PRAGMA
Rembulan yang biasanya gagah kini tak tampak sedikit pun. Awan tebal disertai gerimis perlahan turun dari cakrawala. Malam itu, di sebuah pondok sunyi, seorang gadis dengan ikat kepala rendah terdiam beribu. bahasa, menyaksikan sosok di hadapannya.
Dia. Sesosok wanita yang tergantung dengan tali di lehernya. Diah, namanya.
1 detik.
2 detik.
5 detik.
Sunyi. Sesaat kemudian, kaki jenjangnya yang meronta perlahan berhenti, nafasnya yang tersengal-sengal perlahan menipis. Tepat sebelum memejamkan matanya, terdengar dengung keras memecah kesunyian malam.
Kakinya bergetar seakan menjerit dalam penyesalan, hatinya meringis, dan kenangan indah berputar cepat, kacau. Dalam hatinya ia bertanya, inikah akhirnya?
"Ar... Ar-jun," rintihnya, lirih.Rintihannya menggema, mencekam, membuat siapa pun yang mendengarnya.
bergidik ngeri. Sosok itu masih ada di sana. Gadis Itu, Hesa, menutup telinganya kuat-kuat, berusaha
menahan tangis saat sosok di depannya membeku tanpa kehidupan.
Dengan langkah terseok-seok, Hesa menghampiri wanita itu dan bersimpuh, "Ma-mama," panggilnya parau.
Hening. Tak ada suara. Hesa menangis, meraung, didera penyesalan yang menghimpit dadanya, menyesakkan,
Namun ia lupa, manusia dengan segala dustanya tak pernah merasa cukup. la menyesal. Sudah satu tahun berlalu, tapi kabar burung tak kunjung reda.
"Bukannya itu anaknya Diah, ya?"
"Eh iya, kayaknya benar."
"Dengar-dengar waktu ibunya bunuh diri, anaknya nggak peduli, say."
"Katanya juga waktu ibunya bunuh diri ada sosok serem gitu."
"Ih masa sih, kok kayak dilebih-lebihin?"
"lya, masa kamu nggak percaya? Katanya arwah ibunya bakal gentayangan."
"Secara, kan ibunya orang nggak benar."
"Lacur murahan."
Dengan abai, Hesa melangkah pasti, seolah tak terusik. Dia, Hesa, seorang anak yang hanya bisa diam menyaksikan kematian ibunya. Langkahnya terasa berat. Keputusan telah diambil-ia harus pergi.
Melupakan segalanya,
Mengakhiri sajak lama.
TAMAT.
