1

650 10 0
                                        

"Mbak, saya mau coba yang itu, itu, hm.. itu, itu, dan.. itu. Oh sama yang satu itu juga ya."

Telunjuk ramping, indah, dan lentik itu menari-nari di udara, menunjuk dengan mantap namun anggun ke arah deretan sepatu yang tertata rapi di etalase. Setiap gerakannya begitu terukur, seolah-olah sudah tahu persis mana yang ingin dicoba, meskipun ada keraguan kecil yang muncul dalam helaan napasnya. Model-model sepatu dari berbagai gaya, dari yang santai, semi-formal, hingga formal, tak luput dari bidikan matanya. Warna-warnanya pun beragam—putih yang bersih, hitam yang klasik, hingga merah menyala yang berani—semuanya ia pilih tanpa ragu.

Pramuniaga yang sedari tadi berdiri sigap, dengan cekatan mengambilkan satu per satu sepatu yang diminta, kemudian menatanya dengan hati-hati di hadapan sang calon pembeli. Karpet abu-abu lembut di lantai menjadi alas deretan sepatu pilihan, seolah menjadi panggung kecil tempat pertunjukan selera berlangsung.

Satu per satu, sepatu itu ia kenakan ke kaki jenjangnya yang mulus dan ramping—kulitnya tampak halus, tanpa noda, tanpa cela. Setiap memasukkan kakinya ke dalam sepatu, gerakannya halus, nyaris tanpa suara, hanya suara gesekan ringan antara kulit dan bahan dalam sepatu yang terdengar pelan. Ia menilik, mengamati, memiringkan kakinya ke kanan dan ke kiri, seolah menilai dari berbagai sudut, mencari perpaduan antara kenyamanan dan keindahan. Sesekali ia berdiri dan melangkah perlahan, memperhatikan pantulan dirinya di cermin panjang yang disediakan di sudut toko. Tak ada ekspresi terburu-buru—semuanya dilakukan dengan tenang, hati-hati, dan penuh perhitungan.

Pramuniaga hanya bisa diam, menyaksikan ritus pemilihan itu seperti menyaksikan sebuah tarian sunyi—ritual antara wanita dan sepatunya, di mana estetika dan rasa menjadi dua sisi yang harus dipenuhi dengan seimbang.

"Sayang—"

Loh, kemana?

Wanita berambut pirang keemasan itu mendongak cepat dari kursi tempatnya mencoba sepatu. Gerak matanya lincah, menyapu sudut demi sudut toko, lalu beralih ke luar toko, mencoba menemukan keberadaan pria yang sejak tadi bersamanya. Alisnya terangkat sedikit saat menyadari tempat di sampingnya kosong, dan pria itu tak lagi berdiri di balik kaca sambil mengamati atau sekadar tersenyum memperhatikan dirinya memilih sepatu.

Tak butuh waktu lama, matanya menangkap sosok yang dikenalnya berdiri beberapa meter di luar toko, nyaris menyatu dengan latar kota yang sibuk. Pria itu berdiri membelakangi toko, satu tangan di saku, tangan lainnya menggenggam ponsel yang menempel di telinga. Wajahnya serius, bibirnya sesekali bergerak cepat, menandakan percakapan penting yang sedang berlangsung.

Wanita itu menghela napas pelan. Ia tahu. Ia sangat tahu. Tak perlu bertanya, apalagi curiga—dia hapal betul siapa lawan bicara pria itu. Sudah pasti sekretarisnya. Suara lembut dan nada profesional dari ujung sana yang selalu datang di waktu yang tak pernah tepat. Di antara deretan jadwal makan malam, akhir pekan, atau bahkan momen-momen sederhana seperti ini. Tak pernah absen.

Sepuluh tahun terakhir membuatnya mahir membaca isyarat. Sepuluh tahun terakhir pula membuatnya lelah berkata-kata. Dulu, ia sempat protes. Berkali-kali. Kadang dengan nada lembut, kadang dengan air mata, kadang dengan kemarahan yang sulit ditahan. Tapi apa hasilnya? Tak pernah digubris. Tak ada perubahan. Pria itu tetap pria yang sama—dedikasinya pada pekerjaan, pada kantornya, pada segalanya... seolah selalu lebih dulu daripada dirinya.

Kini, ia sudah tak ingin lagi repot-repot mempermasalahkannya. Kepeduliannya perlahan berubah menjadi keacuhan yang tenang. Ia hanya melirik sekali, kemudian kembali menunduk menatap sepatu di kakinya. Tak ada keluhan, tak ada panggilan lanjutan. Diamnya adalah bentuk penerimaan—atau mungkin, kelelahan yang terlalu lama dipendam hingga tak berbentuk lagi.

Ia membetulkan posisi duduknya, lalu meraih sepatu lain, mencoba dengan senyum tipis yang tampak seolah tak terusik.

******

SUGARHikayelerin yaşadığı yer. Şimdi keşfedin