Seno, atau dengan nama lengkap Senopati Putro Abimanyu itu hanya bisa menunduk, tak berani memandang pemuda yang lebih kecil daripadanya.
Sedangkan Kaisar Bhumi Rahayu adalah salah satu temannya sejak mereka masih kecil. Mereka saling mengenal karena kedua kakek mereka bersahabat.
"Jangan jadi berandalan napa sih, Seno. Okey okey, jangan diulang lagi, ya?" Kaisar akhirnya luluh, tak kuat melihat mata Senopati yang memandangnya melas.
"Em, jangan marah lagi, Ai."
"Enggak, sini peluk."
Dengan sumringah, Senopati menubruk ke pelukan Kaisar.
Kejadian tadi siang sebenarnya tak mudah dilupakan, bukan sekali dua kali Senopati seperti ini. Bahkan teman satu tongkrongannya juga pernah menjadi samsak tinju.
Ini masalah sepele yang Senopati besar besarkan, Kaisar entah gen dari siapa badannya memang sedikit lebih kecil dari teman teman yang lain.
Bukan satu sekolah dia yang paling kecil, cuma kalau disanding dengan Senopati, sudah seperti Gajah dan Semut.
Oke ini agak berlebihan sih.
"Pulang yuk, udah jam segini."
"Iya, gue anter."
Senopati mengantar Kaisar pulang sampai depan gerbang kosnya, lalu langsung pergi tanpa mampir.
•••
Seno🚭 lagi apa?
gatau, suntuk bgt☹️
pergi jalan jalan mau?
kemana?
beli jajan dah, apa aja yg lo suka, gue beliin
mampir?
mampir, cantik
oke, mau!
siap siap buru, gue otw🛵💨💨
iyoo, ati ati!😽
makasih sayang❤️
Pesan terakhir Senopati tidak ia balas, langsung ganti baju terus dandan sedikit. Kaisar melihat jam pada ponselnya, jam 8 kurang.
Gapapa deh, besok libur. Pikirnya.
Tak lama suara ketukan pintu terdengar, Senopati sudah datang. Cepatnya? Ia melihat dari jendela lebih dulu, takut takut orang nggak dikenal salah kamar.
"Ini Seno, sayang."
"Bilang, Seno! Gue nya gatau kalo kebiasaan ga bilang gitu!"
Sambil cengengesan, Senopati meminta maaf.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.