Hujan di Dalam Kepalaku

22 2 0
                                        

Aku belajar mencintai jalanku sendiri—meski setiap tikungan membuatku ragu, dan setiap cahaya tak selalu menyambutku.

---

Nayara terdiam. Tatapannya kosong menembus layar laptop yang hanya memantulkan cahaya malam dari jendela kamarnya. Kursor berkedip di atas halaman kosong—seolah menanti sebuah kisah yang belum sempat lahir. Tapi tak satu pun kata muncul. Ia hanya duduk di sana, membisu. Jemarinya gemetar ringan, bukan karena dingin, melainkan karena ada luka yang tak bisa ia jelaskan.

Malam ini, menulis bukan sekadar pelarian. Ia sedang mencoba menulis untuk dirinya sendiri—dan itu, sungguh, jauh lebih berat dari menulis untuk siapa pun.

Di usianya yang ke-21, Nayara sering kali merasa seperti tamu dalam hidupnya sendiri. Semua orang tampak berjalan dengan tujuan yang jelas, sementara ia masih sibuk membaca peta yang berubah bentuk setiap kali ia hampir paham arah. Ia merasa asing di dunia yang seharusnya dikenalnya.

Ia ingin menjadi penulis. Bukan untuk menjadi sorotan, bukan untuk dielu-elukan, tetapi karena menulis membuatnya merasa utuh. Namun, keinginannya itu selalu dipatahkan pelan-pelan oleh suara-suara yang seharusnya menjadi rumah.

"Menulis itu hobi, Nayara, bukan pekerjaan."

"Kamu tuh pintar, kenapa nggak ambil jurusan yang lebih pasti masa depannya?"

"Banyak orang bermimpi, tapi tidak semua bisa hidup dari mimpi."

Kalimat-kalimat itu terus bergema di kepalanya. Setiap kali ia mencoba berdiri, suara-suara itu datang, menariknya kembali. Kadang, ia ingin bertanya—mengapa mimpinya tak pernah cukup layak di mata mereka?

Padahal ia tak pernah meminta banyak. Hanya ingin didengar. Dipercayai.

Ia kembali teringat percakapan singkat yang terjadi di meja makan keluarga—percakapan yang tampaknya sederhana, namun nyatanya membekas lebih lama dari yang ia kira.

"Jadi Nay, setelah lulus nanti rencana apa?" suara ayahnya terdengar santai, tapi Nayara tahu, ini bukan sekadar pertanyaan. Ini interogasi terselubung.

"Aku masih mau fokus di dunia kepenulisan, Yah," jawabnya pelan.

Ayahnya mendesah pelan, meletakkan sendok dengan sedikit kasar. "Menulis lagi? Sampai kapan kamu mau begini, Nay?

Ibunya terkekeh kecil. "Iya, Kak. Udah lah, mending ambil kerjaan yang pasti pasti aja."

Nayara diam. Nafsu makannya hilang begitu saja.

"Tapi aku suka menulis, Bu," ucap Nayara akhirnya. Suaranya tidak keras, tapi cukup untuk membuat keheningan singkat di meja makan.

Ayahnya mengusap wajahnya dengan frustrasi.

"Suka aja nggak cukup, Nay. Hidup ini butuh lebih dari sekadar 'suka'."

Nayara terdiam.

Mungkin benar. Mungkin hidup memang butuh lebih dari sekadar suka. Tapi kalau ia harus mengorbankan satu-satunya hal yang membuatnya merasa hidup, apakah itu masih bisa disebut 'hidup'?

Ia menyembunyikan tangisnya di balik layar laptop, pura-pura sibuk. Sudah terlalu sering ia belajar menyeka air mata sebelum sempat jatuh, terlalu mahir menelan kecewa agar tak jadi beban. Ia menjadi ahli dalam berpura-pura baik-baik saja, meski dalam dirinya, dunia perlahan runtuh.

Kata-kata itu masih bergema sampai sekarang.

Seolah-olah mimpi Nayara adalah sebuah kesalahan. Seolah-olah keinginannya untuk menjadi penulis adalah bentuk pembangkangan yang tak termaafkan. Padahal, Nayara tidak sedang mencoba melawan siapa pun. Ia hanya ingin jujur pada dirinya sendiri.

Malam itu, ia menatap langit dari jendela kamarnya. Hatinya penuh pertanyaan. Apakah salah kalau seseorang ingin hidup dari apa yang ia cintai? Apakah semua mimpi harus masuk akal agar pantas diperjuangkan?

Ia tahu, orang tuanya tidak bermaksud menyakitinya. Tapi tak semua luka berasal dari niat buruk. Ada luka yang muncul karena harapan yang terlalu berat. Karena cinta yang dikemas dalam bentuk tuntutan.

Aleta, sahabatnya, menelepon malam itu. Suaranya terdengar ceria seperti biasa.

“Kamu lagi nulis?”

“Enggak,” jawab Nayara pelan. “Aku cuma... mikir.”

Tentang hidup. Tentang mimpi. Tentang rumah yang tak lagi terasa aman.

Aleta diam sejenak di seberang sana, lalu berkata, “Nay... kamu tahu nggak? Kadang, kita itu terlalu keras sama diri sendiri, padahal dunia aja udah cukup kejam.”

“Kamu nggak harus jadi versi paling kuat dari dirimu setiap hari. Kadang, cukup dengan bertahan aja itu udah hebat banget.”

Kata-kata Aleta seperti selimut hangat. Tapi malam tetap dingin.

Dan Nayara tahu, Aleta benar. Tapi bagaimana jika yang ia lawan adalah rumahnya sendiri? Bagaimana jika suara yang paling menyakitkan adalah suara yang lahir dari cinta?

Leonel Leonel, tetangga sekaligus teman yang diam-diam paling mengerti Nayara, juga pernah berkata, “Kalau kamu capek, kamu boleh istirahat, Nay. Tapi jangan pernah lupa, kamu bukan gagal cuma karena kamu belum sampai.”

Nayara mengangguk, tapi hatinya masih penuh ragu.

Ia tidak takut berjuang. Ia hanya takut kecewa. Takut suatu hari nanti, semua usahanya hanya jadi kisah gagal yang tak layak diceritakan.

Nayara hanya tersenyum waktu itu. Tapi malam ini, ia ingin percaya.

Karena menjadi dewasa bukan tentang selalu kuat, tapi tentang terus berjalan meski hati ingin berhenti. Tentang memilih untuk tetap hidup dengan utuh, walau sering kali rasanya hancur. Tentang berani mempertahankan sesuatu, meski tak semua orang setuju.

Nayara belum tahu ke mana langkahnya akan membawanya. Tapi malam itu, ia memutuskan untuk percaya. Bahwa pelan-pelan, jalannya akan terlihat. Bahwa seiring waktu, ia akan sampai di tempat yang ia cari—tempat di mana ia tak harus meminta maaf karena menjadi dirinya sendiri.

Ia tahu jalan yang ia pilih tidak mudah. Ia tahu akan ada banyak hari di mana ia merasa sendirian. Tapi, untuk pertama kalinya, ia tak ingin lari. Ia ingin berdiri. Walau pelan. Walau sendiri.

Karena di balik segala luka yang tak terlihat itu, ia sedang tumbuh. Diam-diam. Dalam sepi yang penuh perlawanan.

Dan saat waktunya tiba, ia tak akan meminta dunia untuk melihat. Ia hanya akan menunjukkan bahwa meski diragukan, ia tetap memilih mimpinya. Bukan karena mudah. Tapi karena itulah satu-satunya hal yang membuatnya merasa hidup.

Malam itu, tanpa sadar, air matanya jatuh. Tapi bersamaan dengan itu, jemarinya mulai menari di atas papan ketik. Satu kalimat pertama akhirnya lahir:

“Aku tidak menulis untuk diakui. Aku menulis karena ini adalah caraku menyelamatkan diri.”

Ia belum tahu apakah dunia akan menerima ceritanya. Tapi malam itu, ia tahu—ia tak lagi takut menuliskannya.

Lost Between These WallsStories to obsess over. Discover now