Prolog

225 29 5
                                        


Mentari senja memeluk cakrawala Jakarta, mewarnai langit dengan jingga dan ungu. Di tengah hiruk pikuk kota yang tak pernah benar-benar tidur, Jennie duduk termenung di balkon apartemennya. Gelas berisi teh dingin di tangannya terasa hambar, sama seperti perasaannya saat ini. Tatapannya kosong, menerawang jauh melampaui gemerlap lampu-lampu kota.

Dulu, ada Limario di sisinya. Sosoknya hangat seperti mentari pagi, suaranya menenangkan bagai melodi lembut. Mereka adalah dua jiwa yang saling menemukan dalam riuhnya kehidupan, membangun dunia kecil mereka sendiri yang penuh tawa dan impian. Jennie ingat jelas setiap detailnya, sentuhan tangannya yang selalu terasa pas, tatapan matanya yang menyimpan sejuta janji, dan bagaimana mereka bisa menghabiskan berjam-jam hanya untuk berbagi cerita dan keheningan.

Namun, waktu, seperti arus sungai yang tak terduga, membawa perubahan yang tak diinginkan. Kesibukan masing-masing mulai merenggut kebersamaan mereka. Panggilan pekerjaan, ambisi yang membumbung tinggi, dan jarak yang perlahan menganga di antara keduanya. Awalnya hanya terasa seperti riak kecil, namun lama kelamaan menjadi gelombang besar yang tak terhindarkan.

Jennie masih ingat percakapan terakhir mereka, samar-samar seperti mimpi yang mulai pudar. Kata-kata yang terucap terasa berat dan penuh keraguan. Ada janji untuk tetap terhubung, untuk tidak saling melupakan, namun kenyataannya berbicara lain. Telepon yang semakin jarang berdering, pesan singkat yang tak lagi berbalas secepat dulu, dan akhirnya, keheningan yang menyakitkan.

Kini, Limario telah jauh. Bukan hanya jarak fisik yang memisahkannya, tetapi juga jarak emosional yang terasa begitu lebar. Jennie sering melihat unggahan media sosialnya, foto-foto kebahagiaan dengan orang-orang baru, pencapaian-pencapaian yang tak lagi ia bagi dengannya. Setiap kali melihatnya, ada sececah nyeri yang menusuk hatinya. Bukan rasa marah atau benci, melainkan lebih kepada perasaan asing, seolah Limario telah menjelma menjadi sosok yang tak lagi ia kenali.

Malam ini, kesunyian terasa begitu pekat. Jennie memejamkan mata, mencoba mengingat kembali sentuhan Limario, aroma tubuhnya, suara tawanya. Kenangan itu terasa seperti pecahan kaca yang indah namun tajam, menyayat hatinya setiap kali ia mencoba menggenggamnya erat.

"Bagaimana rasanya dilupakan?" bisiknya lirih pada angin malam. Pertanyaan itu menggema dalam benaknya, tanpa ada jawaban yang mampu meredakan perihnya. Ia merasa seperti jejak kaki di pasir pantai yang perlahan terhapus oleh ombak, keberadaannya semakin memudar dalam ingatan seseorang yang pernah begitu berarti.

Jennie membuka matanya, menatap bintang-bintang yang berkelip jauh di sana. Ia tahu, hidup harus terus berjalan. Ia harus belajar menerima bahwa beberapa orang memang ditakdirkan untuk menjadi bagian dari masa lalu, kenangan yang akan selalu ada namun tak lagi bisa digapai. Namun, malam ini, di bawah rembulan Jakarta yang samar, ia tak bisa menahan kerinduan dan pertanyaan yang terus menghantuinya bagaimana rasanya menjadi seseorang yang pernah begitu dekat, namun kini terasa begitu asing dan terlupakan? Rasa sakit itu nyata, dan Jennie merasakannya.

Jakarta terasa begitu jauh sekarang. Kota ini, dengan segala peluang dan kesibukannya, telah menjadi rumah bagiku. Namun, di antara gedung-gedung pencakar langit dan hiruk pikuknya, ada sudut hatiku yang masih tertinggal di balkon apartemen kita dulu, tempat kita berbagi teh dingin dan mimpi-mimpi sederhana.

Aku ingat tatapan mata Jennie, penuh dukungan dan keyakinan. Dulu, setiap langkahku terasa lebih ringan karena ada dia di sampingku. Setiap cerita sukses terasa lebih manis karena bisa kubagi dengannya. Kami adalah tim, dua individu yang saling melengkapi, membangun dunia kami sendiri di tengah ramainya kehidupan.

Namun, ambisi memang terkadang membutakan. Fokus pada tujuan pribadi, mengejar karier yang menjanjikan, perlahan tapi pasti menjauhkan kami. Bukan karena tidak ada cinta, tapi mungkin karena ego yang terlalu tinggi dan keyakinan yang salah bahwa cinta sejati akan selalu menunggu.

Percakapan terakhir itu masih terngiang di telingaku. Ada nada keraguan dalam suaraku, janji-janji yang terasa hampa saat diucapkan. Aku ingat bagaimana aku meyakinkan diriku dan Jennie bahwa jarak hanyalah ujian sementara, bahwa kami akan kembali seperti dulu. Namun, waktu berjalan terlalu cepat, dan kesibukan ternyata lebih kejam dari yang kubayangkan.

Aku melihat unggahan media sosial Jennie sesekali. Senyumnya tetap memukau, kecantikannya tak pudar. Tapi ada sesuatu yang berbeda, sebuah jarak yang tak terucapkan. Aku melihatnya tertawa dengan teman-teman barunya, merayakan pencapaiannya sendiri. Ada rasa bangga, tentu saja, melihatnya tetap kuat dan bersinar. Tapi di saat yang sama, ada tusukan kecil di hati, menyadari bahwa aku bukan lagi bagian dari kebahagiaan itu.

Mungkin aku terlalu takut untuk menghubunginya. Ada rasa bersalah yang menggerogoti, kesadaran bahwa aku mungkin telah mengecewakannya. Bagaimana mungkin aku tiba-tiba muncul kembali setelah sekian lama menghilang? Apa yang bisa kukatakan? Maaf? Kata itu terasa terlalu kecil untuk menggambarkan kehampaan yang mungkin kurasakan dan mungkin juga ia rasakan.

Malam ini, di tengah keramaian pesta perayaan, aku merasa sepi. Gelas di tanganku terasa berat, bukan karena isinya, tapi karena beban kenangan. Aku mencoba mengingat tawa Jennie, kehangatan pelukannya, hal-hal kecil yang dulu membuat hidup terasa begitu berarti. Kenangan itu seperti foto lama yang buram, indah namun sulit digapai.




TBC

gimana ? lanjut ?

Vous avez atteint le dernier des chapitres publiés.

⏰ Dernière mise à jour : Apr 09, 2025 ⏰

Ajoutez cette histoire à votre Bibliothèque pour être informé des nouveaux chapitres !

How Does It Feel To Be Forgotten ?Des histoires addictives. Découvrez maintenant