Di pagi hari yang cerah, aku berjalan di sepanjang jalan yang dipenuhi embun pagi. Sisa-sisa air yang menguap masih tertampung di atas dedaunan, berkilauan di bawah sinar matahari, menciptakan pemandangan yang begitu indah dan menenangkan hati. Burung berkicau seakan mengucapkan selamat pagi.
Angin sepoi-sepoi menyentuh wajahku, membuat suasana semakin segar dan penuh kehidupan. Tidak berapa lama, lewatlah seorang manusia dengan arit di tangannya. Ia tampak fokus memotong rumput di pinggir jalan, seolah tak terganggu oleh indahnya pagi yang melingkupi sekitarnya.
Aku hanya memandang dari jauh sampai akhirnya mata kami bertemu. Aku mengepalkan tangan ke atas untuk memberikan semangat padanya. Dia tersenyum kecil, kemudian menganggukkan kepala sebagai tanda terima kasih, sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya dengan tekun.
Aku pun melanjutkan jalan pagiku, mengitari jalanan setapak yang terbentuk secara alami karena sering dilewati warga sekitar. Setiap langkahku membawa ketenangan, ditemani suara alam yang semakin menyatu dengan ritme napasku. How beautiful the world! batinku.
Tutur batinku, tak akan salah... Namun dering telepon tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Aku mengeluarkan ponsel dari saku, melihat nama yang muncul di layar. Tanpa ragu, aku menyentuh tombol jawab, mencoba kembali fokus pada dunia nyata.
Setelah menutup telepon, aku bergegas pulang. Ternyata, aku sudah terlalu lama berjalan-jalan sehingga hampir lupa jika hari ini jadwalku membawa ibu cek rutin ke dokter. Semoga ibu tidak mengomel, batinku.
Kedisiplinan adalah nomor satu bagi ibu. Aku sering merasa terburu-buru, tapi pada akhirnya, aku sadar itu semua untuk kebaikan bersama. Ibu memang selalu punya cara untuk membuatku lebih menghargai waktu.
Hari ini terlewatkan dengan begitu cepat, seharian hanya di rumah sakit karena antrean tiba-tiba membludak. Aku merasa lelah, tapi lega akhirnya semua selesai. Pikiranku melayang, berharap bisa segera kembali ke rumah dan menikmati ketenangan setelah hari yang penuh dengan kesibukan.
Sesampainya di rumah, hari sudah menjelang sore. Matahari seakan sudah mau berpamitan untuk berganti shift dengan bulan. Aku melepaskan sepatu dan menyandarkan tubuh ke kursi, menikmati udara sore yang sejuk. Semua kelelahan terasa sedikit terbayar dengan ketenangan yang mulai menyelimuti rumah.
Hari yang cukup melelahkan sekaligus melegakan.
The end.
ČTEŠ
a collaborations
Povídky( ONE SHOOT) The result of my random typing, filled with idleness but struggling with sleeplessness, aka insomnia, assisted by WhatsApp AI and ChatGPT. Hasil ketikan kerandoman aku yang banyak gabut tapi sulit tidur alias insomnia dibantu Ai WhatsA...
