Situasi semakin mendesak di surabaya, pasukan Sekutu tak henti-hentinya mendarat dengan berbagai alat tempurnya. Sedangkan pasokan senjata para pejuang dan TKR semakin menipis.
Hanya tinggal menghitung waktu sampai pertahanan Surabaya jebol dan dikuasai oleh Sekutu.
Di tenda daruratnya, Lettu Ambarjaya segera menuliskan surat perintah darurat untuk TKR yang ada di Malang.
Seorang prajurit mendadak masuk ke tenda, "Letnan situasi semakin tak terkendali, para pejuang menunggu perintah anda."
"Tunggu Sebentar!" teriak Ambarjaya.
Dengan terburu-buru ia segera melipat surat itu dan memberikannya kepada seekor merpati yang dengan tenang menunggu di jendela.
"Panjer ini untuk saudara-saudara yang ada di Malang, saya percaya sama kamu tapi tetap hati-hati ya," Ambarjaya membelai merpati itu.
"Siap Komandan, percayakan pada saya," ucap Panjer penuh semangat.
Mendengar Panjer berdekut Ambarjaya tersenyum tipis. Ia segera membantu menerbangkan Panjer dan melambaikan tangan kepada merpati andalan TKR itu.
Dengan penuh semangat Panjer mengudara di atas Kota Surabaya. Suasana langit yang dipenuhi kepulan asap membuat Panjer sulit untuk bernavigasi keluar Surabaya.
"Sialan asap-asap ini sangat mengganggu," gerutu Panjer.
Panjer berusaha mencari jalur alternatif untuk menghindari kepulan asap tersebut. Namun dengan keadaan Surabaya yang terbakar hebat sangat mustahil untuk menghindari asap-asap.
Panjer tak menyerah, dengan menggunakan firasatnya ia memutuskan menembus kepulan asap dengan percaya diri. Perlahan asap-asap hitam itu menghilang dan pemandangan langit biru mulai menyambut Panjer.
"Ahh akhirnya selesai juga," ucap Panjer lega.
Ia menoleh ke belakang melihat lautan api yang semakin menyebar ke penjuru kota. Tak ada yang bisa dilakukan, Surabaya benar-benar jatuh ke tangan Sekutu.
"Maaf Komandan bantuan akan segera datang," gumam Panjer.
Panjer sudah sering di letakkan pada situasi genting seperti ini, ia adalah salah satu merpati terbaik yang dimiliki TKR. Maka dari itu ia tak pernah dan tak akan membiarkan dirinya gagal dalam setiap misi yang diberikan.
Dari ketinggian nampak sekelompok serdadu tengah berbaris menjauh dari Kota Surabaya. Panjer yang mendeteksi barisan serdadu tersebut merasa tak percaya.
"Tunggu bagaimana bisa mereka sudah keluar dari Surabaya, lebih baik kupastikan," Panjer merendahkan ketinggian.
Dari ketinggian yang lebih rendah terlihat jelas mereka benar-benar serdadu Sekutu. Jumlah mereka setidaknya cukup untuk mengepung sebuah kota, ditambah peralatan yang mereka bawa cukup lengkap.
"Ini mustahil, aku harus bergerak cepat," Panjer menambah kecepatan.
Dor! Dor! Dor!
Tiba-tiba timah panas mulai menghujani Panjer, beruntung dengan cepat ia segera menghindar.
"Astaga! Bagaimana mungkin mereka mencurigai seekor merpati," ucap Panjer panik.
Dor! Dor! Dor!
Rentetan senjata itu tak henti-hentinya menyerbu Panjer, mungkin tas kecil yang Panjer gunakan membuat serdadu Sekutu mencurigainya sebagai merpati pengantar pesan.
"Arghh merepotkan," gerutu Panjer.
Sekuat tenaga ia berusaha terbang lebih tinggi agar tak terlihat oleh musuh. Namun sayang sebuah timah panas akhirnya menembus sayap kanan panjer.
YOU ARE READING
Terbang Tinggi
Short StoryDi tengah sibuknya perlawanan para pejuang, merpati itu tak henti-hentinya mengirimkan kabar dari Surabaya ke Malang. Perannya memang tak besar, hanya sebagai pengirim surat saja. Tetapi jika bukan karena dirinya mungkin Kota Malang sudah menjadi ab...
