Menceritakan tentang perjuangan tiga belas remaja dari empat pesantren yang berusaha meluruskan kesesatan di desa terpencil.
Lalu apakah mereka bisa membawa kebebasan bagi seluruh warga desa?
Cerita ini merupakan rimake dari cerita 1 imam 1000 cint...
Haii, Ini adalah cerita rimake dari 1 imam 1000 cinta karya kak RezkeifadillaH_02 Dew udah dapet izin buat rimake cerita ini dalam bentuk 9 tahun yang lalu.
Pertama ketika 2001, Dew belum lahir jadi gak paham vibes 2001 itu gimana, kalau ada trand atau barang yang tetiba muncul padahal di jaman itu belum ada mohon di tandain ya. Biar Dew bisa benerin tulisan Dew.
Makasih buat kak dilla yang udah ngizinin rimake cerita ini jadi versi Dearycactus.
And Happy reading
♥
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Suara anak anak dengan semangat mengikuti apa yang gurunya ajarkan. Seorang perempuan berusia 28 tahun nampak dengan sabar mengajari anak anak itu.
"Ibu guru." sang wanita menoleh. "Pipi ibu guru kenapa luka?" pertanyaan itu membuat sang perempuan tersenyum. Dirinya mendekat lalu berjongkok didepan sang anak yang memang kursinya sangat pendek.
"Ini bukti, bahwa ibu pernah merasakan." Suga menahan ucapanya, anak itu mengerutkan kening, nampak sekali dia kebingungan dengan ucapan gurunya ini.
Ting..
Suara bel pulang terdengar. Wanita itu segera merapikan buku dan menuntun anak anak membaca doa sebelum pulang kerumah masing masing. Perempuan itu baru saja menaiki bus umum, berhenti di persimpangan jalan dimana rumput liar tumbuh dengan cepat dan sangat tinggi.
Mulutnya nampak merauk udara sepuas puasnya sebelum melangkah masuk kedalam jalan setapak disana.
"Suga." si perempuan menoleh, ada perempuan lain yang seumuran dirinya berjalan dengan perlahan. "Apa kabar, lama tidak bertemu."
"Semi." senyum si perempuan lalu memeluk perempuan yang lain itu. "Katanya kamu mau nikah ya?"
"Iya, kayaknya mental dan fisik aku udah sembuh." balas Semi Eita, perempuan yang tadi memangil nama Suga. "Mau ziarah juga ya?"
"Sudah lama."
Keduanya berjalan bersama masuk kejalan setapak itu. Melewati beberapa sawah milik warga sekitar lalu sampai pada gerbang bertuliskan 'Tpu desa Haikyuu.'
"Dulu namanya cuma desa Haikyuu." tawa kecil Semi membuat Suga menoleh. "Ayo masuk."
Langkah kaki keduanya berjalan menelusuri area sekitar. Bekas kebakaran beberapa bulan lalu, serta rumah rumah yang tak lagi dihuni. Langkah Semi berhenti, begitupun Sugawara melihat satu bangunan yang menjadi saksi bisu kejadian disana.
"Andai iman gua gak goyah, tempat ini pasti udah rame anak kecil." kedua perempuan itu menatap pemuda lain yang lebih tua dari mereka. Tengah membuka bangunan yang tadi mereka bicarakan.