Gadis Balkon

2 2 1
                                        

"Mbak Isma ngertos mbak Ziya wonten pundi??"tanyanya cepat seraya tengok kanan kiri

MB Isma yang merasa terpanggil menoleh kearah samping, ternyata yang memanggilnya adalah MBK ndalem pikirnya. Mengingat pertanyaan yg belum dijawab oleh dirinya, dengan segera menjawab pertanyaan tersebut sembari mengingat "Mbak Ziya lungguh wonten balkon lantai dua mbak" ujarnya setelah kembali ingat 

"Matursuwun nggh  mbak, ngapunten Kulo minggah riyin Niki Kedah cepet cepet" ujarnya kembali sambil berlari tergopoh gopoh menuju tanggal lantai dua

"Nggih monggoh "ucapnya lirih.

Pikirannya menerawang jauh ada perlu apa yh??

POV??

Hai? Perkenalkan nama ku Ziya charfi Gautama, putri terakhir dari empat bersaudara. Aku pergi jauh dari rumah hanya untuk memperdalam ilmu ku yang masih dangkal, yah tidak sejauh saudara saudara ku yang sampai memperdalam ilmu  sampai ke negri sebarang. Orang tua ku tidak mengizinkan ku jauh dari rumah, mungkin aku yang putri bungsu dan putri satu satu nya??. Aku bukan lah anak yg terlahir di keluarga yang berada, namun untuk membiayai anak anak nya untuk menimba ilmu Abah dan amah akan berusaha mencukupinya, walupun begitu tapi aku dan kakak kakak ku selalu berusa untuk mengambil beasiswa yang ada, bahkan beasiswa full, jadi untuk uang saku bisa di tabung pikir ku. Oh yah jangan lupakan juga aku seorang mahasiswi tingkat 5 yang mulai sibuk sibuknya nugas wara Wiri kesana kemari 

Saat ini di bawah langit senja aku berada, diatas dingin nya lantai balkon aku terduduk , tak luput sapuan angin yang membawakan dedaunan kering jatuh tepat di depan ku , meja kecil yang selalu menemani sendiri ku, mulut kering yang berusaha melafalkan ayat agar kokoh Tegap dalam benak ku

"يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَطِيۡـعُوا اللّٰهَ وَاَطِيۡـعُوا الرَّسُوۡلَ وَاُولِى الۡاَمۡرِ مِنۡكُمۡ‌ۚ فَاِنۡ تَنَازَعۡتُمۡ فِىۡ شَىۡءٍ فَرُدُّوۡهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوۡلِ اِنۡ كُنۡـتُمۡ تُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰهِ وَالۡيَـوۡمِ الۡاٰخِرِ‌ ؕ ذٰ لِكَ خَيۡرٌ وَّاَحۡسَنُ تَاۡوِيۡلًا"


Sesaat aku berhenti sejenak sembari menelisik jauh ke arah langit dgn semburat nya yang berwarna  oranye,biru, dan putih, sungguh nikmat Tuhan manalah yang engkau dustakan. Lamunan ku terbuyar ketika ada seseorang yang menghampirinya "Mbak Ziya mboten medal mbak??" Tanyanya orang yang lewat muncul dari aula  samping balkon.

Entah sudah keberapa kali pertanyaan itu muncul setiap ada orang yang berniat keluar. Dan jawaban yang sama persis "mboten". Huffttt helaan nafas berat dan kasar berulang kali terdengar di lorong balkon yang sepi. 

Aku mulai membaca ayat yang tadi nya terpotong akan pertanyaan yang datang silih berganti, ini lah konsekuensi ketika mengaji di depan balkon aula di jam jam  MB MB bergerombol keluar untuk membeli lauk/jajan. 

Belum lama aku menyelami ayat demi ayat, telingaku menangkap akan seseorang yang bertanya akan keberadaan ku. Berdiri dan mulai melangkah untuk melihat dan ternyata Mb Disa yang biasa membantu di ndalem* yang menanyai keberadaan ku. Ku lihat MB MB yang di tanyainya mengkode bahwa aku datang dari arah belakang MB Disa dan ku dengar MB Disa mengucapkan terimakasih

"Kados pripun mbak??"tanyaku yang menghampiri gerombolan tersebut dan menepuk pelan pundak bagian belakang nya 

"Huuuh huh huhh, sek sek mbak tak ambekan"ujarnya menengok  sembari mengatur nafasnya. Aku yang tak jauh dari tempat air minum pun memberikan segelas air untuk merilekskan tubuhnya.

"Matursuwun  MB Zi.haaahhh Mbak Ziya di padosi Bu nyai disuwun mendap wonten ndalem ngajeng" ucapnya berterimakasih dan menyampaikan pesan dari Bu nyai untuk diriku. Dan ku dengar nafasnya yang perlahan lahan mulai stabil. 

"Njih mbak matursuwun, ngapunten sampun ngrepoti njenengan lari lari mriki" ujarku tak enak. jujur karena ndalem sampai pondok itu lumayan jauh dan juga saat ini aku berada di lantai dua pojok. "Sekedap njih mbak Kulo tak nglepas mukenah riyin" lanjutku yang masih memakai mukenah mulai melepaskan nya 

"Njih mbak. Menawi sampun, langsung medak wonten ndalem ngajeng mawon, Kulo wonten dapur riyin njih mb dapur seg lumayan repot , matursuwun air e"jawab nya sembari  tersenyum melihat diriku yang melipat mukenah. Ku lihat MB Disa meletakan gelas pada atas galon yang berada di sampingnya Dan langsung  bergegas turun untuk kembali ke asalnya yaitu dapur 

"Njih mb sami sami " ucapku yang mungkin tak terdengar karena jarak yang semakin jauh.

Sampai disini dulu yh bye bye 😣

Wonosobo,25 okt 2024


You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 25, 2024 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Sepucuk SenjaWhere stories live. Discover now