Aurel tak tahu apa yang dilakukannya di sini. Ia menatap gedung sekolahnya dan mendesah. Astran sudah pergi. Aurel berusaha menguatkan diri demi menghadapi kenyataan bahwa dia tidak akan pernah bertemu dengan Astran lagi. Saat memikirkan itu, satu-satunya tempat yang terpikir olehnya adalah mading 'pribadi' itu. Alih-alih pergi ke pusat keramaian di hall, bergabung dengan murid lain dengan gaun pesta dan tuksedo mereka, Aurel malah menuju ke tempat mading itu berada.
Berusaha untuk tidak terlalu merutuki gaunnya dalam perjalanannya ke mading itu, Aurel melangkah hati-hati agar tidak tersandung gaunnya sendiri. Ia tak punya pilihan lain karena ibunya yang mengirimkanna langsung dan meminta fotonya karena orang tuanya tidak bisa datang malam ini. Penerbangan mereka ditunda, dan mungkin mereka akan tiba larut nanti.
Dan begitu Aurel tiba di depan mading eksklusif, betapa terkejutnya Aurel ketika mading itu tidak kosong. Sebuah kertas dengan tulisan tangan Astran itu membuat Aurel tak dapat berkata-kata dan ingin menangis.
Segala hal yang indah adalah dirimu
Keindahan adalah tentang dirimu
Kesempurnaan adalah dirimu
Bahkan meskipun aku akan melihat ketidaksempurnaanmu
Kau tetap menjadi bagian yang menyempurnakan hidupku
Aku takkan pernah bisa berhenti mencintaimu
Bahkan meskipun kau telah menyakitiku
Aku telah bersikap begitu bodoh
Dan aku telah menyakitimu
Aku hanya terlalu takut untuk kehilanganmu
Tapi tetap saja aku telah menyakitimu
Dan itu menyakitiku lebih dari apapun juga
Kau menginginkanku untuk pergi
Jika memang itu yang kau inginkan
Maka ya. Aku pergi.
Karena aku terlalu mencintaimu untuk melihatmu terluka lagi
Olehku.
I'm a jerk
I'm a fool
I'm in love...
With you...
Still n Forever,
An Idiot
Aurel menekap mulutnya, berusaha menahan isak tangisnya. Ia berbalik dan berniat pergi dari tempat itu ketika ia mendengar namanya dipanggil.
"Aurel," menyusul suara itu, seketika lapangan basket penuh cahaya lampu. Sorakan riuh meramaikan suasana ketika murid-murid keluar dari koridor dan bergabung di lapangan basket yang sekarang sudah dipasang panggung. Aurel menatap Astran yang berdiri di atas panggung dengan tak percaya. Astran masih di sini. Dan tadi Astran memanggilnya. "Lo paling tau kelemahan gue, lo paling tau kalo gue dendam ama segala hal tentang tulis-menulis, tapi lo nggak pernah tau kalo gue bakal ngelakuin apapun, termasuk nulis perasaan gue dan ngungkapin perasaan gue di depan semua orang, demi elo. It's for you, Aurel. You. Yes. You," kata Astran seraya tersenyum pada Aurel yang terpaku di koridor tanpa bisa mengalihkan tatapan dari Astran.
Ya. Astran telah melakukan terlalu banyak hal untuk Aurel. Astran tidak pernah merendahkan harga dirinya demi apapun juga. Tapi berminggu-minggu kemarin, Astran melakukan itu untuknya. Astran tidak pernah mau menulis dan mengungkapkan perasaannya, tapi tadi dia melakukannya. Untuk Aurel. Hanya untuknya.
YOU ARE READING
You. Yes. You. (End)
Teen FictionIni cerita tentang Astran, yang memiliki masa lalu gelap yang mendorongnya menjauh dari orang-orang, dan Aurel, yang hampir seumur hidupnya menjalani hidup bagaikan seorang putri. Dan ketika dunia mereka bertemu, sebuah cerita dimulai. Tentang pange...
