prolog

95 8 1
                                        

Sabiru selalu berpikir kalau hidupnya bakal damai. Nggak ada drama, nggak ada orang ribet yang harus diurus. Tapi semua itu cuma angan-angan, karena sejak kecil, Aksa selalu ada.

Dulu mereka musuhan. Aksa si bocah berisik yang nggak bisa diem, sementara Sabiru cuma mau hidup tenang. Mereka selalu ribut, saling menjatuhkan, saling membenci. Tapi entah bagaimana, semuanya berubah.

SMP, mereka jadi sahabat.
SMA, mereka semakin dekat.
Sekarang, mereka bahkan terjebak dalam satu kamar di asrama.

Sabiru pikir, semua ini cuma kebetulan. Sampai akhirnya dia sadar—Aksa nggak pernah benar-benar membiarkannya pergi.

Dan yang lebih mengganggu? Sabiru nggak yakin dia benar-benar ingin pergi.

---

"Lo kenapa sih?" suara Sabiru terdengar tajam di dalam kamar sempit itu.

Aksa, yang sedang tiduran di ranjangnya, hanya melirik malas. "Kenapa apanya?"

"Kenapa lo selalu ada di hidup gue?" Sabiru mendengus. "Dari SD, SMP, SMA... sekarang kita satu kamar di asrama. Ini udah keterlaluan, Aks."

Aksa menyeringai, duduk perlahan dan menatap Sabiru dengan mata yang sulit dibaca. "Lo nyalahin gue?"

Sabiru terdiam.

Aksa mendekat, suaranya merendah. "Lo pikir gue yang nggak bisa lepas dari lo?"

Hening.

Sabiru nggak suka ini. Nggak suka cara Aksa bicara, nggak suka cara dia mendekat, nggak suka cara jantungnya berdetak lebih kencang.

Dan yang paling dia nggak suka? Aksa benar.

Stuck With youWhere stories live. Discover now