[ Moqeel Story 1 ]
"Dulu, kukira Fattag adalah seseorang yang bisa kuharapkan setelah Papa mengkhianati Mama.
Tapi ternyata, dia juga yang menggoreskan luka diatas luka lama yang belum sembuh itu." ~AQEELA CALISTA BRAMWIJAYA~
"Maaf, Aqeela..." ~F...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
***
"Jadi, selama ini kamu susah dihubungin, karena kamu udah punya cewek lain selain aku?!" ujar Aqeela saat dirinya tak sengaja memergoki Fattah dan Zara berduaan ditaman belakang sekolah.
Kedua orang itupun terkejut dengan kehadiran Aqeela disana. Mereka tidak mengira kalau Aqeela akan mengetahui rahasia yang selama ini mereka simpan rapat² secepat ini.
Aqeela pasti salah paham.
"Aqeela, kamu tenang dulu. Okey?" ujar Fattah sembari menyentuh kedua pipi Aqeela, namun segera ditepis oleh pacarnya itu.
Aqeela benar-benar marah sekarang. Apa Fattah tidak mengerti juga dengan raut wajah Aqeela yang mengencang itu?
"Aku nggak bisa tenang Fattah, dan aku gak terima kamu giniin aku. Aku gak nyangka aja, kamu bakal perlakuin aku kayak gini setelah apa yang udah aku korbanin buat kamu. Mulai dari waktu aku, hati aku, bahkan hidup aku, semua aku kasih ke kamu Fattah ..."
"Karena aku fikir, kita bakalan jadi pasangan selamanya,"
"Tapi, apa yang aku dapetin dari kamu ? Kata² sayang, cinta, dan perhatian dari kamu aja aku belum pernah dapetin selama kita pacaran. Sememtara dia, Zara. Temen yang baru beberapa minggu aku anggep sahabat malah yang dapetin semua itu dari kamu,"
"Kamu jahat, Fattah..." ucap Aqeela lirih, sebagai akhir dari luapan emosinya.
Air mata yang sedari tadi mengalir kini semakin deras. Rasanya Aqeela tidak sanggup lagi untuk tetap ada disana.
Tanpa berfikir panjang, Aqeela pun beranjak dari tempat itu tanpa memperdulikan panggilan dari Fattah dan juga Zara.
Aqeela terus berlari dengan berderai air mata. Hatinya sakit. Nafasnya sesak. Aqeela merasa dirinya tak berarti apa-apa untuk Fattah. Setelah semua apa yang Aqeela lakukan untuk laki-laki itu.
Pandangannya yang semakin buram karena deraian air mata, membuatnya menabrak seseorang dengan cukup keras dari arah berlawanan. Tubuh mungilnya seketika jatuh kedalam pangkuan seseorang yang Aqeela tak tau siapa itu.
"Lo nggak papa?" suara bass seketika merasuk ke indera pendengaran Aqeela.
Sadar bahwa ia menabrak seorang cowok, Aqeela segera bangkit. Sembari membenahi rambutnya yang berantakan, Aqeela menjawab cepat tanpa menatap orang itu. Mengingat kedua matanya kini pasti terlihat sembab karena habis menangis.
"It's okay. Gue juga yang salah tadi jalan agak meleng," jelas cowok itu.
"Sorry... Gue buru-buru. Gue mau ke kelas," pamit Aqeela, yang lagi dan lagi tidak memperdulikan lawan bicaranya.
***
Sementara di dalam kelas, seorang guru tengah menyampaikan sebuah pengumuman kepada murid-muridnya bahwa kelas mereka kedatangan murid baru.
Murid baru tersebut diminta untuk memperkenalkan diri. Setelahnya ia pun diarahkan oleh sang guru untuk menduduki sebuah bangku kosong yang terletak di urutan kedua dari belakang. Tepat bersebelahan dengan tembok kelas itu.
Dan di sebelahnya lagi tampak seorang murid perempuan tengah bertopang dagu seperti sedang melamun. Ibu Guru pun lantas menegur murid tersebut disaksikan muridnya yang lain.
"Aqeela Calista!! Kamu dengar ibu panggil kan?"
Tubuh mungil Aqeela tersentak kaget. Bayangan peristiwa pagi tadi seketika buyar karena suara sang guru yang memenuhi ruang kelas. Aqeela sendiri juga dibuat bingung karena sibuk melamun. Entah sejak kapan Ibu Guru masuk ke kelasnya.
"Aqeela ngelamun tuh bu!!" teriak salah seorang murid diikuti tawa teman-teman sekelasnya.
Aqeela menggigit bibir bawahnya---malu.
"Iya, ada apa bu?" Aqeela memberanikan diri bertanya.
Belum juga ia mendapat jawaban, matanya justru tertuju pada seorang laki-laki berseragam sama sepertinya berdiri tepat disebelah Ibu Guru.
Iris Aqeela menelisik penampilan cowok itu dari atas sampai bawah. "Siapa dia? Murid baru?"
"Nak Mohan, itu namanya Aqeela. Kamu silahkan duduk di bangku kosong yang ada disamping Aqeela, ya?" ujar Ibu Guru.
Mohan mengangguk, dan kemudian berjalan menuju bangku yang dimaksud. Sementara Aqeela berusaha menutupi wajahnya dengan buku. Ia takut ketahuan kalau barusan ia memperhatikan cowok itu.
"Jadi nama lo Aqeela ??" tanya Mohan, sembari mengintip dari balik buku yang Aqeela gunakan.
Bak maling yang tertangkap basah oleh sang pemilik, Aqeela perlahan membuka buku tersebut dan membalas ucapan Mohan dengan malas.
"Udah tau nanya,"
"Gue Mohan," balas Mohan memperkenalkan diri dengan mengulurkan tangannya.
"Kan tadi Bu Guru udah nyebut nama lo. Kenapa ngasih tau gue lagi?" tanya Aqeela.
"Yaa kan biar resmi kenalannya," jawab Mohan santai.
"Oh. Gue Aqeela," Aqeela membalas uluran tangan Mohan sebentar sebelum akhirnya ia kembali menarik tangannya.
"Iya gue juga udah tau nama lo Aqeela, hahaa.."
Aqeela menghela nafas kasar mendengar ledekan dari Mohan, siswa baru yang ternyata kini menjadi teman sekelasnya.
Apakah ini akan menjadi awal yang baik atau buruk untuk Aqeela?
Yang jelas kehadiran Mohan untuk pertama kalinya ini membuat Aqeela merasakan sesuatu yang entah apa itu.
Sementara Mohan, ia merasa pertemuannya dengan Aqeela seperti sebuah kebetulan. Sejak kejadian tabrakan dikoridor sekolah tadi, Mohan melihat ada yang beda dari sosok Aqeela Calista.
***
Inspirasi cerita : Sinetron "Asmara GenZ" Mohon maaf apabila di bab awal ini alurnya hampir mirip dengan sinetron yang lagi booming di SCTV Tapi alur kedepannya bakalan aku modif kok biar nggak sama persis.
Okey sampai disini dulu pembuka ceritanya, mohon tinggalkan jejak kalian jika suka yaaa Dan koment 👇👇👇