Cinta Yang Tak Terbalaskan

10 2 0
                                        

"Aira kamu ini kan sudah besar, Ayah ingin banget gendong cucu, dua hari yang lalu temen Ayah nanyain kamu" ucap Ayahku.

Aku menghentikan kegiatan makanku lalu menoleh ke arah Ayah "ngapain dia tanya tentang Aira yah?" Tanyaku mencoba tidak untuk berfikiran sampai di sana.

"Dia ingin meminangmu Ra"

Aku terkekeh pelan "Ayah ini ya, seneng banget kalo bercanda, masa iya, anaknya mau dijodohin sama om om" sahutku sambil mencoba menahan Air mataku yang tiba tiba saja mengalir.

"Dia bukan Om-om Ra, masih muda, pekerja keras, dan juga patuh Aira"

Aku menghelat nafasku gusar, nafsu makanku tiba tiba hilang.

"Yah, Aira nggak mau di jodohin!, sudah enam tahun Aira berjuang demi seseorang?, apa semuanya harus sia sia?"

Meski aku tidak akan tahu endingnya bagaimana, apa dia menerimaku atau meninggalkanku. Membiarkan perasaan ini pada diriku.

Jangan di tanya lagi, sesak? Pasti akan ku jawab iya. Apa ini jawaban dari semua do'a do'a ku?

Apakah Allah memang tidak ingin aku menaruh harapan pada hambanya?

"Beri Aira waktu buat jawab semuanya Yah" final ku.

Ayah merangkulku, membawaku pada fase yang lebih sedikit tenang

"Ayah beri waktu sampai kamu lulus kuliah tahun ini" Ayah tersenyum, sambil mengecup keningku pelan.

..........

Masa enam tahun memang bukanlah masa yang cepat dan mudah bagi Aira Nadia, untuk mendapatkan hati seorang Avril Malik Abdillah.

Pemuda berperawakan tinggi dari fakultas Kedokteran di kampusnya.

Banyak penghargaan yang sudah di raihnya, mahasiswa yang sering di juluki The Most Wanted kampus.

karna selain pintar, pemuda itu juga terkenal baik dan juga rajin.

Sedangkan Aku? Aku hanyalah Mahasiswa kupu kupu yang tidak pernah tertarik dengan organisasi atau lomba manapun.

Namun di kelas jurusanku, aku lumayan terkenal dalam menghafal Ayat Ayat Al-Qur'an.

Pertama kali kami bertemu saat Aku tidak sengaja menabraknya, ia tak sungkan menunduk lalu membantuku menata buku bukuku ya berserakan di lantai.

Dan hanya dengan pertemuan singkat itu, rasanya aku pertama kali jatuh cinta pada pandangan pertama.

Cara bicaranya, perilakunya dan segala hal tentang Avril tak luput dari pandanganku untuk selalu menganguminya.

Beberapa hari setelah kejadian itu, Mahasiswa dari fakultas kedokteran datang untuk meneliti jurusan kami, meminta untuk menggabungkan Ayat Ayat suci dengan penelitiannya.

Seperti mimpi bagiku, Avril datang ke mejaku untuk menjadikanku partnernya.
Dan hanya dengan itu Avril memberikan nomer telponnya, yang membuat kami menjadi semakin dekat.

Entah kenapa, perasaan itu semakin membuatku nyaman berada di sisi Avril.

Namun, di malam itu. Malam yang tidak akan dengan mudah kulupakan. Avril yang tengah memposting seorang wanita bercadar.

Aku mencoba optimis "pasti ada harapan bagiku untuknya"

Namum, pada malam itu juga, Ayahku berniat untuk menjodohkan ku dengan temannya!.

Rasa sesak, kecewa, dan juga bingung. Aku lampiaskan pada skripsiku dan membuahkan hasil dengan lulus sebagai Mahasiswi terbaik di jurusanku.

"Happy Graduation" teriak ku bersama dengan teman teman ku, masa bodoh dengan perasaan sepihak ku pada Avril.
Laki-laki yang datang dengan membawa calon istrinya ke hadapanku saat ini.

"Aira" aku tersenyum miris saat melihat cincin yang bertengger di jari manis tangannya.

"Aku cuma mau ngasih ini ke kamu" sambil menyodorkan sebuah kotak kecil dengan pita yang terlilit di atasnya.

Aku mencoba tersenyum sambil menerimanya "terimakasih Avril"

laki-laki itu hanya tersenyum sambil menatapku.

Sambil membuka kotak pemberiannya aku mencoba bertanya padanya, pertanyaan yang membuatku seakan mati rasa saat mendengar jawabannya.

"Kapan kamu akan melangsungkan pernikahan kalian?"

Dan lagi lagi ia tersenyum, membuat ku tak tahan untuk menangis di hadapannya.

"Masih nunggu aku Wisuda"

Tidak lama setelah mengatakan itu, seorang perempuan yang aku perkirakan seumuranku, datang menghampiri kami, atau lebih tepatnya menghampiri Avril

"Mas, aku tunggu di mobil ya"

Aku tersenyum saat mata kamu tak sengaja bertemu tatap

"itu istri kamu?" Tanyaku saat ia sudah menjauh dari pandangan kami.

Avril mengangguk "kamu udah lama Akadnya, dia pernah aku posting di Instagram"

Setelah itu hening, hingga Avril pamit untuk ke mobil. Namun sebelum itu ia berbalik dan mengatakan

"Aira, doakan kami Sakinah Mawadah warahmah ya"

Meski terasa berat aku mengangguk sambil mencoba tersenyum kepadanya.
Setelahnya Avril pergi, sambil melambaikan tangannya.

Saat mobil mereka berlalu, aku tertunduk.

Ternyata aku tak bisa untuk sekuat ini.

Hingga tak lama kemudian Ayahku datang sambil membawaku pada pelukannya.

"Allah memang memberikan yang terbaik untuk hambanya, kamu menerimanya kan Ra"

Bismillahirrahmanirrahim aku mengangguk yakin
"jika dia sabar menungguku, maka aku juga harus memberikannya hadiah, tolong katakan padanya bahwa Aku menerimanya" ayah tersenyum lalu kembali memelukku.

Ketika sampai di rumah, aku menghempaskan tubuhku di sofa

"aku tidak pernah melihatnya, namun aku menerimanya"

"Mungkin dia yang terbaik untukku, aku yang selalu mendoakan Avril untuk menjadi pendamping hidupku, tapi takdir berkata lain, mungkin dia yang lebih mendoakan ku untuk menjadi pendampingnya"

Aku tidak tahu dia siapa, saat acara lamaran pun kami tidak boleh bertemu Dengannya, kami hanya bertemu saat Akad berlangsung.

Dia ramah, baik dan juga sopan, sama seperti yang ayahku selalu ceritakan padaku.

Aku menyukainya.

Mungkin dalam hal pengetahuan dan juga fisik dia memang kalah saing dengan Avril. Tapi aku mencintainya karna Allah, bukan karena apapun itu. Biarlah Avril menjadi bagian dari kisah masa laluku. Entah aku maupun dia aku selalu berdoa semoga kami selalu dalam kebahagiaan yang halal.

Bukan Novel Romantis Where stories live. Discover now