prolog

8 1 0
                                        

.
.
.

_________🌙_________

----------

Tetesan air dari langit terus berjatuhan mengenai apapun yang menghalangi jalannya menuju bumi. Awan yang kelabu saling bercengkrama membuat matahari memilih untuk tenggelam lebih awal.

Angin berhembus tanpa beban, menyisir tubuh lautan manusia di bumi yang terjebak tetesan hujan. Banyak helaan nafas terdengar dari mereka yang lelah menunggu hujan tak kunjung reda.

Jauh dari mereka yang sedang menunggu cuaca membaik, seorang gadis nampak tengah frustasi di depan sebuah layar monitor yang menampilkan kode-kode khusus. Gurat lelah tergambar nyata pada penampilannya yang sedikit kacau, rambut yang di ikat sembarang membuat nya terlihat berantakan, ditambah dengan baju yang telah kusut benar-benar membuat gambaran frustasi itu terpampang jelas.

Gadis itu mengabaikan suhu ruangan yang semakin mendingin karena cuaca dan juga Air conditioning yang berada di suhu terendah. Fokusnya hanya pada layar menyebalkan yang menjebaknya tinggal disini lebih dari dua jam.

Sejujurnya gadis itu, Canala Syaira merasa sungguh menyesal telah masuk ke jurusan ini yang sama sekali tidak masuk di minat dan bakatnya. Hal ini memang sering terjadi di kelas pertengahan, dimana seseorang merasa salah jalan, salah masuk jurusan atau bahkan salah masuk sekolah. Tapi mau bagaimana lagi? Canala tidak bisa keluar hanya karna dirinya tidak suka, banyak dorongan sekitar yang membuatnya harus tetap melanjutkan jalan ini. Setidaknya sampai lulus sekolah menengah kejuruan.

"Sial banget gue hari ini, orang-orang udah pada nyantai di rumah tiduran dibalik selimut tebel lah gue malah masih kejebak di sini" Canala mengahantukan keningnya ke meja, hingga semburat merah muncul di dahi nya akibat benturan. Ingin sekali rasanya dia menyerah dan pulang tapi nanti hukumannya semakin berat kalau tidak diselesaikan hari ini.

"Arghh! cape!" Canala berteriak frustasi.

Sesekali dia kembali menelungkupkan wajahnya di atas meja hingga rambut bergelombang yang diikat tak beraturan itu sedikit menutupi wajahnya.

Sedangkan disisi lain seorang pemuda tampak sedang menunggu hujan mereda, namun niatnya urung saat mengingat kembali ada beberapa hal yang ia sempat lupakan.

Pemuda bertubuh jangkung itu kembali masuk ke sebuah ruangan yang penuh dengan alat-alat teknologi canggih, beberapa perangkat keras komputer tersusun rapih di balik lemari.

Pemuda itu melupakan catatan peminjaman barang yang seharusnya ia isi sebelum dan sesudah melaksanakan praktek, hal itu dimaksudkan agar siswa terlatih untuk bersikap disiplin dan bertanggung jawab karena jika ada kerusakan pada alat sekolah dapat dengan mudah mengetahui siapa pelakunya.

Setelah mengisi catatan itu, ia kembali menutup pintu ruangan dan menguncinya. Sebagai ketua ekstrakurikuler Robotik yang sempat memakai ruangan ini, tentu saja ia mendapatkan wewenang khusus untuk mempunyai kunci serep.

Saat hendak kembali suara teriakan seorang perempuan mengalihkan perhatiannya, pemuda itu lantas mencari dari mana sumber suara itu berasal.

Dari kejauhan tampak sebuah ruangan laboratorium komputer yang masih menyala, dengan penasaran ia mendekati ruangan itu.

Dibalik jendela dengan tirai terbuka pemuda itu dapat melihat dengan jelas pelaku teriakan yang tengah mengacak-acak rambutnya.

Seutas senyum tergambar di wajahnya hingga matanya sedikit menyipit, rambut yang berantakan dengan mata yang seperti hendak menangis membuat gadis itu tampak lucu di matanya.

MantrakalaWhere stories live. Discover now