prolog

13 0 0
                                        

Hujan turun deras malam itu. Bau darah masih menguar di udara, bercampur dengan tanah yang basah dan tubuh-tubuh yang tak lagi bernyawa. Api membakar sisa-sisa kejayaan Kerajaan Hiori, menyisakan hanya reruntuhan dan abu.

Di tengah pemandangan mengerikan itu, seorang pemuda bersimpuh di tanah. Hiori Yo, pangeran terakhir, mengenakan jubah putih yang kini ternoda merah. Tangan dan kakinya diikat rantai sihir, kekuatannya tersegel, dan di hadapannya berdiri pria yang telah merenggut segalanya darinya.

Itoshi Rin.

Raja Penakluk itu menatapnya dengan sorot mata dingin. Tubuhnya berlumuran darah, pedang di tangannya masih meneteskan nyawa musuh-musuhnya. Tidak ada belas kasih dalam matanya, hanya tatapan seorang pemenang yang baru saja merebut hadiah utamanya.

“Lihat dirimu sekarang,” suara Rin terdengar rendah, nyaris seperti bisikan. “Pangeran terakhir Kerajaan Hiori… kini hanya seekor burung yang sayapnya patah.”

Hiori menahan amarah yang mendidih di dadanya. Dia ingin membalas, ingin menusukkan belati ke jantung pria itu, tapi tubuhnya tidak bisa bergerak. Rantai sihir yang melilitnya bukan hanya mengekang tubuhnya, tapi juga jiwanya.

Rin mendekat, lalu berlutut di hadapannya. Jari-jari kasarnya mencengkeram dagu Hiori, memaksa pemuda itu menatap langsung ke matanya.

Mata seorang raja. Mata seorang pemilik.

“Aku akan memberimu dua pilihan,” lanjut Rin, suaranya setenang angin sebelum badai. “Menjadi milikku… atau mati di tempat ini.”

Hiori terdiam.

Dingin.

Hujan terus turun. Jantungnya berdegup kencang. Napasnya memburu. Dia tahu, tidak ada kebebasan dalam kedua pilihan itu.

Namun, saat bibirnya terbuka untuk menjawab, dia tidak tahu bahwa keputusannya malam itu akan mengubah takdir kerajaan, dunia, dan dirinya sendiri.

---

END PROLOG

Beneath the Bloody ThroneStories to obsess over. Discover now