Mentari pagi menelusup di sela-sela dedaunan, menyinari bangku taman sekolah tempat Hanzi dan Anha biasa menghabiskan waktu bersama. Tawa mereka dulu menggema, seolah dunia hanya milik mereka berdua. Tapi kini, semuanya terasa berbeda. Hanzi duduk diam, tangan menggenggam sebuah surat yang sudah ia tulis semalaman. Isinya sederhana, tapi penuh keberanian: perasaan yang selama ini terpendam.
"Kalau aku nggak ngomong sekarang, mungkin nggak akan pernah," gumam Hanzi, menatap jauh ke arah lapangan sekolah, di mana Anha sedang berbincang dengan teman-temannya.
Mereka telah tumbuh bersama, berbagi rahasia kecil dan mimpi besar. Bagi Anha, Hanzi mungkin hanyalah teman masa kecil yang selalu ada. Tapi bagi Hanzi, Anha adalah lebih dari itu—dia adalah semesta kecil yang membuat hari-hari Hanzi bermakna.
Namun, mengungkapkan perasaan bukan perkara mudah. Ada ketakutan yang menghantui: takut merusak persahabatan yang telah terjalin bertahun-tahun, takut Anha tidak merasakan hal yang sama. Tapi Hanzi tahu, jika ia tidak mencoba, ia akan menyesal seumur hidup.
Hari ini, semuanya akan berubah—entah menjadi awal yang indah, atau akhir yang tak terduga. Dengan napas berat dan langkah mantap, Hanzi bersiap menghadapi momen terpenting dalam hidupnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Surat itu kini ada di tangannya, berat seperti beban rasa yang telah lama ia pendam. Hanzi tahu, keputusan ini akan mengubah segalanya—entah menuju kebahagiaan yang ia impikan, atau jurang yang tak pernah ia bayangkan. Tapi apa yang sebenarnya ada di hati Anha? Jawabannya mungkin lebih mengejutkan dari yang Hanzi duga. Jangan lupa baca cerita selanjutnya—sebuah kisah yang penuh kejutan dan emosi tak terduga menanti!"
YOU ARE READING
Bearly Attracted
Teen FictionHanzi, si anak SMA yang lebih fasih menghafal rumus kimia daripada mengungkapkan isi hati, akhirnya nekat! Targetnya: Anha, sahabat kecil dengan senyum yang menyimpan sejuta misteri. Niat nembak sudah bulat, tapi kenapa tiap langkah terasa seperti a...
