Prolog-Tinggal

200 99 47
                                        

Semuanya berawal dari kedatangan hari ulang tahunku. Ayah yang mengajakku pergi untuk menikmati berbagai keseruan dari beragam wahana taman hiburan, yang dulu ingin sekali aku kunjungi hingga akhirnya aku berhasil pergi, dan Ibu yang membelikanku sebuah permen kapas dengan rasa yang begitu manis.

Begitu banyak sekali wahana yang aku naiki, salah satunya adalah bianglala, yang mengantarkan pandang ke arah jumantara dan sekelilingnya telah menyapa cerah, dengan keindahan yang dimilikinya juga melihat beragam pemandangan sudah dipenuhi keramaian dari ketinggian yang tengah berputar santai.

Di taman hiburan itu, aku memperpuas diri dari kesenangan yang telah diberikan oleh Ayah dan Ibu. Kami mengeluarkan banyak tawa yang riang dengan kebahagiaan yang tak bisa terucapkan, dan aku begitu bersemangat untuk menikmati hari ini, melompat dan berlari mengelilingi seluruh taman hiburan yang kini dipenuhi dengan berbagai keseruan yang terdengar dari segala arah.

Saat itu, kami sedang membuat sebuah kenangan baru dengan rasa kebahagiaan yang datang menyambut kehangatan dari ukiran senyuman juga riang tawa layaknya keluarga kecil yang tengah merayakan hari ulang tahun putrinya dengan sempurna, akan umurnya yang baru saja menginjak delapan tahun. Senang rasanya, di saat hari istimewaku datang mereka merayakannya dengan penuh kasih sayang yang kuterima, membuatku merasakan sebuah kebahagiaan yang tiada tara dengan rasa syukur yang berlimpah karena telah memiliki orang tua seperti mereka.

Sampai saatnya mereka berkata seperti ini, dan melakukan hal demikian. Di depan sebuah rumah tua juga pagar berkarat rapuh, yang sudah disambut hangat oleh seorang wanita paruh baya dan beberapa anak kecil yang hadir terlihat seumurannya.

"Alodi, kami secara mendadak mendapat sebuah panggilan kerja, dengan proyek yang begitu besar. Dan kami, harus pergi meninggalkanmu beberapa hari untuk menjalankan proyek ini." Ujar Varel selaku sang Ayah, menangkup kedua bahu putrinya itu.

"Alodi sayang. Selama ini Alodi sudah tumbuh menjadi anak yang sangat baik, sampai Ayah sama Ibu sayang banget sama Alodi. Jadi, Ibu berharap Alodi bisa menunggu Ibu sama Ayah sampai pulang lagi, menjemput Alodi, ya? Alodi, bisa kan jadi anak baik dan penurut di sini?" Ucap Wanda disertai tanyanya, selaku sang Ibu, yang tengah mengelus hangat pipi chabi putrinya.

Kemudian anak itu mengedarkan pandangannya menatap wajah kedua orang tuanya. "Ayah sama Ibu, jangan ninggalin Alodi lama-lama ya?" Pintanya, sambil menggenggam kedua tangan orang tuanya. Membuat Varel dan Wanda mengukir senyumannya lalu memberikan sebuah peluk hangat yang erat pada Alodi, sebagai putri kecilnya yang begitu baik dan penurut.

"Ambu, kami titip Alodi." Ucap Wanda, menyerahkan putrinya pada seorang wanita paruh baya dengan sebutan Ambu. Kemudian bergegas masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Alodi di sana, tak lupa Alodi melambaikan tangan kanannya kepada orang tuanya, diserati tangan kiri yang masih menggenggam permen kapas, yang dibelikan oleh Wanda.

Sesuai permintaan dari kedua orang tuanya, hari itu Alodi benar menjadi anak yang baik dan penurut, walaupun sebuah rasa kesedihan telah memenuhi isi hatinya. Namun, Alodi akan tetap tegar dengan rasa sabarnya perihal menunggu orang tuanya yang akan datang menjemputnya kembali. Sebetulnya, Alodi bisa saja merengek tidak mau ditinggalkan dan dititipkan di sini, akan tetapi Alodi tidak ingin melakukan hal demikian karena ia begitu menyayangi juga percaya kepada orang tuanya.

"Nak, Alodi?" Panggil wanita paruh baya itu datang menghampirinya, membuat anak itu mengalihkan pandangannya kepada seseorang yang telah memanggil namanya.

"Ayo, masuk." Pinta Ambu, dengan senyuman hangatnya yang begitu terlihat teduh, Alodi sudah bisa mengeluarkan sebuah perkiraannya, bahwa Ambu adalah orang yang baik dan penyayang.

Saat masuk ke dalam rumah tersebut, Alodi membinarkan matanya dengan suasana kehangatan rumah yang sangat luas dipenuhi hiasan tua juga terdapat banyaknya barang-barang antik tersimpan di sana, ia juga melihat sebuah papan kecil dengan ukiran kayu yang begitu indah. Tertulis panti asuhan, membuat Alodi terasa heran namun ia abaikan, kemudian ia mengedarkan pandangannya kembali pada tiga sosok orang anak yang terlihat seumuran dengannya itu, dua anak laki-laki dan satu anak perempuan.

Sedari tadi, mereka terus saja memberikan sebuah senyum hangat pada Alodi, namun dengan wajah yang pucat pasi juga mata yang begitu sayu, seolah terkena dan menderita sebuah penyakit pada masing-masing tubuhnya, mereka begitu terlihat lesu namun masih memancarkan semangat hidup yang diperlihatkannya pada Alodi. Dengan senyuman yang terukir hangat dan tulus juga sikap mereka yang begitu ramahnya saat menyambut Alodi datang ke rumah ini.

gimana nih gengs plolognya? 😼😼

BEAUTIFUL ASSASSIN [PENSI]Stories to obsess over. Discover now