Bab 1: Celah di Kesempurnaan

32 2 2
                                        

"...jadi, kalau massa dan energi setimbang, maka..."

Suara Pak Aditya terus mengalir dari depan kelas, tapi Randi udah berhenti dengerin sejak lima menit pertama. Kepalanya bersandar ke tangan, matanya setengah merem. Di tangannya, sebuah pulpen hitam yang ujungnya udah buluk dia puter-puter, kayak biar keliatan sibuk padahal cuma cari alasan buat nggak tidur.

Kelas terasa gerah. Kipas angin di pojokan muter-muter lemah kayak nggak niat kerja. Udara panas bikin suasana makin bikin ngantuk. Beberapa temannya kelihatan mulai angkat bendera putih; ada yang nyender di meja, ada yang udah buka buku sambil nyoret-nyoret nggak jelas.

Randi ngelirik jam dinding di atas pintu kelas. Jarum detiknya seolah jalan pelan banget, kayak sengaja nyiksa anak-anak yang udah nggak sabar pulang.

"Hidup kayak gini terus, bosan banget," gumamnya dalam hati. Dia ngelirik papan tulis penuh coretan rumus yang lebih mirip sandi alien daripada sesuatu yang masuk akal. Setiap hari rasanya sama aja: sekolah, tugas, belajar, tidur, ulangi.

Dia selalu ngebayangin, gimana rasanya kalau hidupnya berubah jadi kayak di komik-komik aksi favoritnya? Ada kejadian ajaib, dapet kekuatan super, terus tiba-tiba dia jadi pahlawan yang nyelametin dunia. Tapi ya, dia sadar, hidupnya nggak bakal kayak gitu. Paling banter juga jadi mahasiswa biasa, kerja kantoran, selesai.

Matanya jatuh ke pulpen di tangannya. Pulpen itu punya tutup biru dengan garis kecil di tengah. Dia muter-muter pulpen itu, iseng banget sampai akhirnya dia ngeh kalau di badan pulpennya juga ada garis kecil. Dua garis itu kayak... nyambung?

"Ih, aneh banget, ya. Kalau garis ini sejajar terus dipencet, bakal kejadian apa?" pikirnya. Dia sendiri ngerasa konyol, tapi rasa penasaran ngalahin logikanya.

Tangannya pelan-pelan muter tutup pulpen itu, nyocokin garis di tutup sama garis di badan pulpen. Dia nahan napas waktu garis-garis itu akhirnya pas banget sejajar. Lalu, tanpa pikir panjang lagi, dia tekan tutup pulpennya.

Dan di detik itu juga, semuanya berubah.

Udara di sekelilingnya kayak jadi berat. Suara kipas angin di atas kepala terdengar melambat, hampir kayak musik yang diputar mundur. Randi melirik ke kanan-kiri. Teman-temannya masih di tempatnya masing-masing, nggak ada yang berubah. Tapi rasanya ada sesuatu yang... beda.

Dia menggerakkan tangannya. Pulpen itu masih ada di sana, tapi—tunggu. Dia melotot. Pulpen itu... melayang.

Randi membelalakkan matanya, nggak percaya dengan apa yang dia lihat. Pulpen itu melayang di atas telapak tangannya, kayak ada tali tak kasat mata yang ngangkatnya.

Dia coba gerakin jarinya, dan anehnya, pulpen itu ngikutin. Dengan pelan, dia berhasil ngeluarin ujung pulpen, masukin lagi, bahkan muterin tutupnya tanpa nyentuh.

"Apa-apaan ini?" bisiknya dengan suara serak.

Jantungnya berdebar kencang. Ini bukan cuma melayang. Rasanya dia bisa ngerasain semua tentang pulpen itu—beratnya, jumlah tinta yang tersisa, bahkan tekstur plastiknya. Semuanya kayak data yang langsung masuk ke otaknya.

Dia melirik ke depan. Pak Aditya masih sibuk nyoret-nyoret di papan tulis. Teman-temannya nggak ada yang merhatiin. Dia balik ngeliat ke pulpen itu.

"Gila, ini beneran? Atau cuma mimpi?"

Randi coba eksperimen lagi. Dia fokus ke tinta dalam pulpen. Ajaibnya, dia bisa "ngerasa" tinta itu bergerak, bahkan ngendaliin arahnya. Tapi pas dia mau coba bikin tinta keluar sendiri, suara keras dari depan bikin dia kaget.

"Randi, ngapain kamu?"

Dia tersentak. Pulpen itu langsung jatuh ke meja, bunyi klak kecil yang rasanya bikin seluruh ruangan langsung sunyi. Semua mata mendadak ngeliat ke arahnya.

The CatalystTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang