Bab 1

39 3 1
                                        

One

Two

Three

Four

Five

Six

Seven

Eight

"Okay,.ayo semangat, power nya di pakai jangan lemes!."

Terlihat di sebuah ruangan yang didominasi warna hitam putih dengan kaca besar terpasang didinding ruangan, yang memantulkan bayangan dari sekelompok anak remaja yang sedang menari-nari mengikuti irama lagu

"Okey, kita break dulu ya."

"Baik Coach."

Setelah mendapatkan arahan dari coach nya sekelompok anak remaja tadi pun segera bubar untuk beristirahat.

Sama halnya dengan gadis yang saat ini sedang beristirahat sambil memandangi dirinya sendiri, peluh membasahi dahi gadis tersebut. Ia terus melamun entah apa yang sedang ia pikirkan.

"Arunika!" Sampai seseorang memanggil namanya.

Seorang gadis lain mendekat dengan botol minum di tangannya, wajahnya terlihat khawatir melihat teman di depannya yang terlihat kelelahan.

"Ru, are you okay?" Tanya gadis tersebut dengan khawatir

"Yeah, I'm fine," jawab gadis itu sambil mengusap peluh di dahinya dengan handuk kecil. Napasnya terdengar masih tersengal-sengal, tapi ia memaksakan senyum kecil untuk meyakinkan temannya.

"You're pushing yourself too hard again," gadis itu menggeleng pelan. "Coach bilang kita break bukan cuma buat formalitas, lo harus benar-benar istirahat."

Arunika menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berpacu. "Gua cuma nggak mau ketinggalan. Latihan ini penting buat kita semua."

"Dan penting juga buat lo nggak jatuh pingsan di tengah-tengah latihan," balas temannya sambil menyodorkan botol air. "Nih Minum dulu."

Arunika menerima botol itu dengan anggukan kecil, meneguk airnya dengan cepat. Sesaat, dia melirik kaca besar yang memantulkan dirinya. Dalam bayangan itu, dia melihat bukan hanya refleksi dirinya, tapi juga harapan dan beban yang dia pikul untuk grup mereka.

"Thanks, Nay," ucap Arunika akhirnya. "Gua cuma nggak mau ngecewain semuanya."

Naya, gadis yang membawakan botol itu, tersenyum lembut. "Lo nggak perlu jadi sempurna buat bikin kita bangga. Jangan lupa, ini perjalanan bareng-bareng, bukan cuma tentang lo."

Arunika mengangguk pelan. Kata-kata itu seakan meredakan beban di pundaknya, meskipun hanya sedikit. Dia tahu, perjalanan mereka sebagai grup masih panjang, dan setiap langkah, betapapun kecilnya, punya arti.


Tbc

Mohon maaf bila ada kata yang kurang🙏🏻

Saat Langkah Terhenti (REVISI)Stories to obsess over. Discover now