“Plak!"
Suara tamparan itu memecah udara ruang kelas seperti cambukan. Keras, kasar, dan tanpa sedikit pun rasa ragu. Seluruh ruangan yang semula dipenuhi suara diskusi mata kuliah medis mendadak senyap. Puluhan pasang mata reflek menoleh ke satu titik.
Seorang gadis baru saja terjatuh bersimpuh di lantai. Rambut hitamnya yang tergerai menutupi sebagian wajahnya. Pipi kirinya memerah, jelas terlihat bekas telapak tangan. Napasnya terengah, dadanya naik turun menahan perih dan rasa malu yang bercampur jadi satu.
Gadis itu cantik. Sangat cantik. Kulit putih bersih, hidung mancung, mata besar yang seharusnya bersinar percaya diri. Tubuhnya proporsional, tinggi semampai. Tapi saat ini, semua keindahan itu seolah tenggelam di balik posisi menyedihkan dan tatapan kosong yang berusaha keras menahan air mata untuk tidak keluar.
Tak satu pun bergerak.
Padahal kelas itu dipenuhi mahasiswa kedokteran tingkat tiga. Calon dokter. Calon penyelamat nyawa. Tapi tak ada satu tangan pun yang terulur. Tak ada satu suara pun yang berani memprotes atau sekedar membela dirinya.
Bukan karena mereka tak peduli. Justru karena mereka terlalu peduli pada keselamatan diri sendiri.
Semua itu karena sosok yang berdiri di hadapan gadis malang itu, Wilona Bagaskara.
Putri wali kota. Ratu tak resmi kampus. Wajahnya cantik dengan riasan sempurna, rambut panjang tersisir rapi. Sepatunya mengilap. Seragamnya tampak mahal. Tapi matanya dingin. Mulutnya melengkung dalam senyum tipis penuh penghinaan.
Arogansi Wilona bukan rahasia. Ia terbiasa memerintah, menekan, dan mempermalukan siapa pun yang dianggap lebih rendah. Dan gadis yang terjatuh di lantai itu adalah target favoritnya. Bukan sekadar korban. Lebih pantas disebut properti.
Budak.
Semua orang tahu. Semua orang melihat. Tapi semua orang memilih diam dan tidak berani bersuara.
Bukan tanpa alasan. Selain status keluarganya, Wilona punya tameng lain yaitu kakaknya. Seorang mahasiswa teknik yang terkenal bengis. Atlet MMA. Tubuhnya besar. Pukulan dan tendangannya bukan untuk olahraga semata tapi untuk menindas siapapun yang tidak disukainya. Ia menikmati rasa sakit orang lain seperti layaknya sebuah hiburan.
Pernah ada satu mahasiswa yang cukup bodoh atau cukup berani untuk menegur Wilona. Esoknya, pria itu ditemukan babak belur di gedung kosong belakang kampus. Wajahnya hampir tak dikenali. Tulang rusuknya retak. Dan yang lebih parahnya, beberapa hari kemudian, ia dikeluarkan secara tidak hormat dari universitas.
Kasusnya lenyap. Seolah tak pernah ada.
Sejak saat itu, semua orang paham satu hal. Melawan Wilona sama saja dengan bunuh diri.
“Wosh!”
Tatapan Wilona menyapu seisi kelas, tajam dan mengancam. Seketika kepala-kepala yang tadi berdiri tegak kearahnya seketika menunduk. Semua berpura-pura sibuk dengan buku, tablet, atau catatan mereka. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Hanya gadis malang itu yang tersisa di lantai.
“Budak goblok,” hardik Wilona dingin dan penuh racun.
“Lu budek ya? Gue suruh lu beli jus empat. Kenapa yang datang cuma dua, hah?”
Gadis malang itu menggigit bibirnya. Tangannya gemetar menyangga tubuhnya saat berusaha bangkit.
“A-aku... aku,”
“Aku apa?” Wilona mendekat. Sepatunya menghentak lantai, “Gak punya duit? Gue gak peduli!”
Wilona mencondongkan tubuhnya, wajahnya hanya beberapa senti dari wajah gadis malang itu. Bau parfum mahal bercampur dengan aura ancaman.
“Terserah lu mau dapetinnya gimana. Mau ngemis, mau jual diri, mau mati kelaparan, gue gak peduli. Yang penting pesenan gue lengkap.”
Ia menendang ringan bahu gadis itu dengan ujung sepatunya. Tidak kuat, tapi cukup untuk membuatnya terhuyung.
“Sepuluh menit,” lanjut Wilona. “Kalau lu balik tanpa empat jus, lu tau sendiri akibatnya.
"Bu-bukannya kurang dua? Aku...?"
"Plak!"
Saat gadis malang itu ingin protes, sebuah tamparan lainndatang menambah perih jejak tamparan yang masih membekas sebelumnya.
"Gue gak peduli! Kalau gue bilang empat, ya empat. Ngerti?" Bentak Wilona tidak peduli.
Gadis malang itu menelan ludah. Ketakutan jelas terlihat di matanya. Tapi ia tidak menangis. Tidak memohon. Ia hanya mengangguk kecil, lalu berjalan keluar dengan langkah tertatih.
“Lu sadis banget kalau sama si Zanna, Lona,” ujar salah satu teman Wilona tertawa.
“Iya, tapi lucu sih. Dia tahan banting,” sahut yang lain.
“Hahaha, budak paling setia se-kampus,” tambah yang ketiga.
Tawa mereka menggema, menusuk punggung gadis itu.
Namanya Zanna Kirania Fitri.
Anak yatim piatu. Ibunya meninggal saat ia berusia tiga tahun. Ayahnya bahkan tak pernah sempat ia lihat. Yang ia tahu hanya satu. Ayahnya adalah seorang prajurit yang gugur saat menjalankan tugas. Tak ada foto. Tak ada cerita. Hanya sebuah nama yang bahkan tak pernah diucapkan oleh ibunya ataupun neneknya.
Zanna pernah punya ibu angkat. Pernah punya saudara angkat. Tapi mereka menghilang tanpa jejak saat ia berusia lima tahun. Setahun kemudian, kakeknya meninggal akibat kecelakaan. Sejak itu, dunia Zanna seolah mengecil menjadi satu rumah tua dan seorang nenek renta.
Hidup mereka sederhana. Gaji pensiun kakeknya nyaris tak cukup. Karena itu Zanna belajar mandiri sejak kecil. Bekerja sambilan. Menghemat uang. Menahan lapar. Menahan lelah.
Tapi ia cerdas. Sangat cerdas. Dan keras kepala dalam hal mimpi.
Ia ingin menjadi dokter sama seperti ibunya dulu.
Itu sebabnya ia bertahan. Menggertakkan gigi. Menelan hinaan. Membiarkan Wilona memperlakukannya seperti sampah.
Ia tidak pernah bercerita pada neneknya. Tidak pernah mengeluh. Baginya, rasa sakit hari ini tak ada apa-apanya dibanding impiannya di masa depan.
Zanna dan Wilona dulu pernah berteman, saat mereka masih sama-sama ditingkat SLTP. Bahkan hubungan keduanya cukup dekat. Sampai kecantikan dan kecerdasan Zanna mulai mencuri perhatian. Sampai cowok yang disukai Wilona justru menyatakan cinta pada Zanna, tepat di hari ulang tahun Wilona.
Zanna menolak cowok tersebut. Tapi kebencian tak butuh alasan logis.
Sejak itu, Wilona mulai berubah. Dari teman menjadi algojo.
Di luar gedung, Zanna berjalan dengan kepala tertunduk. Tangannya menggenggam dompet kecil. Di depannya, dua cup jus di etalase kantin tampak mengejeknya.
Itu adalah uang terakhirnya, hasil kerja sambilannya kemarin.
Jika ia membeli dua lagi, maka terpaksa ia harus pulang jalan kaki lagi. Sama seperti kemarin, dan kemarinnya lagi.
Zanna menghela napas panjang.
Pilihan apa yang ia punya?
Dengan tangan gemetar, ia menyerahkan uang itu. Empat cup jus kini berada di tangannya. Beban di tangannya terasa lebih ringan dibanding beban di dadanya.
“Gadis cantik yang malang,” gumam pelayan kantin lirih.
Semua orang tahu nasib Zanna. Tapi tahu saja tidak cukup untuk mengubah apa pun.
Zanna berbalik dan saat ia hendak melangkah, ia tidak sengaja menabrak tubuh seseorang.
“Bugh!”
Zanna tak sempat bereaksi. Jus di tangannya hampir tumpah. Tubuhnya oleng.
“Ahk!”
Sebuah tangan kuat menahan pinggangnya.
“Ma-maaf, saya...” ucap Zanna terbata-bata sambil memperhatikan jus ditangannya tanpa sempat melihat siapa sosok yang baru saja ditabraknya. Ia takut jika ia harus membeli minuman lagi, sementara ia sudah tidak memiliki sisa uang sama sekali.
“Kak Anna.”
Satu panggilan itu membuat dunia seolah berhenti berputar.
Zanna membeku. Jantungnya berdegup keras. Perlahan, ia mengangkat wajahnya.
Hanya satu orang yang memanggilnya dengan panggilan seperti itu.
Zanna mengangkat wajahnya.
Seorang pemuda berdiri di hadapannya. Tinggi, tegap dan berkulit sedikit kecoklatan. Rahangnya tegas, matanya tajam tapi hangat. Aura disiplin dan kekuatan terpancar jelas.
Wajah itu terlihat asing. Tapi panggilan itu tidak.
“Kak Anna?” suara Zanna nyaris bergetar.
“Za... Zaha?”
Pemuda itu tersenyum kecil. Senyum yang dulu sering ia lihat di masa kecil. Senyum yang menghilang bertahun-tahun lalu.
“Lama gak ketemu, Kak,” ucap pemuda itu pelan sambil tersenyum.
Zanna menatapnya tak percaya. Dunia yang selama ini penuh tekanan, hinaan, dan kesepian mendadak retak.
Zaha.
Anak yang dulu selalu bersembunyi di belakangnya. Anak yang selalu memanggilnya Kak Anna dengan mata berbinar. Anak yang menghilang tanpa kabar.
Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya jatuh. Tanpa suara. Tanpa isak.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Zanna merasa jika ia tidak sendirian lagi.
YOU ARE READING
KILLER ZAHA
ActionLanjutan dari novel "ZAHA REBORN" Zaha dikenal sebagai tentara bayaran paling mematikan di generasinya-dingin, disiplin, dan tak terkalahkan. Namun suatu hari, ia menghilang dari medan pertempuran, seakan ditelan bumi. Dunia bawah tanah berspekulasi...
