BAB I

40 2 2
                                        

Arunika Renjana, nama yang seindah fajar yang menyentuh bumi dengan kehangatan pertamanya. Seperti sinar mentari yang malu-malu menyapu embun di ujung dedaunan, begitu pula kehadiran Arunika di dalam keluarganya, hangat, menyenangkan, dan selalu memberi warna bagi siapa pun di sekitarnya. Gadis itu tumbuh menjadi sosok yang ramah, penuh semangat, dan memiliki kepedulian yang besar. Ia menyayangi keluarganya dengan cara sederhana, menjadi anak yang selalu berusaha tidak merepotkan, yang belajar tanpa perlu disuruh, yang mendengar lebih banyak daripada bicara, dan yang memahami bahkan sebelum dijelaskan.

Dua minggu lagi, Arunika akan memasuki gerbang baru dalam hidupnya—Sekolah Menengah Atas. Dunia yang katanya penuh cerita, dunia yang mungkin akan membentuknya menjadi pribadi yang lebih dewasa. Berulang kali ia berbicara dengan ibunya tentang sekolah barunya, tentang betapa bersemangatnya ia mengenakan seragam putih-putih yang menurutnya tampak elegan dan berwibawa, seperti para tenaga medis yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan. Tak ada yang mengarahkannya untuk masuk ke jurusan kesehatan, tak ada yang membisikkannya pilihan itu. Seolah alam bawah sadarnya telah lama mengarahkan langkahnya ke sana. Entah dari mana ia mendapat informasi, entah dorongan dari sudut hatinya yang mana. Yang pasti, ia ingin. Dan sang ibu, seperti biasa, selalu menjadi tempat ternyaman untuk berbagi cerita, selalu menjadi pendengar yang setia tanpa pernah sekalipun mengecilkan impiannya.

"Ibu, katanya hari Minggu Aru harus ke sekolah baru," ucapnya dengan nada ceria, matanya berbinar penuh antusias.

"Kenapa? Apa untuk persiapan itu... apa namanya, Ibu lupa," ujar sang ibu dengan ekspresi berpikir.

"MOS?" Arunika mengernyit, menebak-nebak.

"Nah, iya! Itu maksud Ibu," sahutnya sambil tersenyum.

Arunika menggeleng, rambut hitamnya yang jatuh melewati bahu bergoyang ringan. "Bukan, Bu. Katanya mau mengukur baju seragam. Kan Ibu tahu sekolah Aru yang ini pakainya seragam, kayak ibu bidan itu, lho," jelasnya panjang lebar, tak bisa menyembunyikan kegembiraan yang memenuhi dadanya.

Ibunya mengangguk mengerti, lalu berkata, "Ya sudah, nanti Aru bisa diantar Bapak."

Sejenak, binar di mata Arunika meredup. Ia terdiam, membiarkan kata-kata ibunya menggantung di udara, sebelum akhirnya menghela napas pelan.

"Eh, kenapa anak Ibu?" tanya Ibu Ira, memperhatikan perubahan ekspresi putrinya.

"Ibu enggak ikut?" tanya Arunika pelan. Ada harapan tipis di suaranya, sehalus kabut yang perlahan memudar di bawah mentari pagi. "Kan Aru sudah lama enggak jalan sama Bapak sama Ibu."

Sang ibu tersenyum, senyum yang terasa lembut sekaligus menenangkan. Ia mengusap rambut putrinya dengan gerakan ringan, seolah ingin menyalurkan kehangatan melalui sentuhan kecil itu. "Adikmu masih kecil, Aru. Ibu tak tega meninggalkannya."

Arunika mengalihkan pandangannya ke arah Nirwana, adik kecilnya yang tengah sibuk dengan bola-bola warna-warni. Mata bulatnya yang jernih memantulkan keceriaan, jemari mungilnya menggenggam satu bola merah seakan itu adalah harta karun paling berharga. Arunika menghela napas lagi. Mana mungkin ia membiarkan Nirwana ditinggal ibu? Ia paham, sepenuhnya paham.

"Ya sudah, Bu," ucapnya akhirnya. Suaranya terdengar lebih pasrah dibandingkan tadi. "Aru sama Bapak aja. Aru juga sudah lama enggak diajak jalan-jalan sama Bapak."

Sang ibu tersenyum lagi, kali ini lebih lembut, lebih mendalam. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang sulit diartikan—campuran antara harapan, kekhawatiran, dan mungkin sedikit rasa bersalah yang tak terucap. Namun, ia memilih untuk tidak mengatakan apa pun selain membelai kepala Arunika sekali lagi.

Di luar, senja mulai merambat turun, mewarnai langit dengan semburat jingga yang perlahan pudar. Waktu terus berjalan, tapi ada hal-hal yang tetap tinggal di hati. Seperti harapan kecil yang masih menggantung di langit tak lagi biru milik Arunika.

ARUNIKAWhere stories live. Discover now