PROLOG

7 2 2
                                        

Arlan menatap gadis didepannya dengan keseriusan memancar jelas dalam netra teduhnya.

"Gea, aku pengen kita bisa jauh lebih serius. Aku bakal bahagiain kamu, tolong percaya sama aku." pinta Arlan, sembari meremas lembut tangan kekasihnya dalam tautan genggam.

Suaranya mengalun lembut, berharap kali ini niat seriusnya mendapatkan jawaban yang berbeda. Namun, kalimat sahutan dari Gea membuatnya tertunduk disertai helaan napas lelah.

"Arlan, aku belum siap. Sorry, tapi apa gak bisa kalo kita begini dulu aja?"

Jujur saja, Arlan telah muak mendengarnya. Selalu saja itu yang dikatakannya, ditambah lagi Gea tak pernah menjelaskan alasan dibalik itu.

"Apa 5 tahun ini kurang buat kamu bisa siap? Sampe kapan kamu bakal bilang gitu? Gea, aku beneran serius sama kamu. Aku sayang tulus sama kamu. Gimanapun itu caranya, aku bakal usahain buat terus bahagiain kamu." sahut lelaki itu berusaha tak menaikkan nada suaranya.

Namun perkataan itu berhasil menarik jatuh air mata si gadis. Kesedihan bagai kabut, kala mendengar keyakinan dalam ucapan Arlan. Ia ingin membuat seluruh isi hatinya untuk percaya, namun rasa takut masih mengganggu pikirannya. Semakin ia merasa bersalah dengan berbagai untaian kalimat Arlan yang diingatnya.

"Maaf Arlan, tapi aku takut. Aku takut kalo kita nantinya bakal sama. Aku takut, Arlan." katanya pelan disertai tangisan yang kian menjadi.

"Apa yang kamu takutin, Gea?" tanya Arlan sembari mengusap air mata yang mengalir di pipi kekasihnya.

Meski pertanyaan itu terdengar jelas, namun tak ada jawaban kecil saja terdengar. Hanya suara tangis yang tak kunjung henti. Arlan tidak lagi ingin menuntut kalimat apapun dari Gea. Lelaki itu lebih memilih diam dengan banyak pertanyaan menari di kepalanya.

To już koniec opublikowanych części.

⏰ Ostatnio Aktualizowane: Jan 27, 2025 ⏰

Dodaj to dzieło do Biblioteki, aby dostawać powiadomienia o nowych częściach!

Takut ini MenggangguOpowieści tętniące życiem. Odkryj je teraz