Vortex, geng motor legendaris dari SMA Mandala yang berdiri sejak 1992, adalah salah satu yang paling disegani di komunitas geng motor. Dengan total anggota sebanyak 250 orang, terdiri dari 247 laki-laki dan 3 perempuan, Vortex memiliki keunikan tersendiri karena termasuk sedikit geng motor yang menerima anggota perempuan. Meskipun pendirinya dan sebagian besar anggotanya berasal dari SMA Mandala, Vortex juga memiliki beberapa anggota dari sekolah lain. Di dalam kelompok ini, tidak ada perbedaan antara gender dan almamater; setiap anggota setara.
Kejayaan Vortex tidak dapat terwujud tanpa sosok seorang ketua. Arselio Oliveira Mahatama, ketua Vortex dari generasi ke-32 yang disegani dan ditakuti oleh banyak orang baik dari siswa sekolah sampai komunitas geng motor lain. Pembawaannya yang tegas dan berwibawa membuatnya dipercaya menjadi ketua. Sifatnya tegas, dingin, dan tak tersentuh dipadukan dengan wajahnya yang tampan, alis tebal, mata setajam elang, hidung mancung, dan bibir tipisnya membuatnya ia disukai oleh semua orang terutama perempuan. Selain itu, sudah menjadi rahasia umum bahwa pesonanya menarik perhatian lelaki juga. Arselio adalah manusia yang tak suka bertele-tele, selalu berjuang untuk apa yang ia yakini sebagai kebenaran.
────── ⋆⋅☆⋅⋆ ──────
Di sebuah ruangan luas bernuansa hitam-putih, tepatnya di basecamp Vortex terdapat beberapa pemuda yang sedang bersantai. Ada yang sedang merokok di pojok ruangan, bermain UNO di lantai berlapis karpet, bermain PS5, ngobrol di mini bar, dsb.
"Eh, besok kan udah masuk sekolah. Kita jadi rekrut anggota baru kaga?" Fatih—wakil ketua Vortex—yang sedang duduk di sofa, memulai percakapan.
"Menurut lo semua gimana?" Arsel, yang sebelumnya menatap layar ponselnya, kini menyapu pandangannya ke seluruh anggota yang ada di ruangan, meminta pendapat mereka.
"Adain aja, Sel. Kita butuh lebih banyak orang," kata Gavin, salah satu inti Vortex, sambil melemparkan kartu UNO-nya. "Gue denger geng onoh udah mulai rekrut besar-besaran, otomatis kita bakal kalah jumlah," lanjutnya.
"Haaahhh serius lu, Vin?" Orion yang menjadi salah satu lawan main kartu UNO Gavin kini menatapnya terkejut.
"Iye, tanya aja tuh ama si Dimas. Dia denger dari sohibnya. Oi, Dim, jelasin!"
Cowok yang sedang merokok di sofa pojok ruangan bersama beberapa anggota lainnya menatap ke arah dua pemuda yang membicarakannya.
"Bener. Gue denger dari Revan anggota Kabuki. Waktu dia nongkrong di warkop deket wilayah Alzarus, dia denger dari beberapa orang yang ngegosip kalo Alzarus bakal nambahin anggotanya secara besar-besaran. Bahkan nih ya mereka bela-belain ngadainnya tiga kali dalam setahun," timpal Dimas kemudian menghisap rokoknya dalam-dalam sebelum menghembuskannya perlahan.
Vegas—inti dan kulkas berjalannya Vortex—yang sejak tadi duduk di mini bar dan mendengar pembicaraan itu menaikkan satu alisnya. "Kenapa sampe segitunya?"
"Bro, mereka tuh ngebet banget pengen ngalahin kita. Kualitas nggak bisa ngejar ya mereka ngakalin pake kuantitas. Kata gue sih mending kita juga rekrut mah, meskipun dalam pertarungan kita jauh di atas mereka tapi kalo kalah jumlah ya ujung-ujungnya tumbang juga," jawab Hiro sembari melempar satu kartu UNO terakhirnya. "YES, GUE MENANG!! WOOO!!" ia bersorak mengangkat kedua tangannya di udara.
"Ah, hoki doang lo!" sungut Dewa, melemparkan satu kartu dari sisa tiga kartunya ke tumpukan kartu lainnya dengan kesal.
"Yeeee bangke! Gue dari tadi main juga muter otak jingan," Hiro menoyor kepala Dewa dengan pelan.
Pemain kartu UNO tersisa empat orang. Mereka mulai serius kali ini, bertekad untuk tidak menjadi pemain terakhir yang masih memegang kartu.
"Lo semua yakin? Udah ada empat anggota gen 33 yang dikeluarin karena ketahuan berkhianat tahun lalu, padahal itu cuma selang tiga bulan setelah peresmian anggota baru. Sekarang mau rekrut lagi? Bukan apa-apa nih, tapi kali ini takut bakal ada yang berkhianat lagi. Bang Rando kan juga pernah bilang, kalo nggak rekrut tiap tahun nggak masalah asal seluruh anggota setia dan kompak," timpal Radit tanpa mengalihkan pandangan dari televisi yang menampilkan game FIFA 2023.
Anggota gen 33 yang mendengar itu hanya menduduk. Memang benar, di gen mereka sudah ada empat orang yang dikeluarkan karena ketahuan membocorkan informasi Vortex ke geng musuh.
Meskipun bukan salah mereka tapi mereka merasa ikut bertanggung jawab dalam merangkul sesama generasi. Mereka berpikir, seandainya mereka menyadarinya lebih awal maka damage yang ditimbulkan tidak akan sebesar ini.
Akibat dari kebocoran informasi tersebut, dalam sebulan saja sudah ada 30 anggota Vortex yang terluka. Ada yang dikeroyok, disabotase saat racing, dicegat di tengah jalan, dan disandera.
Masa-masa tersebut merupakan salah satu periode tersulit bagi Vortex. Setiap hari, mereka harus waspada terhadap serangan mendadak. Selain itu, penjagaan di basecamp juga diperketat dengan menambahkan anggota yang menginap di sana.
Sedikit informasi, awal ketahuannya datang dari kecurigaan Hiro dan Zavian. Arsel melimpahkan tanggung jawab penuh kepada kedua anggota inti tersebut untuk mengatur jadwal jaga basecamp bergiliran.
Bagi anggota yang terjadwal untuk jaga tetapi berhalangan hadir, diwajibkan untuk mengajukan izin kepada Hiro dan Zavian dengan alasan yang jelas. Namun, keempat anggota gen 33 tersebut sudah sering absen dari tugas jaga dengan berbagai alasan. Ada yang mengklaim sibuk dengan pekerjaan sampingan, menjaga adik, menjaga nenek, dan alasan-alasan lain yang kurang masuk akal.
Zavian telah menawarkan untuk menggeser jadwal mereka ke hari lain, tetapi mereka tetap menolak. Hal ini semakin memperkuat kecurigaan Zavian dan Hiro.
"Ya terus gimana, Dit? Lo tau sendiri Alzarus tuh licik banget. Mereka tawuran ama kita aja seringnya pake bekingan geng lain. Ga usah jauh-jauh, tawuran sebulan yang lalu aja sampe ngajak geng luar kota. Untung waktu itu semua anggota kita pada on time datengnya jadi masih bisa menang. Asu banget dah!" kata Gavin dengan nada sedikit kesal.
Tawuran sebulan lalu di tanah terbengkalai terputar di otak Gavin. Saat itu, ia dikeroyok 7 orang yang mengakibatkan wajahnya lebam dan tangan serta kakinya terkilir sehingga ia harus istirahat selama beberapa di rumah. Mengingatnya kembali membuat amarahnya tersulut.
"Gimana, Sel?" Fatih bertanya sembari menoleh ke orang di sampingnya.
Arsel menyesap whiskey-nya sebelum berujar "Gue paham kekhawatiran lo, Dit. Bohong kalo gue nggak khawatir. Tapi itu emang risikonya; semakin banyak anggota, semakin berisiko. Tapi kita jangan sampe ngambil risiko ngebiarin Vortex kekurangan anggota dan malah dikalahin. Mau sekuat dan sejago apa pun kita adu jotos, kita bakal tetep kalah kalo jumlah anggota kurang."
"Nando, gue minta lo bikin pengumuman perekrutan anggota. Ga usah yang estetik, yang simpel aja. Jangan lupa tambahin logo Vortex juga. Langsung tempel di mading pas hari terakhir MPLS," perintah Arsel kepada cowok berambut ikal itu.
"Siap, bos! Serahin semuanya sama gue," seru Nando sambil menepuk dadanya dengan kepalan tangan kanan dan memasang ekspresi congak.
Hmmm, mari kita lihat potensi calon wajah baru Vortex, pikir Arsel dengan seringainya.
────── ⋆⋅☆⋅⋆ ──────
TBC
Yap, setelah menjadi readers selama 8 tahun gue putusin buat publish cerita. Sorry kalo cringe dan banyak typo.
Jangan lupa vote dan kalo bisa comment juga ✨ ✨ ✨
YOU ARE READING
ARSELASKA
RomanceKisah Arselio, sang ketua Vortex dan Alaska, anggota Vortex yang mencintainya. Hubungan senior-junior yang awalnya didasari solidaritas, kesetiakawanan, dan saling menghormati antar sesama anggota dalam kelompok kini telah tumbuh menjadi benih-benih...
