Bab 01

1.6K 115 5
                                        

Matahari sore di sudut kota Tokyo memancarkan semburat warna jingga yang hangat, menembus kaca jendela apartemen minimalis bernuansa putih itu. Di ruang tengah, Xiao Zhan baru saja meletakkan cangkir tehnya, berniat untuk meluruskan punggung setelah seharian bergelut dengan sif yang padat di rumah sakit. Namun, keheningan itu tidak bertahan lama.

Brak!

Pintu depan terbuka, disusul suara langkah kaki kecil yang berdentum riuh di atas lantai kayu. Seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun berlari masuk tanpa sempat melepas ranselnya yang kebesaran. Wajahnya yang bulat memerah karena habis berlari, tetapi matanya berbinar-binar terang menyerupai bintang.

"Papiiiiii! Yixiao mendapat nilai seratus!" seru bocah itu dengan napas terengah-engah, suaranya yang melengking memenuhi seisi ruangan. Dia melompat ke arah sofa, menyodorkan selembar kertas ujian matematika dengan angka 100 tertulis besar-besar menggunakan tinta merah di sudut atas.

Xiao Zhan terkesiap pelan, namun senyum manisnya langsung merekah sempurna. Rasa lelah yang sempat menggelayuti pundaknya seolah menguap begitu saja. Ia segera menangkap tubuh mungil putranya dan membawanya ke dalam pelukan hangat.

"Woah, benarkah sayang? Coba Papi lihat," ujar Xiao Zhan lembut. Ia menerima kertas itu dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya bergerak mengusap pipi gembil putranya yang masih terasa hangat. "Astaga, anak Papi hebat sekali. Tidak ada yang salah satu pun!"

Yixiao mendongak, mengerucutkan bibirnya yang kecil dengan ekspresi menuntut yang menggemaskan. "Papi sudah janji, kan? Kalau Yiyi mendapatkan nilai seratus, kita akan jalan-jalan!" tagihnya, mengingat kesepakatan mereka awal minggu lalu.

Mendengar itu, Xiao Zhan sempat tertegun sejenak. Pikiran tentang jadwal operasi yang padat dan laporan medis yang menumpuk di rumah sakit sempat melintas di kepalanya. Namun, melihat binar penuh harapan di mata bulat putranya, runtuh sudah semua keraguannya. Kebahagiaan Yixiao adalah segalanya.

Sambil menghela napas pasrah yang dibuat-buat, Xiao Zhan mengangguk dan mencubit pelan hidung mancung Yixiao. "Baiklah, baiklah... Papi tidak akan ingkar janji. Pekan depan, setelah sif Papi selesai, kita akan jalan-jalan. Bagaimana?"

"Horeee! Jalan-jalan! Kita pergi ke taman hiburan, ya, Papi?" Anak itu langsung melompat turun dari sofa, bersorak kegirangan sambil berputar-putar di tengah ruangan. Kamar yang tadinya sepi kini penuh dengan tawa renyah bocah kecil tersebut.

Xiao Zhan menyandarkan punggungnya ke bantalan sofa, matanya tidak lepas dari sosok Yixiao yang masih merayakan kemenangan kecilnya. Senyum di bibir Zhan perlahan berubah menjadi senyuman yang penuh keharuan.

Menjadi seorang orang tua tunggal di negeri orang bukanlah perkara yang mudah. Delapan tahun yang lalu, dengan hati yang remuk dan sejuta luka yang sengaja ia kubur dalam-dalam, Xiao Zhan memutuskan untuk meninggalkan Beijing. Ia melepaskan segala kenangan lama dan pindah ke Jepang, memulai semuanya dari nol. Beruntung, gelarnya sebagai dokter muda yang berbakat kala itu membantunya mendapatkan posisi di salah satu rumah sakit besar di Tokyo.

Selama delapan tahun, ia harus membagi waktu dengan sangat ketat: mengenakan jas putih di bawah lampu ruang operasi yang dingin, lalu pulang ke rumah untuk menjadi sosok ayah sekaligus ibu yang hangat bagi Yixiao. Ada hari-hari di mana ia merasa sangat lelah hingga seluruh tubuhnya mati rasa, namun Xiao Zhan tak pernah sekali pun mengeluh.

Baginya, setiap tetes keringat dan malam-malam tanpa tidur terbayar tuntas setiap kali ia melihat senyum di wajah Yixiao. Bocah itu adalah dunianya, alasan utamanya untuk tetap berdiri tegak melawan kerasnya kehidupan. Setidaknya, di sini, di bawah langit Tokyo, ia berhasil membuktikan bahwa ia mampu menghidupi dan membesarkan putra kecilnya dengan layak, penuh cinta yang tak pernah kurang sedikit pun.

Driiiitt... Driiiitt...

Ponsel di atas meja kopi bergetar nyaring, memutus tawa riang Yixiao yang masih asyik melompat-lompat. Xiao Zhan segera meraih hp tersebut. Layarnya menampilkan nama salah satu dokter senior di rumah sakit.

Ia menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel ke telinga. "Halo, ya. Ada apa?"

Suara di seberang telepon terdengar mendesak dan bising oleh latar belakang suara monitor medis. "Zhan, ada pasien darurat akibat kecelakaan beruntun. Terjadi trauma kepala berat dan pendarahan internal. Ini operasi besar, kau harus segera ke sini sekarang."

"Baik, saya segera datang," jawab Xiao Zhan lugas, tanpa ragu sedikit pun.

Ia mematikan sambungan telepon dan langsung beranjak berdiri. Langkahnya bergegas menuju kamar untuk mengambil jaket dan tas kerjanya. Saat kembali ke ruang tengah, ia mendapati Yixiao sudah berdiri diam, memperhatikannya dengan tatapan yang tiba-tiba berubah dewasa. Bocah itu tahu persis arti dari nada bicara ayahnya saat menerima telepon seperti tadi.

Xiao Zhan berlutut di hadapan putranya, menggenggam kedua bahu kecil itu dengan lembut. "Sayang, Papi harus ke rumah sakit sekarang. Ada pasien yang sangat membutuhkan Papi. Kamu tetap di sini dan tunggu Papi pulang, okey?"

Yixiao tidak merengek atau protes. Ia justru menegakkan tubuhnya dan memberikan hormat kecil dengan tangan kanan di pelipis. "Baik, Bos!"

Meski usianya baru tujuh tahun, Yixiao adalah anak yang sangat cerdas dan tangguh. Ia tumbuh menjadi bocah yang pengertian karena memahami betul profesi ayahnya sebagai seorang dokter bedah.

Xiao Zhan tersenyum bangga, mengecup dahi putranya sekilas, lalu bergegas keluar dari apartemen.

Suasana ruang operasi begitu tegang selama hampir empat jam. Di bawah pendar lampu trafo yang terang, fokus Xiao Zhan sepenuhnya tercurah pada setiap sayatan dan jahitan. Ketukan konstan dari mesin anestesi menjadi satu-satunya ritme yang menemani kerja keras tim medis malam itu.

Ketika lampu merah di atas pintu operasi akhirnya padam, Xiao Zhan melangkah keluar sambil melepas masker bedahnya. Di lorong rumah sakit, sepasang suami istri paruh baya langsung berlari menghampirinya dengan wajah sembap penuh kecemasan.

"Dokter, bagaimana keadaan putra kami?" tanya sang ibu dengan suara bergetar.

Xiao Zhan mengulas senyum tipis yang menenangkan. "Operasinya berjalan lancar. Pendarahannya sudah berhasil kami hentikan dan kondisinya sekarang sudah stabil. Dia akan segera dipindahkan ke ruang pemulihan."

Mendengar penjelasan itu, tangis haru sang ibu pecah. Ia dan suaminya berulang kali membungkuk dalam-dalam. "Terima kasih banyak, Dokter. Terima kasih telah menyelamatkan nyawa anak kami."

"Sama-sama, sudah menjadi kewajiban saya. Biarkan dia beristirahat dulu," sahut Xiao Zhan ramah sebelum berpamitan untuk kembali ke ruangannya.

Namun, langkahnya terhenti di meja perawat ketika seorang suster memanggilnya sambil membawa seikat map tebal. "Pak Dokter, maaf mengganggu waktu istirahat Anda. Ada beberapa berkas rekam medis dan laporan pasien pasca-operasi yang harus Anda cek dan tanda tangani malam ini."

Xiao Zhan menerima map tersebut lalu mengangguk. "Baik, letakkan saja di meja saya. Akan saya periksa sekarang."

Malam telah larut ketika Xiao Zhan akhirnya melangkah keluar dari gedung rumah sakit. Jarum jam sudah melewati angka dua dini hari. Udara malam Tokyo yang dingin menusuk kulit, menemani perjalanan pulangnya menyusuri jalanan kota yang mulai sepi.

Begitu tiba di apartemen, ia membuka pintu dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Keadaan di dalam rumah begitu hening. Xiao Zhan berjalan perlahan menuju kamar tidur utama dan mendapati Yixiao sudah tertidur lelap. Bocah itu meringkuk di bawah selimut tebalnya dengan napas yang teratur.

Melihat pemandangan itu, rasa lelah yang menumpuk di pundak Xiao Zhan perlahan luruh. Ia membersihkan diri sejenak, lalu ikut merebahkan tubuhnya di sisi tempat tidur yang kosong. Ditariknya selimut untuk menutupi dada, sebelum akhirnya memejamkan mata dan ikut terlelap di samping putra kecilnya.




TBC

Jangan lupa vote, komen muachhh 💋 💋 💋 💋 💋

Between Us There Is Him: end Pdf✅Stories to obsess over. Discover now