(9) You. Yes. You

5K 254 53
                                        

Aurel tak tahu apa yang dilakukannya di sini. Ia menatap gedung sekolahnya dan mendesah. Astran sudah pergi. Aurel berusaha menguatkan diri demi menghadapi kenyataan bahwa dia tidak akan pernah bertemu dengan Astran lagi. Saat memikirkan itu, satu-satunya tempat yang terpikir olehnya adalah mading 'pribadi' itu. Alih-alih pergi ke pusat keramaian di hall, bergabung dengan murid lain dengan gaun pesta dan tuksedo mereka, Aurel malah menuju ke tempat mading itu berada.

Berusaha untuk tidak terlalu merutuki gaunnya dalam perjalanannya ke mading itu, Aurel melangkah hati-hati agar tidak tersandung gaunnya sendiri. Ia tak punya pilihan lain karena ibunya yang mengirimkanna langsung dan meminta fotonya karena orang tuanya tidak bisa datang malam ini. Penerbangan mereka ditunda, dan mungkin mereka akan tiba larut nanti.

Dan begitu Aurel tiba di depan mading eksklusif, betapa terkejutnya Aurel ketika mading itu tidak kosong. Sebuah kertas dengan tulisan tangan Astran itu membuat Aurel tak dapat berkata-kata dan ingin menangis.

Segala hal yang indah adalah dirimu

Keindahan adalah tentang dirimu

Kesempurnaan adalah dirimu

Bahkan meskipun aku akan melihat ketidaksempurnaanmu

Kau tetap menjadi bagian yang menyempurnakan hidupku

Aku takkan pernah bisa berhenti mencintaimu

Bahkan meskipun kau telah menyakitiku

Aku telah bersikap begitu bodoh

Dan aku telah menyakitimu

Aku hanya terlalu takut untuk kehilanganmu

Tapi tetap saja aku telah menyakitimu

Dan itu menyakitiku lebih dari apapun juga

Kau menginginkanku untuk pergi

Jika memang itu yang kau inginkan

Maka ya. Aku pergi.

Karena aku terlalu mencintaimu untuk melihatmu terluka lagi

Olehku.

I'm a jerk

I'm a fool

I'm in love...

With you...

Still n Forever,

An Idiot

Aurel menekap mulutnya, berusaha menahan isak tangisnya. Ia berbalik dan berniat pergi dari tempat itu ketika ia mendengar namanya dipanggil.

"Aurel," menyusul suara itu, seketika lapangan basket penuh cahaya lampu. Sorakan riuh meramaikan suasana ketika murid-murid keluar dari koridor dan bergabung di lapangan basket yang sekarang sudah dipasang panggung. Aurel menatap Astran yang berdiri di atas panggung dengan tak percaya. Astran masih di sini. Dan tadi Astran memanggilnya. "Lo paling tau kelemahan gue, lo paling tau kalo gue dendam ama segala hal tentang tulis-menulis, tapi lo nggak pernah tau kalo gue bakal ngelakuin apapun, termasuk nulis perasaan gue dan ngungkapin perasaan gue di depan semua orang, demi elo. It's for you, Aurel. You. Yes. You," kata Astran seraya tersenyum pada Aurel yang terpaku di koridor tanpa bisa mengalihkan tatapan dari Astran.

Ya. Astran telah melakukan terlalu banyak hal untuk Aurel. Astran tidak pernah merendahkan harga dirinya demi apapun juga. Tapi berminggu-minggu kemarin, Astran melakukan itu untuknya. Astran tidak pernah mau menulis dan mengungkapkan perasaannya, tapi tadi dia melakukannya. Untuk Aurel. Hanya untuknya.

You. Yes. You. (End)Where stories live. Discover now