A Tear of Second Chances

6 3 0
                                        

Bulan menggantung rendah di langit, sinarnya samar terhalang oleh awan yang menutupi malam. Di sebuah lapangan kosong, dua sahabat, Damar dan Nuca, berdiri berhadap-hadapan. Wajah mereka memerah, napas mereka berat, dan kemarahan mengisi udara di antara mereka.

"Kenapa kau selalu seperti ini? Kenapa kau tak pernah peduli dengan apa yang aku katakan?" teriak Damar, suaranya pecah oleh emosi.

"Aku peduli! Tapi kau selalu ingin segala sesuatunya berjalan sesuai keinginanmu!" balas Nuca dengan nada tak kalah tinggi. Matanya berkilat marah.

"Aku tak bisa lagi hidup dengan seseorang yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Aku harap kau tidak pernah ada dalam hidupku!" seru Damar, penuh amarah. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya tanpa dia pikirkan terlebih dahulu.

Keheningan mencekam tiba-tiba menggantikan suara perdebatan mereka. Wajah Nuca berubah suram, terpukul oleh ucapan itu. Ia terdiam, menatap Damar sejenak dengan pandangan yang sulit diartikan, ia berbalik, sambil mengatakan sesuatu, "Aku akan pergi dari sini."

Damar hanya berdiri di sana, dadanya berdegup kencang, belum menyadari dampak dari apa yang baru saja ia ucapkan. Ia berpikir, mungkin Nuca hanya butuh waktu untuk mereda. Segalanya akan kembali seperti biasa besok.

Namun sayang, tidak ada "besok" untuk Nuca.



***

Damar mendapat kabar yang menghancurkan dari ibu Nuca, beliau mengatakan bahwa anaknya mengalami kecelakaan ketika mengendarai motornya di jalan raya. Ia tak bisa diselamatkan. Dunia Damar runtuh seketika. Rasa bersalah yang luar biasa menenggelamkannya, menekan jiwanya hingga ia merasa sulit bernapas. Kata-kata yang ia lontarkan kemarin berputar di kepalanya, seperti pisau yang tak henti-hentinya menyayat hatinya.

"Aku harap kau tidak pernah ada..."

Damar mengurung diri di kamar selama berhari-hari. Dia tak bisa menatap orang lain, tak bisa menerima kenyataan bahwa sahabat terbaiknya telah tiada. Setiap kali ia menutup mata, wajah Nuca yang marah dan terluka muncul dalam pikirannya. Air mata mengalir, tapi itu tak pernah cukup untuk meredakan rasa sakit di hatinya. Rasa kehilangan dan penyesalan semakin menghantuinya.

Suatu malam, ketika hujan deras turun, Damar duduk di sudut kamarnya, menggenggam erat foto dirinya bersama Nuca. Di foto itu, mereka tertawa bahagia—saat-saat sebelum semuanya berubah. Air matanya jatuh di atas foto itu, tatapannya kosong, tidak punya tujuan, hanya ada satu harapan. Andai, aku bisa kembali ke masa lalu, dan tiba-tiba sesuatu yang aneh terjadi.

Cahaya lembut muncul dari titik air mata yang jatuh pada foto tersebut, berkilauan seperti bintang kecil. Damar menatapnya dengan bingung, dan sebelum ia sempat bereaksi, cahaya itu membesar dan menyelimutinya. Dunia di sekelilingnya berputar cepat, dan dalam sekejap, semuanya menjadi gelap.

Ketika Damar membuka matanya lagi, ia tak berada di kamarnya. Ia berdiri di lapangan yang sama seperti malam ketika ia bertengkar dengan Nuca—namun kali ini, malam terasa lebih hangat, dan suara familiar terdengar dari belakangnya.

"Kenapa kau selalu seperti ini? Kenapa kau tak pernah peduli dengan apa yang aku katakan?"

Itu suaranya sendiri. Damar menoleh, dan di hadapannya, ia melihat dirinya—versi dirinya di masa lalu, yang sedang berdebat dengan Nuca. Perasaan kaget dan bingung menyergapnya. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Namun dia tidak terlalu menghiraukannya. Anggap saja ini adalah kesempatan kedua yang diberikan oleh waktu, pikirnya.

Dengan cepat, Damar yang berada di masa kini berlari mendekat, mencoba mengintervensi versi dirinya yang masih dikuasai amarah.

"Hentikan!" teriaknya, namun suaranya tidak didengar oleh siapa pun. Ia hanya bisa menonton, menyaksikan kejadian itu kembali terulang di depannya.

"Aku harap kau tidak pernah ada!" kata-kata itu akhirnya keluar lagi dari mulut versi masa lalunya.

"Jangan...!" Damar berteriak, tapi semuanya sudah terlambat. Sama seperti sebelumnya, Nuca menatap Damar dengan luka di matanya, kemudian berbalik dan pergi. Namun kali ini, Damar tak membiarkan hal itu terjadi lagi.

Dengan tekad yang membara, Damar berniat berlari mengikuti Nuca, menunggu hingga dirinya versi di masa lalu menghilang dari lapangan, hingga menemukan waktu yang tepat untuk mengejarnya. Ia merasa ada kekuatan tak terlihat yang membantunya bergerak lebih cepat. Akhirnya, ia berhasil menghentikan Nuca sebelum pria itu mencapai motornya.

"Nuca, tunggu!" Damar berteriak, suaranya memohon.

Nuca berbalik, terkejut melihat Damar berdiri di depannya. "Apa lagi sekarang? Bukankah kau sudah cukup puas?"

Damar menatapnya, air mata menggenang di matanya. "Aku... aku minta maaf. Aku tidak pernah bermaksud mengatakan hal itu. Aku hanya terlalu marah dan tak bisa mengendalikan diriku."

Nuca terdiam, tatapannya melunak sedikit. "Kau benar-benar menyakitiku, Mar. Kita sudah bersahabat sejak lama, tapi kenapa kau bisa bilang seperti itu?"

Damar menunduk, rasa bersalah mencengkram hatinya. "Aku bodoh. Aku terlalu egois. Tapi aku tidak bisa kehilanganmu. Kau sahabat terbaikku. Kau sudah seperti keluargaku sendiri..."

Nuca masih tampak ragu, namun melihat ketulusan di wajah Damar, perlahan ia mengangguk. "Kamu tahu sendiri aku tidak mungkin marah terlalu lama, Mar. Tapi kau harus belajar mengendalikan emosimu."

Damar tersenyum tipis, menyeka air mata di wajahnya. "Aku janji, aku akan belajar. Aku akan berubah."

Nuca menepuk bahu Damar, dan mereka berdiri dalam keheningan yang penuh pengertian. Saat itulah, dunia di sekitar mereka mulai bergetar lembut. Cahaya terang kembali menyelimuti Damar, menariknya dari tempat itu.

Ketika Damar membuka matanya lagi, ia kembali berada di kamarnya, tapi ada yang berbeda kali ini. Foto dirinya dan Nuca tergeletak di meja, namun kini foto itu terasa hangat di tangannya. Dan kemudian, ponselnya bergetar di saku.

"Damar, ayo main basket sore ini! Aku tunggu di lapangan ya!" Pesan itu dari Nuca. Damar tertegun, tidak menyangka. Tapi kemudian senyum lebar mengembang di wajahnya. Ia tahu semuanya telah berubah. Kali ini, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menjaga persahabatannya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 15, 2025 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Dimensi KacaWhere stories live. Discover now