surat wasiat.

134 24 21
                                        

  ゜  ☆。
 。     ☆゚  ☆
゜  。  ☆  ゚。
☆゚     ゚    ☆
。   ☆゚.      

  。 ☆   ゚。           

☆゚ tiada           

゚ aku ☆
                                   ゚。

        jika besok        ☆  ゚。 ☆゚
         ☆  ゜  ☆。

    ☆゚    ゚。
☆゚  ☆
☆  ゚

cw // tw : Suicidal Ideation , Death ,
Self-Harm , Emotional Distress , Grief

( best experience )
San serif, white background, smallest.

( best experience )San serif, white background, smallest

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

00.00 AM

Detik waktu terhenti saat itu. Terkhusus untukku. Napas terakhir ini berayun pelan, dan tiupan angin dari kipas yang tergantung di plafon masih merayap lembut di kulitku. Jam dinding berdetak, menghitung waktu yang kini entah milik siapa. Lampu tidur tetap menyala, tanpa peduli siapa yang akan memadamkannya.

Namun, waktu tak mau berhenti. Aku merasakannya, perlahan sinar mentari mulai merayap, menjilati ujung kakiku. Dan kali ini, ia datang dengan dingin, seolah menghantam tubuhku yang mulai membiru. Cahaya itu masuk, menembus relung kamar yang lembab, dan jatuh pada tumpukan surat di atas meja. Surat-surat itu kumasukkan ke dalam bungkus seadanya, kertas sisa sampul padi-dulu, kertas itu kupakai untuk menyampul buku-buku sekolahku. Sekarang, buku-buku itu sudah tidak kugunakan lagi, dan kertas itu tak ada gunanya lagi. Salah satu surat kuberi corak bunga merah-mawar, mungkin-atau tulip, atau apalah itu bentuknya. Di tengahnya tertulis nama kekasihku, kekasih hatiku. Ah, mungkinkah ada kabar darinya?

Mentari sudah merangkak tinggi, seharusnya aku sudah duduk di kelas. Ponselku berbisik, tetapi tidak, itu bukan bisikan biasa, itu jeritan. Teman-temanku pasti telah menelepon, menunggu kabar dariku. Seandainya aku masih tinggal dengan ibu, pasti dia sudah marah-marah seperti singa, memarahiku karena belum bangun pagi. Tapi kini aku di sini, hanya dengan sunyi. Sunyi dan aku, sendiri.




09.00 AM

P
Kamala
Kenapa ngga angkat telfon Audine?
09.00 AM

Lu marah sama siapa sih?
Kenapa diemin kita gini?
09.03 AM

Pram nyariin lu, katanya lu nggak bales chatnya.
Lu kemana La?
09.10 AM

Jangan bilang lu masih tidur anjg marah banget gw kalau emang bener
Absen lu udah dibackup Nita
10.25 AM

Pagi ini, di bawah rintik hujan yang lembut, aku melihat kekasihku berdiri di depan pagar penginapanku. Dalam genggamannya ada dua kotak susu-yang satu cokelat, yang lain stroberi. Aku yakin, yang cokelat disiapkannya untukku; ia terlalu mencintai rasa stroberi untuk memberikannya pada siapa pun selain dirinya sendiri. Barangkali hatinya sedang resah, tak puas oleh sepi yang disisakan pesan-pesannya sejak pagi, hingga ia memutuskan datang, menyerahkan kekhawatirannya pada langkah yang membawanya ke sini.

 jika besok aku tiada ✔ Stories to obsess over. Discover now