| Prolog

36 19 7
                                        

"Kemana saja angin akan berhembus, pasti akan kembali ke tempat yang sama. Kemana saja
kamu akan pergi, pasti akan menemuiku di sini lagi."

"Kenapa kau berujar seperti itu? Kita akan tetap bersama dan aku tidak akan pernah pergi
darimu!"

"Ada banyak hal yang lebih penting dari pada cinta, Floyd. Nyawa dan masa depan patut
menjadi prioritas. Tuhan akan mempertemukan kita kembali jika memang selamat."

"Angie, kalau tak selamat bagaimana?"

"Pegang saja kata-kataku, Floyd. Tuhan akan mempertemukan kita kembali jika memang
selamat."

Ujaran kenyataan memang tidak pernah terdengar menyenangkan. Ada banyak hal yang
harus dipertaruhkan hanya untuk sebuah cinta. Namun, apakah seharga nyawa?

Mereka berpelukan dengan erat; meremas punggung satu sama lain. Menyentuh tangan sudah pasti, kepedihan pertemuan terakhir menghujani mereka dengan panah-panah bara api.
Genggaman yang menguat semakin terlihat, tidakkah ada yang mampu menyamainya?
Angie dan Floyd terpaksa berpisah. Seribu kecupan akan berlalu sia-sia. Maut dan laut tak
ada yang tahu, entah mana yang akan merenggut mereka. Sejoli yang memadu cinta di atas
geladak, berharap membuktikan usahanya dengan mencapai Afrika Selatan. Cape Town
masih jauh, 3500 mil bahkan cukup kurang untuk mencapai dunia Eropa di tanah Afrika.
Kelas sosial yang memisahkan, turut merembes ke tingkat keselamatan yang mereka peroleh.
Tak yakin dapat selamat dari sial penenggelaman. Namun setidaknya, pertemuan terakhir
masih bisa Floyd andalkan.

"Berjanjilah, kita akan bertemu di Cape Town jika selamat!" Floyd menegas.

"Serunaiku tidak akan pernah berbunyi sebelum kau memelukku lagi." Nada Angie terenyuh.

Gejolak asmara yang tidak kunjung usai terpaksa diberhentikan. Dwi jantung yang telah
berbagi detak kini wajib menyendiri kembali. Setiap nafas dan mesra yang ditukarkan harus
ditukar balik. Tak ada yang abadi dalam masa cinta kecuali bahtera rumah tangga, dan
memang benar.

Rakyat-rakyat Prancis berlarian dengan gegas; mencari pertolongan. Bala tentara jua
keselamatan tidak mungkin menampakkan armadanya. Malaikat Tuhan sudah mendatangi
Maria untuk memberi kabar, tidak mungkin ia datang lagi hanya untuk mengevakuasi
kaum-kaum tanpa rahmat dari mara bahaya. Usaha pribadi dan kesigapan yang diperlukan di
sini. Makin gesit dirimu, makin lincah gerakmu, makin tinggi peluangmu mendapati sekoci
yang masih mampu menimang raga.

Floyd adalah dokter kesehatan yang bekerja di kapal itu, ia sudah tentu mendapat kuota di
sekoci nomor 4. Namun Angie? Kelas Steerage saja masih lebih tinggi darinya. Ia kelas 4!
Paling bawah bahkan terhina. Hanya tertimpa untung saja dirinya mendapat beasiswa untuk
bersekolah di Cape Town dengan bayaran penuh untuk segala kebutuhan dan akomodasi
perjalanannya, sehingga ia mampu memilih tiket kelas satu di Materogoia. Tiap manusia memang memiliki ragam perbedaan, namun dua sosok ini agaknya berbeda 180 derajat. Sakit
memang untuk mengetahui fakta itu, namun fakta itu ibarat sebuah pil yang rasanya pahit, ia
tidak mengenakkan namun wajib ditelan sadar-sadar.

"Sekarang apa yang harus kita bawa?" Floyd meluap tanya.

"Stetoskop, obat pereda nyeri, plester, dan pistol." Jacques menjelaskan.

"Tunggu, kau bawa pistol kemari? Buat apa?" Floyd melontar lagi.

"Tidak banyak waktu kita, jangan habiskan emas hanya untuk sebuah omong kosong."

Jacques tak ingin banyak cincong. Ia menyokong diri untuk berlari menuju gudang rahasia
di dek D; dua dek di bawah dek B, lokasi ruang kesehatan. Floyd tak bisa menyelenggara
apa-apa selain memasukkan peranti-peranti yang diperintahkan Jacques ke dalam tas darurat.
Di antara kebisingan penumpang yang bolak-balik mencari pertolongan, ia sanggup
mendengar suara pelaporan seorang mandor tukang api dari dek Orlop pada kapten Fils.
Suara itu nampak menggebu-gebu dan terdengar krusial, namun sayagnya Floyd tak mampu
mendengar jelas.

Kala itu, sewaktu dirinya menerka perbincangan, sebuah ledakan besar
terdengar beruntun tiga kali. Bayangkan, tiga kali ledakan pemekak telinga! Nestapa
menghunjam hati Floyd, kerisauan lama-lama merajalela dalam satu tubuh Floyd. Sementara
penumpang lain makin berdengking bak anjing kegusaran, ia justru meratap makin rendah;
menyedih makin seram.

Sehabis meratap atas kondisi kapal yang ia naikki, dirinya baru tersadar akan satu sosok fundamental yang amat ia perlukan keberadaannya. Jelas, ia mencari sejawatnya, Jacques.

"Jacques, dia di mana?"

Sebuah suara seketika menyerbu.

"Jacques, tewas."

Satu suara dari seorang pria yang bernada berat membalas dia, diikuti lemparan dua senjata pistol yang lengkap terisi amunisinya.

'Bagaimana bisa?' Tutur batin dokter muda itu.

"Hati yang gusar adalah sebab kematian. Kelalaian adalah kedurjanaan terdahsyat. Barang
siapa merenggut nyawa, haruslah nyawanya yang direnggut juga." Pria itu menghembuskan
berpetuah sekaligus meninggalkan bekas tepukan di bahu Floyd.

MATEROGOIA: SEBUAH LARAStories to obsess over. Discover now