Atmaja selalu dibayangi bayangan masa lalu-tangis bayi di malam yang sunyi, suara yang menusuk kesadarannya. Setiap malam, selama enam belas tahun, ia terjaga di antara perasaan bersalah dan kerinduan yang tak pernah bisa ia redam. Dunia bisnis yang keji telah merenggut kepolosan anaknya, meninggalkan luka yang tak tersembuhkan.
Hari ini, ia melaju dengan mobil yang berderu di jalanan sepi. Bima duduk di sampingnya, tangan menempel erat pada seatbelt seolah mencoba menahan badai yang akan datang. Tanpa banyak bicara, mereka menuju ke pemukiman usang, ke titik di mana takdir membawa bayi Atmaja dan menjauhkannya.
Ketika mobil berhenti, Atmaja keluar dengan langkah terburu-buru. Matanya langsung tertuju pada bangunan tua yang kini seolah mati, penuh dengan rumput liar yang menjalar, menggeliat bagai tangan yang mencoba meraih kenangan. Ia menatap gedung itu sejenak, menelan perasaan yang berkecamuk di dadanya.
"Di sini?" tanya Atmaja, suaranya bergetar, meski ia mencoba menyembunyikannya.
Bima mengangguk pelan. "Iya, Pak. Menurut informasi, bayi Bapak dibuang di sini, dulu."
Dengan napas tersengal, Atmaja mulai melangkah, menyingkap rumput-rumput tinggi yang mencoba menghalangi jalannya. Tangannya gatal, kakinya tergores ranting kering, namun ia tak peduli. Setiap langkahnya adalah perjalanan menembus masa lalu, menyibak kepedihan yang ia tanam sendiri.
Sesampainya di pintu gudang, ia membuka paksa daun pintu yang mulai rapuh. Bau lembab dan debu menyambutnya, seolah menertawakan kesendiriannya. Gudang itu gelap, hanya diterangi sinar yang mengintip malu-malu dari celah-celah dindingnya. Langkah Atmaja terdengar menggema di ruangan kosong yang dingin, tapi tak ada yang menyambutnya, tak ada jejak, tak ada suara tangis bayi yang dulu menghantuinya setiap malam. Hanya kehampaan yang terasa menusuk.
Di sudut gudang, Atmaja berhenti. Pandangannya tertuju pada lantai berdebu, berharap menemukan sesuatu, apapun yang bisa membawanya lebih dekat pada bayangan anaknya. Tapi yang ia temukan hanya kekosongan. Dan di sana, di dalam kesunyian itu, Atmaja jatuh berlutut, jemarinya meremas debu yang berserak.
"Maafkan ayah..." bisiknya lirih, suara yang nyaris hilang ditelan kesunyian gudang tua itu.
Bima berdiri beberapa langkah di belakang, menyaksikan sosok yang selama ini ia kenal sebagai pria tegas dan penuh wibawa kini hancur di hadapan kenangan yang tak kasat mata. Atmaja, bos yang begitu kokoh di hadapan dunia, terjatuh, terseret kembali dalam kepingan masa lalu yang tak pernah benar-benar hilang. Di hadapannya, bangunan tua itu seolah menjadi saksi bisu atas penyesalan yang membekas dalam jiwa Atmaja.
Sepintas, Bima tahu kisah ini-kisah kehilangan yang terbungkus rapi di balik ketegaran Atmaja. Anaknya, buah hati yang bahkan belum sempat melihat dunia dengan mata terbuka penuh, diambil begitu saja oleh kejamnya dendam. Bayi itu dibuang, dihapuskan dari hidup Atmaja ketika usianya baru seumur jagung. Dan kini, di tempat di mana kenangan buruk itu berakar, Atmaja meluruh dalam rasa yang mungkin tak lagi sekadar bersalah; mungkin kerinduan yang membara, yang tak pernah terucap selama ini.
Bima, dengan hati yang berdenyut iba, melangkah pelan mendekati Atmaja yang terdiam, menggenggam debu yang seakan berbicara padanya.
"Pak," Bima berkata perlahan, suaranya terdengar tenang namun tak bisa menyembunyikan kelembutan yang mencoba membalut luka bosnya. "Gimana kalau kita coba tanya warga sekitar? Mungkin masih ada yang ingat..."
Atmaja mendongak perlahan, matanya yang basah tampak mencari-cari sesuatu di wajah Bima-mungkin harapan yang telah lama ia kubur. Dengan sisa tenaga, ia mengangguk, menghapus jejak air mata yang tak sengaja tumpah.
Bima menggamit lengannya dengan hati-hati, seolah khawatir menyentuh pecahan hati yang rapuh. Mereka berjalan keluar bersama, meninggalkan gudang tua yang terasa semakin sunyi. Langit di luar mulai berubah kelabu, dan angin berhembus pelan membawa aroma rumput liar dan tanah basah yang seakan mengucapkan salam perpisahan.
ESTÁS LEYENDO
Alton
Romance-NoBxb Brothership and familyship area!!!! Namanya Alton. Sebuah nama tunggal yang terukir diam-diam di seutas gelang, satu-satunya warisan dari masa lalu yang tak pernah ia kenal. Ia tumbuh bukan dari rahim pelukan, melainkan dari sunyi yang tak pe...
