15 || Berdiri Sendiri

714 120 19
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


.....


Ruangan itu tampak biasa saja. Kursi plastik, meja kayu dengan tumpukan map, dan seorang wanita berusia akhir tiga puluhan yang duduk tegak di baliknya dengan wajah tanpa senyum. Atha duduk di seberangnya, meremas jemarinya sendiri di pangkuan.

Hari itu panas, bahkan terlalu panas untuk ukuran kota yang tak pernah benar-benar sejuk. Baju yang dikenakannya, kemeja putih pudar dan rok bahan hitam yang mulai memudar warnanya, terasa makin lengket di tubuh. Sepatunya pun sudah menunjukkan tanda-tanda kelelahan, solnya mulai terbuka sedikit di bagian depan. Tapi Atha tetap tegak, menyimpan semua keresahannya di balik senyum kecil yang ia pertahankan sepanjang sesi interview.

"Jadi... kamu belum pernah kerja jadi SPG sebelumnya?" tanya wanita di depannya. Namanya Bu Yulia, tertulis di papan nama kecil di atas meja.

Atha mengangguk pelan. "Belum, Bu. Tapi saya pernah kerja sebagai guru les. Ngajar anak-anak SD, SMP juga. Saya biasa handle beberapa murid sekaligus, jadi saya terbiasa komunikasi dengan orang banyak."

Bu Yulia menaikkan sebelah alisnya. "Guru les?" ulangnya, seolah sedang mencerna sesuatu yang tidak seharusnya berada dalam dunia yang ia kuasai.

"Iya, Bu," jawab Atha tetap tenang, meski hatinya mulai dicekam keraguan.

Wanita itu menatap Atha dari atas ke bawah. Pandangannya tajam, menilai tanpa malu-malu. Atha tahu apa yang sedang dilihat. Rambutnya yang disisir asal-asalan, kulit wajahnya yang tidak dilapisi make-up mahal, dan baju yang tampak seperti sudah dipakai berkali-kali.

Cantik, mungkin, tapi bukan cantik versi brosur iklan kosmetik. Bukan versi agensi.

"Kalau boleh tahu," lanjut Bu Yulia, suaranya datar. "Kenapa kamu tertarik kerja jadi SPG?"

Atha menghela napas pelan. "Saya sedang butuh tambahan penghasilan, Bu. Saya kuliah sambil kerja. Dan saya pikir, jadi SPG bisa jadi peluang baik buat saya belajar hal baru, sekaligus bantu keuangan saya."

Bu Yulia mengangguk kecil, entah karena mengerti atau hanya ingin cepat-cepat mengakhiri wawancara. Ia merapikan map di hadapannya, menuliskan sesuatu, lalu menutupnya dengan cepat.

"Nanti kami kabari lagi, ya."

Itu saja. Kalimat pamungkas yang Atha sudah terlalu sering dengar belakangan ini. Kalimat yang terdengar seperti janji kosong yang sopan. Ia tersenyum kecil, berdiri sambil mengangguk sopan. "Baik, Bu. Terima kasih atas waktunya."

Saat ia berbalik dan hendak melangkah keluar dari ruang kecil itu, Atha tahu. Kali ini pun ia tidak akan mendapatkannya. Wajah Bu Yulia, ekspresi dinginnya, tidak menyisakan secercah harapan pun.

Tangga menuju lantai dasar agensi itu terasa berat. Tapi Atha tetap melangkah turun, satu demi satu. Sinar matahari menampar wajahnya ketika ia keluar dari gedung. Debu jalanan, bunyi klakson, dan aroma asap kendaraan seolah menjadi soundtrack hidupnya siang itu.

That Feeling When - Lee HeeseungTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang