandai typo ya!
Happy reading😇
~~~
"Pah, aku gak mau ikut dia ke kampung!" Seru Anggika dengan wajah melasnya.
"Yang sopan kamu sama suami! Lagian kan udah harusnya kamu ikut suamimu, kamu itu udah bukan tanggungjawab papa lagi harus nurut sama suami. " Ujar Bima menasehati.
Anggika hanya terdiam sambil menatap sinis Adimas yang duduk di depannya, sedangkan Adimas yang ditatap seperti itu oleh istrinya hanya balas menatap datar sambil menaikan alis.
"Udah toh dek, ikut kata papa. Lagian emang bener kamu itu harus nurut dan taat apa kata suami, emang mau jadi istri durhaka?" Dewi menambahkan dengan lembutnya, tahu sang anak tidak bisa dinasehati dengan keras.
Adimas yang melihat Anggika hanya diam akhirnya angkat suara.
"Yaudah pah kalau misalkan Anggika belum mau ikut saya ke kampung, biar dia disini dulu aja. Nanti kalau sudah siap saya jemput" Ujar Adimas mempertimbangkan permintaan istrinya.
Anggika yang tadinya terdiam sambil menunduk langsung menegakkan kepala dan memberikan tatapan penuh harap menoleh pada sang papa, berharap diberikan izin karena sudah disetujui oleh suaminya.
Tapi tak berlangsung lama, kepalanya terkulai lagi kala papanya menggeleng dengan tegas. "Kamu itu jangan manjain dia, nanti kebiasaan. Udah! Emang udah kewajibannya buat ikut kamu. " Bima berucap tegas.
"Pah, papa emangnya gak bakalan kangen sama aku? Nanti papa sama mama kesepian loh kalau aku gak ada. Apalagi kan jauh kalau mau main. Boleh ya pah aku disini dulu, janji deh nanti aku mau dijemput asal gak sekarang banget. " Bujuk Anggika dengan tatapan penuh harap.
Bima yang melihat itu bukannya luluh malah mendengus dan tersenyum geli.
"Ya papa sama mama mau pacaran lagi lah, kan udah bebas gak ada yang ngerecokin lagi. " Balas Bima melemparkan tatapan geli pada anak bungsunya itu.
Dewi dan Adimas yang mendengar balasan Bima hanya bisa menahan tawa melihat Anggika makin memajukan bibir dengan ekspresi masam mendengar balasan sang papa.
"Udah udah. Sana naik dek! Beresin barangmu, nanti keburu macet loh apalagi kan jauh biar gak terlalu malam sampai sananya. " Dewi melerai, khawatir kalau diteruskan sang anak akan makin ngambek.
"Ah udahlah, kalian emang udah gak sayang aku lagi. " Gerutu Anggika sambil menghentakkan kaki berjalan menaiki tangga ke arah kamarnya berada.
"Dek dek, lebay kamu. " Ujar Bima gemas dengan kelakuan sang anak.
Adimas yang melihat kepergian istrinya langsung bangkit. "Kalau gitu saya ke atas ya mah, pah. Mau bantu Anggika dulu. " Pamitnya pada kedua mertuanya itu.
"Iya Dim, sabar sabar ya ngadepin istri manjamu itu. Udah ijab loh gak ada garansi kembali. " Ucap Bima yang langsung dibalas tawa oleh Adimas dan sikutan di perutnya oleh sang istri.
~~~
Di dalam kamar ber-cat putih dan pink itu Anggika duduk di depan sebuah koper besar dan tumpukan pakaian yang siap dimasukan.
"Bener bener keterlaluan deh, masa main nyerahin gitu aja sih. Awas aja kalau pada kangen, gak bakal mau aku kalau disuruh balik. " Gerutunya walau dengan tangan yang sibuk memilah pakaian yang ingin dibawa.
"Lagian buru-buru amat sih tu laki, emang mau kemana. Kan enak disini, nanti kalau disana gak bisa ke mall gimana. Mana katanya jauh lagi. " Gerutuan itu terus terdengar.
Tok tok tok
Terdengar pintu diketuk, lalu muncullah laki-laki yang baru satu hari menjadi suaminya itu.
Anggika yang melihat suaminya masuk hanya melirik sekilas dan langsung melengoskan pandangannya kembali pada koper besar di hadapannya.
"Mau dibantuin apa dek?" Tawar Adimas.
"Apa sih, gak usah. Aku bisa sendiri. " Anggika menjawab ketus.
"Lagian kamu tuh emang kerja apa sih, kok buru-buru banget mau balik? Kan harusnya kita bisa beberapa hari lagi disini. " Anggika melanjutkan dengan suara yang masih sama ketusnya.
Adimas yang duduk diranjang dibelakang Anggika hanya mengulas senyum tipis mendengar gerutuan istrinya itu.
"Udah nikah baru kamu tanyain kerjaan saya. Emang gak takut? Gimana misalnya kalau saya gak bisa hidupin kamu Anggika. " Balas Adimas geli mendengar gerutuan sekaligus pertanyaan dari sang istri.
Istrinya itu, kemarin-kemarin kemana saja? Bisa-bisanya baru menanyakan apa pekerjaannya disaat sudah sah menjadi suami istri, pikir Adimas geli.
"Ya kan, aku percaya sama orangtuaku. Mana mungkin kan mereka nyerahin aku kalau cuma buat aku melarat. " Anggika kembali menjawab sambil melirik sinis ke arah Adimas.
Adimas yang mendengar jawaban istrinya hanya tertawa pelan.
"Ya betul kalau itu, nanti saya ceritakan pekerjaan saya apa. Tapi untuk sekarang, kita harus pulang dulu ke kampung. Orang saya udah nanyain terus, katanya ada yang mau ketemu sama saya" Terang Adimas, berharap Anggika paham dengan penjelasan singkatnya.
Anggika yang mendengar itu hanya menghela nafas sambil melanjutkan kegiatan packing-nya.
"Ya udah lah, mau gimana lagi. Orang aku juga udah diusir kok. " Lirih Anggika dramatis, kembali mengingat perdebatan tadi dengan kedua orangtuanya.
"Huss, gak boleh gitu dek. Mereka itu sayang sama kamu, makanya nyuruh kamu taat sama saya. Emang mau jadi istri durhaka? " Tegur Adimas yang mendengar helaan dan perkataan dramatis istrinya itu.
"Apa sih! Daritadi nyebut-nyebut durhaka mulu. Jangan jadi suami patriarki ya kamu! " Balas Anggika ngegas.
"Loh bukan patriarki dek, kan emang dalam agama kita gitu. Istri itu harus nurut apa kata suami. " Adimas menjawab dengan sabarnya.
"Iya iya deh, terserah kamu aja. Emang sama aja kamu tuh sama papa, gak pernah mau ngalah. " Anggika memajukan bibir setelah merasa kalah dengan perkataan suaminya.
Adimas hanya tersenyum mendengar ucapan ketus istrinya itu.
"Yaudah, mana sini mau saya bantu gak? "
"Ya mau lah, itu tolong packing-in novel-novel yang udah aku pisahin ke dus. " Jawab Anggika masih dengan bibir cemberutnya.
"Oke, ini yakin mau dibawa semua? "
"Iyalah, itukan belum sempet aku baca. Sayang kalau ditinggal disini. "
"Iya Oke saya bantu packing-in semua. Ngomong-ngomong dek, itu bibirnya tolong dikondisikan takutnya saya khilaf. "
~~~~
Alhamdulillah, meskipun baru sedikit semoga kalian suka dengan cerita pertama aku.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya gais!
YOU ARE READING
Istri Manja Pemuda Desa
RomanceApa jadinya kalau gadis kota terpaksa harus menikah dengan pemuda desa? Ikuti kisah selengkapnya!
